Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Margonda Depok, Medan Tempur Semua Orang: Trotoar Jadi Parkiran, Jalan Jadi Lautan Macet

Ahmad Zakir Haidar oleh Ahmad Zakir Haidar
31 Januari 2025
A A
Margonda Depok Medan Tempur Semua Orang: Trotoar Jadi Parkiran, Jalan Jadi Lautan Macet

Margonda Depok Medan Tempur Semua Orang: Trotoar Jadi Parkiran, Jalan Jadi Lautan Macet (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau kalian sering wara-wiri di Margonda Depok, kalian pasti menyadari ada satu hal yang menyebalkan di sini. Apa lagi kalau bukan trotoarnya lebih mirip lahan parkir motor ketimbang jalur buat pejalan kaki. Ironisnya, jalan yang seharusnya digunakan untuk kendaraan malah jadi ajang festival macet yang makin hari makin brutal.

Sebagai wrga Depok, saya sudah capek melihat trotoar di Margonda yang penuh dengan motor yang parkir sembarangan. Seharusnya, trotoar itu haknya pejalan kaki, tapi realitanya trotoar malah jadi zona parkir dadakan. Pejalan kaki yang seharusnya bisa jalan dengan nyaman malah harus turun ke jalan, berebut ruang dengan mobil dan motor. Ini bukan cuma soal kenyamanan, tapi juga soal keselamatan.

Trotoar atau parkiran?

Trotoar di sepanjang Margonda Depok seakan kehilangan identitas aslinya. Di beberapa titik, terutama di depan ruko-ruko dan minimarket, trotoarnya penuh dengan motor. Sering kali saya melihat orang-orang yang niatnya mau jalan kaki terpaksa berjalan zig-zag menghindari motor yang parkir. Lebih menyebalkannya lagi, banyak pemilik motor yang parkir di atas trotoar seakan-akan itu hal yang biasa, tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Padahal menurut UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, trotoar adalah hak pejalan kaki. Motor yang parkir sembarangan di trotoar jelas melanggar aturan. Sayangnya, penegakan aturan ini masih lemah. Nyaris nggak ada tindakan tegas buat motor-motor yang parkir liar di trotoar. Bahkan beberapa kali saya melihat petugas Dishub cuek saja, seolah ini hal yang bisa dimaklumi.

Margonda Depok dan kemacetan yang semakin brutal

Selain masalah trotoar, satu lagi PR besar Margonda Depok adalah kemacetan yang semakin nggaka masuk akal. Kalian mungkin berpikir, wajar saja macet namanya juga jalan utama di kota besar. Tapi masalahnya, seperti nggak pernah ada upaya serius buat mengurangi kemacetan Margonda.

Setiap jam sibuk, entah pagi ataupun sore hari, Margonda berubah menjadi lautan kendaraan yang nggak bergerak. Faktor penyebabnya? Banyak. Mulai dari volume kendaraan yang makin menggila, angkot yang ngetem sembarangan, ojek online yang berhenti mendadak, sampai manajemen lalu lintas yang kurang optimal. Belum lagi pembangunan apartemen dan pusat perbelanjaan di sepanjang Margonda makin menambah beban lalu lintas.

Sebenarnya, ada beberapa solusi yang bisa dicoba untuk mengurangi kemacetan di Margonda Depok ini. Pertama, tentu saja Pemkot Depok harus tegas soal parkir liar. Trotoar harus dikembalikan ke fungsinya sebagai jalur pejalan kaki. Pemkot harus bisa lebih tegas menindak parkir liar. Bukan cuma motor lho yang parkir sembarangan, mobil juga sering parkir sembarangan di pinggir jalan dan bikin lalu lintas makin sempit.

Kedua, transportasi umum harus diperbaiki. Banyak orang Depok yang masih mengandalkan kendaraan pribadi karena transportasi umum belum cukup nyaman dan efektif. Angkot yang ada sekarang masih sering ngetem dan berhenti sembarangan, sementara bus atau angkutan massal lainnya belum banyak yang bisa jadi alternatif menarik.

Baca Juga:

Derita Orang Pasar Rebo, Jauh dari Jakarta Bagian Mana pun, Malah Lebih Dekat ke Depok!

