Perjuanganku dari Kaum Rebahan Sampai Kuliah di UGM

Featured

Afid Baroroh

Mau share pengalaman rebahan sampai bisa kuliah di UGM. Semua ini dimulai dari pertanyaan tolol, “UGM? rumah sakit mana itu bu?” kataku ke guru BK.

Oke pengalaman singkat ini untuk kawan-kawan angkatan putih abu, remaja tanggung, yang bangga akan kesia-siaan. Wkwk salam. Semangat, UTBK menanti kalian di depan.

Latar belakang keluarga gua, nggak kaya, bodoh sudah pernah kami lalui bersama. Kebodohan itu justru menular di saat masuk di bangku kelas 12 Bahasa.

Foto rebahan yang ada ini adalam foto di mana guru bahasa Jerman tiba-tiba dateng. Temen-temen langsung pada sibuk bangunin aku yang lagi enjoy rebahan. Seperti biasa, langsung diamuk. Temen-temen yang lain cuma ketawa. Babibu dikit meluapkan emosi. Aku cuma kucek-kucek mata. Sambil nguap. Perang dingin dimulai.

“Okeeeyy hari ini ibu mau mastiin. Siapa di sini yang mau lanjut kuliah di PTN.” kata guruku.

Dari 30-an anak yang mengacungkan tangan cuma 3 orang yang tidak. Termasuk aku. Dua temanku langsung diburu pertanyaan. Dan mereka punya alasan tepat. “Saya milih kerja aja bu. Ngikutin bapak, di pabrik.” Mantap. Satu orang paling pinter ditanya. “Kamu mau ke PTN mana?” kata guruku.

“UI BU..” kata kawanku yg pinter banget.

Mantap

“Lah kamu kenapa gak ngacungin tangan?” tegur guruku.

“Saya bu?”

“Siapa lagi, kan ibu nunjuk kamu.”

“Enggak bu. Saya punya 3 adek yang harus saya sekolahkan. Harusnya ibu kasih saya 3 pilihan perusahaan yang udah kerja sama dengan sekolah, pasti saya pilih. Nikomas, indahkiat atau apalah gitu bu.” Pembelaanku.

Semua anak di kelas fokus ke aku. Sambil cengengesan. Tapi guruku geram. “Orang macem kamu itu cuma cocok jadi tukang tambal ban, kenek angkot, atau jadi gelandangan,” katanya. Aiissssshhhh rasaaaanyaaaa…

Aku tahu, selama sekolah aku gak pernah dapet peringkat. Gak pernah sama sekali menikmati bimbel. Sering banget keluar masuk BK. Tapi, kenapa nasib seseorang selalu ditentukan dari mulut-mulut mereka yang merasa pintar? Aku menunduk menuliskan sesuatu di kertas: ANJ******NGGG!! Tak cukup sampai di situ, beliau mulai ngecaprak ke mana-mana. Memaksaku untuk mengakui kebodohanku. Aku terima.

Ya apalah aku yang suka rebahan, sambil kerokan.

Image

Apalagi suka lompat-lompat gak jelas cuma buat nyentuh atap. Sia-sia banget. Wkwk

Image

Hampir setiap hari sejak kelas 2 SMA. Aku selalu bawa 30 bungkus nasi uduk emakku, 10 kujual di kelas, 20 aku titipkan ke kantin. Untung, dipake buat kebutuhan sekolah, beli kaos kaki biar gak diiket karet, atau ngasih adekku jajan. Aku start dari jam 4 subuh, bantu ibu. Sampe aku terpaksa masuk BK. Ditegur karena ketahuan dagang. “Sekolah tempat belajar. Bukan usaha.”

“Iya bu”
“Iya bu”
“Iya bu”

Udah paling aman tuh.

Tapi semua itu bukan jadi alasan. Satu-satunya yang membuatku menelan rasa pahit adalah, jika semua orang punya mimpi yang besar, kenapa orang sepertiku hanya pantas menjadi 3 hal yang tadi disebutkan? Kenapa orang miskin akan selalu dianggap miskin? Kenapa orang bodoh di matematika akan dipandang suram masa depannya? Kenapa cuma mereka yang berhak menentukan nasib kita?

Hal yang pertama kulakukan setelah mendengar si guru ngomong kayak gitu adalah menghitung seberapa sia-sianya aku di sekolah.

