Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Nasib Pejalan Kaki di Malang Menyedihkan Gara-gara Trotoar “Dirampok” PKL dan Tukang Parkir: Pilihannya Hanya Loncat atau Nunggu Ditabrak

Ayu Lestari Sipayung oleh Ayu Lestari Sipayung
26 November 2024
A A
Nasib Pejalan Kaki di Malang Menyedihkan Gara-gara Trotoar "Dirampok" PKL dan Tukang Parkir: Pilihannya Hanya Loncat atau Nunggu Ditabrak

Nasib Pejalan Kaki di Malang Menyedihkan Gara-gara Trotoar "Dirampok" PKL dan Tukang Parkir: Pilihannya Hanya Loncat atau Nunggu Ditabrak

Share on FacebookShare on Twitter

Di Malang, trotoar bukan lagi tempat pejalan kaki. Motor parkir seenaknya, pedagang menguasai jalan. Mau lewat? Kalau nggak tabrak motor, ya loncat ke jalan raya. Ini bukan kota, ini arena pertarungan!

Di Malang, berjalan kaki di trotoar itu bukan lagi aktivitas santai, tapi lebih ke ujian mental. Trotoarnya penuh motor parkir seenaknya, pedagang yang ngotot buka lapak, dan segala macam barang yang jelas-jelas bikin kita nggak bisa jalan dengan tenang. Kalau di trotoar itu nggak cukup sempit, kadang malah lebih aman kalau jalan di tengah jalan. Pikir aja sendiri, kalau ketabrak, siapa yang salah? Pejalan kaki atau motor yang parkir di tempat yang jelas nggak semestinya?

ADVERTISEMENT

Kalau kamu mau jalan kaki di Malang, siapin mental dan fisik. Trotoar yang sempit itu kadang berubah fungsi lebih cepat daripada kamu ganti pikiran. Hari ini jadi tempat parkir motor, besok jadi lapak pedagang. Pejalan kaki? Ya, kamu bisa coba jalan di atas awan aja. Jangan harap bisa lewat dengan nyaman.

Jujur, saya sering mikir, “Trotoar buat apa sih kalau cuma jadi tempat parkir motor dan jualan?” Kalau udah kayak gitu, pejalan kaki kayak saya terpaksa jalan di tepi jalan, berantem tempat dengan kendaraan. Ironisnya, kota ini kan katanya ramah wisatawan, tapi kenyataannya malah jadi ajang rebutan tempat.

Trotoar itu simbol kota yang katanya peduli sama warganya. Tapi di Malang, trotoar malah jadi bukti kalau pejalan kaki itu cuma warga kelas dua. Motor, gerobak, dan tumpukan sampah lebih dihargai daripada orang yang cuma pengen jalan dengan tenang.

Trotoar jadi tempat parkir, really?

Di Malang, trotoar yang seharusnya jadi ruang aman buat pejalan kaki malah berubah jadi tempat parkir motor. Kalau kamu jalan di pusat kota atau sekitar kampus, rasanya kayak lewat jalur yang nggak pernah disiapin buat pejalan kaki. Motor parkir sembarangan nguasain trotoar, dan kamu harus muter cari jalan lain. Kalau nggak, ya turun ke jalan raya, bertemu kendaraan yang lebih bahaya dari motor yang parkir sembarangan itu.

Fenomena parkir motor di trotoar ini udah nggak terhitung lagi. Hampir setiap sudut kota Malang, motor parkir di trotoar kayak tempat sampah. Di beberapa tempat, malah lebih banyak motor yang parkir di trotoar daripada pejalan kaki yang lewat. Bayangin, ini bahaya banget buat ibu hamil, lansia, atau anak-anak. Kalau bukan buat pejalan kaki, buat siapa trotoar itu dibangun?

Yang bikin makin parah, minimnya pengawasan dan penegakan hukum. Seharusnya, trotoar itu hak pejalan kaki, bukan tempat parkir motor gratis. Malang bangga dengan perkembangan kotanya, tapi kalau masalah kayak gini dibiarkan terus, sepertinya kota ini udah kehabisan akal.

Baca Juga:

Orang Jombang Malas Liburan ke Wonosalam, Lebih Memilih Plesir ke Malang

Malang Bukan Lagi Kota yang Dingin dan Asri, Kini Ia Menjelma Jadi Kota Panas dan Tak Menyenangkan

Pejalan kaki di Malang: disuruh terbang atau loncat?