Warga Depok Habiskan Hampir 2 Juta Rupiah per Bulan Cuma buat Kerja di Kawasan Senayan, Dedikasinya Tinggi!

Ketiga, pihak Pemkot Depok perlu membuat regulasi ketat untuk pembangunan baru di Margonda. Setiap ada pembangunan baru, harus ada studi mendalam soal dampaknya ke lalu lintas. Jangan sampai apartemen dan mall baru malah bikin Margonda makin nggak karuan.

Keempat, menggalakkan budaya jalan kaki dan bersepeda. Kalau trotoar sudah bersih dari motor dan fasilitasnya lebih ramah pejalan kaki, pasti lebih banyak orang yang mau jalan kaki atau naik sepeda. Ini bisa jadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor.

Margonda harus berubah

Margonda adalah jalur utama yang sangat penting bagi mobilitas warga Depok. Kalau jalan utamanya macet parah dan trotoarnya nggak bisa dipakai, berarti ada yang salah. Pemkot harus lebih serius menata lalu lintas dan trotoar di Margonda. Masyarakat juga harus sadar serta ikut berperan, mulai dari hal kecil seperti nggak parkir sembarangan dan lebih menghargai hak pejalan kaki.

Kalau nggak ada perubahan, Margonda Depok bakal terus menjadi medan tempur buat semua orang: pejalan kaki yang tersingkir, pengendara yang stres kena macet, dan warga yang tiap hari harus menghadapi kekacauan ini tanpa solusi yang jelas. Sudah waktunya kita semua bergerak supaya Margonda bisa menjadi tempat yang lebih nyaman bagi semua orang. Semoga walikota dan wakil walikota terbaru setelah dilantik bisa menjalankan tugas sesuai visi dan misi, yakni perubahan untuk Kota Depok.

Penulis: Ahmad Zakir Haidar
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Depok Nggak Cuma Margonda, Ada Juga Cinere yang Selama ini Dianaktirikan. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 31 Januari 2025 oleh

Tags: depokmargondamargonda depok
Ahmad Zakir Haidar

Ahmad Zakir Haidar

Pejuang guru honorer

ArtikelTerkait

Sisi Gelap Sawangan, Kecamatan yang (Katanya) Lebih Maju dari Cinere di Depok

Sisi Gelap Sawangan, Kecamatan yang (Katanya) Lebih Maju dari Cinere di Depok

27 Agustus 2024
CFD Depok Belum Ideal, tapi Saya Tetap Semangat Menikmati (Unsplash)

CFD Depok Belum Ideal, bahkan Muncul Pungli, tapi Saya Tetap Semangat Menikmati

5 Mei 2025
Senja di Cikarang (Unsplash.com)

Sia-sia Meromantisasi Cikarang Seperti Bandung dan Jogja

2 Juni 2022
Tanggapan buat Netizen yang Ngeluh Prestasi Bidang Agama Tak Pernah Diliput Media terminal mojok.co

5 Bukti Universitas Gunadarma Bisa Bersaing dengan Universitas Indonesia

6 April 2020
Cinere, Kecamatan di Depok yang Vibes-nya Lebih Jaksel ketimbang Depok kerja di jakarta

Cinere, Kecamatan di Depok yang Vibes-nya Lebih Jaksel ketimbang Depok

21 Juli 2024
Depok, Kecamatan di Sleman yang Paling Red Flag di Mata Orang Bantul Mojok.co

Depok, Kecamatan di Sleman yang Paling Red Flag di Mata Orang Bantul

11 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit Mojok.co

Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit

27 April 2026
Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama Mojok.co

Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama

29 April 2026
Kebumen Itu Cantiknya Keterlaluan, tapi Nggak Bisa Jual Diri (Unsplash)

Kebumen, Kabupaten yang Cantiknya Keterlaluan tapi Nggak Bisa Menjual Dirinya Sendiri

27 April 2026
Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

27 April 2026
Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Jadi Bahan untuk Dipamerkan Mojok.co

Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Bahan untuk Dipamerkan

28 April 2026
3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung, Iri kepada Kota Bandung Mojok.co

3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung Iri pada Kota Bandung

27 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 
  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya
  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet
  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.