8 jam aku disekolah. Perhari 3/4 mapel. Dari 1 mapel, fokus belajarku rata2 berpa menit? Cuma 15 menit anjir dikali 4 mapel = 60 menit doang. 1 hari belajar cuma 1 jam. Sisanya rebahan, ghibah, ketawa, ngeluh, masuk bk, ngelamun, mikir yg gak penting. Setan 🙁

Sudah. Sudah tau dimana titik lemahmu? “Udah tolol.” kataku haha kesel amat sama diri sendiri.

Kebayang gak? Jika satu hari mendapat 2 rumus matematika, dari 1 rumus kamu berusaha untuk fokus tapi gagal gara-gara temen sebangkumu kentut, uapnya langsung ditempel ke idung? Hahaha temen bajingan memang. Gagal fokus!!

Dua hari kemudian ketambahan rumus baru, dan kamu masih belum mengerti 2 rumus sebelumnya. Ketika kamu bertanya? Guru lebih asik ngeladenin orang-orang pinter dikelas. Hassshhhh.

Bagi sebagian orang yang punya pripilej pripilej mewah itu, bakal bimbel dengan harga minimal 2 sampai 10 juta. Bangsat. Ibuku dagang uduk keliling, penghasilan sebulan 1 juta. Bapakku montir, penghasilan 2,5 juta. Total dibagi untuk 6 orang dalam satu atap, mana cukup buat bimbel.

Tapi sekali lagi, ini bukan jadi alasanku untuk menjadikan kemiskinan sebagai alasan. Aku diem-diem cari cara buat belajar. Aku dekati temen-temen ipa. Responsnya? Mereka semua menjauh. Takut ketulalaran ini itu segala macaem. Ke anak IPS, malah diketawain.

Baca Juga:  Mengurutkan 5 Kopi Botol Kemasan Terenak yang Ada di Minimarket

Nasibku sedang dipertaruhkan. Aku diem-diem nyulik kawan ipa, yang gak pernah tau sebelumnya siapa. Aku ancam dia buat ajarin aku matematika. Kasih tau aku tentang SBMPTN, materi-materinya. Alhamdulillah, dia bersedia. Tapi baru 2 hari belajar udah mual aja. Wkwkwkwk bangsat. Tidak tidak. Jangan nyerah.

Di saat semua orang menjatuhkanmu, cuma kamu yang mampu membuat dirimu bangkit. Disaat semua orang punya mimpi yang besar, gak semua orang berani berjuang dengan sesuatu yang lebih besar. Ingat. MEREKA HANYA AKAN TERLELAP DALAM MIMPI YANG PANJANG.

Aku mulai paksakan diriku untuk belajar rutin. Menambal waktu yang pernah sia-sia. Di saat kawanku mendapat modul belajar dari bimbelnya, aku ikut belajar. Pokoknya, semangat!! Kurangi pacaran, mabuk dan cinta satu malam. Fokusmu adalah lulus UN. Kalau nilai bagus, bisa masuk pabrik, nabung dan kuliah.

Untungnya kawanku dengan baik hati mengenalkanku dengan materi-materi SBMPTN yang njelimet gak karuan. Tetep saja aku paksakan. Dia bilang, “Di dunia ini gak ada orang yang bodoh. Gua percaya lu.” Anjiirrr kata2 bijak pertama kali kudengar di antara makian bocah SMA cuma dia doang. Masa-masa perjuangan itu gak akan pernah kulupakan. Tapi nasib yang tolol juga ada di depan. Tepatnya di ruang BK.

“Loh apa salah saya bu? Saya gak ngerokok. Gak bolos juga. Kenapa saya dipanggil?” tukasku.

“Sini duduk dulu. Masukin itu bajunya. Kamu ini. Mana udah rusak lagi seragammu. Sini,” kata guru BK. Aku lipet aja tuh kan baju. Gak aku masukin hahaha. Aku duduk.

“Ya maaf bu.”

“Gini Afid. Kamu mau kuliah di mana?”

Wadooohh dalam hati. Pertanyaan apa ini. “Gak pengen kuliah bu. Gak ngerti.”

“Loh kamu harus pilih 2 kampus, 2 jurusan. Kamu mau kuliah dimana?” tegasnya.

“Gak tau bu. Gak ngerti. Paling deket ya di sini. Kampus apa tuh yaa…”

“Bukan masalah paling deketnya. Kamu gak minat apa ke UGM gitu misalnya?”

“UGM? Rumah sakit mana itu bu? UGD mah saya juga tau. Gak mau ah…” Mereka semua ketawa. Aku yang bingung :(((((

“UGM itu Universitas Gadjah Mada Afiiiiddd…”

“Kampus itu bu?”

“Iya. Kampus terbaik se Indonesiaaaaaahhhh.” kesel banget guru BK ku.

“Di mana tuh?”

“JOGJAAAAA!?!?!!”

“OH”

“YA JADI MAU KULIAH DI MANA!?!” guru BK ku ngegas lagi :((((

“Yaudah terserah ibu.”

“Loh kan kamu yang kuliah.”

“Iya. Kan ibu yang milih. Lagian juga belum tentu bapak setuju.”

Hmmm 3 guru BK geleng-geleng, ditambah wali kelasku.

“Gini Afid. Dengerin ibu.”

“Iya bu.”

“Iya bu mulu. Dengerin.”

“Iya.”

Narik nafas. “Kamu terpilih sebagai siswa terbaik di sekolah.”

“Apaaaaaaannn neeehh” kaget anjeng wkwkwkwwk

“Dengerin. Kamu pringkat ke 20 dari 20 siswa terbaik. Kamu mengalahkan 300an siswa yang lainnya untuk berada di posisi ke 20. Kamu harus ikut SNMPTN. Jadi kamu harus masuk UGM.”

“MANA ADA SIH BU?!”

“Tuh liat pengumumannya.” Ternyata bener. Wkwkwk gak nyangka. Peringkat ajaib. Aku langsung manggil kawan baikku. Pilihan pertama sudah dipilih guruku. Pilihan kedua kawanku. Dia langsung bilang, “UB!!”

WADUHH KAMPUS MANA LAGI ITU :((

“Yaudah ngikut!!” Hahaha gak jelas bat pilihan hidupku.

“Bu kalau nanti sewaktu keterima, tapi bapak gak ngizinin, saya batal ya. Saya mau kerja.” kataku sambil menahan harap.

“Udah tenang biar ibu yang ngurus.”

Seberes dari situ, aku langsung ditarik my best pren. “Udah jangan takut. Besok ada TO SBMPTN. ikut ya.”

“Bayar?”

“Iya.”

“Gak ada duit.”

“Udah tenang aja.”

“Bentar moga besok udukku laku.”

Sobatku mengajarkan aku tidak berharap di SNMPTN. Tapi terus berjuang di SBMPTN. Ok deal. Singkat cerita dari proses rebahan yang paling berat adalah bangun dari mimpi yang panjang. Dan kami terus berjuang.

Saat wisudaan tiba. Bapak jatuh sakit. Terpaksa cuma ibu yang menemani, dengan pakaian yang biasa banget dan kami dateng telat. Duduk paling belakang.

Dua jam kami duduk dengan gelisah. Emakku lebih parah lagi. Berkali-kali minta pulang, “kasian bapak gak ada yang jaga.” Oke akhirnya aku putuskan untuk pulang.

Baca Juga:  Teruntuk Kaum Rebahan, Mari Kita Hilangkan Mental 'Ah Gampang, Bisa Diatur'

Baru aja 3 langkah bangkit dari tempat duduk. Kepala sekolah mengumumkan. Emakku jalan perlahan. Aku dibelakang.

“Selamat anada Afid Baroroh telah diterima di Universitas Gadjah Mada. Kepadanya diharap maju ke depan.” Anjjj***ngg. Semua orang teriak. Maki-maki aku. Heran, ketawa, sedih, dan tepuk tangan yang amat sangat meriah. Aku? Cengengesan. Emakku malah diem gak ngerti apa-apa. Haha

Di sana aku melihat junior-junior bangsatku memberi senyuman, kawnanan IPS langsung bangkit, “Biadab lu monyet?!” Sedangkan teman-teman IPA, cuma geleng-geleng. Rasanya aku ingin berkata: “KONTHAAAAALLL LU SEMUAAAA!! HAHAHA”

Aku langsung sujud di kaki emakku. Aku cium tangannya, aku peluk erat. Aku nangis, bangsaaaatt :((( Lemah banget aku. Aku jalan perlahan berjabat tangan dan memeluk ijazahku. Aku cium tangan guru yang pernah membuatku jatuh, aku berkata, “Maafin saya bu. Kalau pernah menjadi murid yang menyebalkan. Kalau suatu hari nanti adek tingkat saya melakukan hal yang sama seperti saya, mohon jangan dibunuh mimpinya. Maafkan saya. Terima kasih bu…” aku mencium tangannya. Meminta maaf dengan tulus.

Aku langsung ngajak emakku pulang. Sesampainya di rumah. Aku cium tangan bapakku.

“Bapak cepet sembuh, Aa keterima di UGM. Bapak harus nganter Aa ke UGM.” Bapak masih saja memejam. Di saat yang bersamaan emak ngajak aku ngobrol dan bertanya.

“Aa ikut kuliah?”

“Iya Mah.”

“Kenapa gak bilang sama mama, bapak?” Aku cuma diem. Nunduk.

“Aa tau kan, bapak lagi sakit. Butuh biaya gede. Adek-adek kamu juga butuh biaya sekolah.”

“Iya mah Aa tau. Maafin Aa.” Aku gak kuat, rasanya pengen nangis waktu itu.

“Iyaa. Aa batalin kuliah. Yang penting bapak sembuh dulu. Adek-adek bisa sekolah.” Keputusan itu udah bulat. Aku langsung tarik gas motor ke sekolah. Aku mau minta batalin aja. Aku jalan sambil nangis. Haru biruuuu. Tenang. Lu kuat. Lu pasti bisa ngelewatin semuanya. Hal yang paling berat setelah berjuang adalah mengikhlaskan. Aku bilang ke guru BK. “Bu, emakku gak setuju. Maaf, aku batalin.”

“Loh kenapa?”

Aku gak peduli pertanyaan guru BK. Aku kabor dari rumah. Bertemu dengan kawan-kawan gelandangan, mayoritas anak punk, kenek angkot. Aku ngopi di sana. Aku cerita.

Di terminal bus, mereka justru lebih care. Mereka gak tau yang namanya kampus. Yang mereka tau, aku lagi dalam kondisi jatuh sejatuh-jatuhnya. Mereka bilang, “Tenang, pasti ada jalan”. Aku tau itu basa basi. Mereka pun pasti gak tau jalan apa yg bakal aku pilih lagi. Tapi aku percaya

Hampir satu minggu aku kabur dari rumah. Aku memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah… Emak bapakku langsung meluk aku. “Maafin mamah A.” katanya sambil menangis. Kulihat bapak juga sudah sehat. “Gak apa mah. Udah nanti Aa langsung lamar kerja yah. Mamah yang semangat!! Ok?”

“Kemaren-kemaren pas mamah keliling, mamah dimarahin sama tetangga. Katanya UGM itu kampus terbaik. Susah masuknya. Kan mamah gak tau juga apa itu UGM. Terus guru Aa ke rumah ngejelasin kampusnya, katanya Aa dapet beasiswa juga. Maafin mamah.” Hhhhhh Tuhaaaann, kenapa lu ngebuat hambamu cengengg siiiihhhh :((

Alhamdulillah momen bahagia kembali kami dapatkan. Bapakku jadi semakin semangat kerja. Emakku 2 kali lipat buat dagangan lebih banyak. Dan aku sibuk jadi kenek angkot buat. Semuanya buat ongkos ke Jogja.

Ketika hari itu tiba di jogja. Bapak dan ibuku bilang. “Ini kampus apa perumahan? Salah masuk kali yaa.” Wkwkwkwkwk.

Sekian dari kisah tololku sluurr. Believe sama kemampuan kita. Tenang, usaha akan ngebayar semua bacotan mereka. Hahahaha.

Buat temen-temen yang akan berjuang di UTBK inget tanggalnya, 20 – 26 April. Sistem penilaiannya sekarang menggunakan IRT (Item Respons Theory). Kuncinya, soal sulit wajib banget dijawab, soal mudah harus teliti.

Sekarang aku bekerja sebagai penulisa dan konsultan pendidikan. Kalau mau sharing silakan bertegur sapa. Aku berharap sangat besar pada semangat kalian. Selamat berjuang kawan-kawan. 😇😇

BACA JUGA Kata Siapa Kuliah di ITB itu Keren? atau tulisan Afid Baroroh lainnya. Follow twitter Afid Baroroh.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
246


Komentar

Comments are closed.