Alih-alih jadi tempat aman, trotoar di Malang justru jadi arena ujian fisik. Ketika motor parkir sembarangan atau pedagang buka lapak, pejalan kaki dipaksa loncat-loncat atau bahkan lari ke jalan raya yang penuh dengan kendaraan. Padahal, mereka cuma pengin jalan kaki dengan tenang, tanpa harus ngindarin segala hal yang bikin kesal.

Ini jelas nunjukin bahwa kota ini nggak peduli sama hak pejalan kaki. Padahal, seharusnya trotoar jadi prioritas dalam pembangunan infrastruktur. Malang yang semakin padat dan berkembang mestinya bisa nyediain trotoar yang layak buat pejalan kaki, bukan malah bikin mereka harus terbang atau loncat supaya bisa sampai tujuan tanpa celaka.

Trotoar di Malang seakan jadi tanah reklamasi buat kendaraan dan pedagang. Ruang yang seharusnya jadi hak eksklusif pejalan kaki malah penuh motor parkir sembarangan dan kios-kios dagang yang ngambil alih. Bahkan, seringnya motor parkir di trotoar itu bikin pejalan kaki terpaksa turun ke jalan raya yang penuh kendaraan.

Yang lebih ngeselin, nggak ada tindakan tegas dari pemerintah atau petugas yang bisa benerin keadaan ini. Padahal, trotoar itu fasilitas publik yang harusnya buat orang yang jalan kaki, bukan untuk motor atau pedagang yang nganggap trotoar itu tempat mereka bebas berkeliaran.

Waktu terbaik adalah sekarang

Malang lagi berkembang, tapi kalau trotoar terus diabaikan, ya kota ini cuma jadi lahan buat motor dan pedagang. Sudah saatnya kita berubah, dan trotoar kembali jadi tempat yang layak buat semua orang yang mau jalan kaki dengan nyaman dan aman. Malang nggak akan maju kalau masalah kayak gini terus dibiarkan.

Kalau kita pengen kota ini ramah buat semua orang, harus ada tindakan nyata, dan itu harus dimulai dari sekarang. Pemerintah harus tegas, dan kita sebagai warga juga harus peduli. Agar Malang nggak cuma jadi kota yang keren buat wisatawan, tapi juga nyaman buat warganya yang cuma pengen jalan kaki.

Penulis: Ayu Lestari Sipayung
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Hal yang Saya Baru Ketahui Setelah Mengunjungi Malang Secara Langsung

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 November 2024 oleh

Tags: Malangpejalan kakitrotoar
Ayu Lestari Sipayung

Ayu Lestari Sipayung

Sosok tenang yang memilih 'bersuara' lewat tulisan. Gadis muda yang percaya bahwa tinta dan papan ketik adalah teman terbaik untuk menceritakan apa yang tak sanggup diucapkan lisan.

ArtikelTerkait

stasiun citayam kereta api penataran blitar mojok

Kereta Api Penataran, si Ular Besi Tua Andalan Mahasiswa Blitar Raya

16 November 2020
KA Jayabaya: Opsi Trip Malang-Surabaya yang Paling Nyaman

KA Jayabaya: Opsi Trip Malang-Surabaya yang Paling Nyaman

23 Mei 2023
Hukuman Arema FC Selesai, Emang Kapan Dihukumnya? (Pixabay)

Hukuman Arema FC Sudah Selesai, Emang Kapan Dihukumnya? Kok Tau-tau Berakhir

11 Juli 2023
Memasang Replika Lokomotif Lori Tebu di Kayutangan Malang adalah Penistaan Sejarah (Dokumen pribadi)

Lori Tebu di Kayutangan Malang Adalah Wujud Penistaan Sejarah

16 April 2023
Sleeper Bus Juragan 99 Trayek Malang Jakarta, Bus "Angkuh" yang Bikin KA Eksekutif Jadi Nggak Worth It bus malang-jakarta kereta api eksekutif

Sleeper Bus Juragan 99 Trayek Malang Jakarta, Bus “Angkuh” yang Bikin KA Eksekutif Jadi Nggak Worth It

5 Juli 2024
Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali Mojok.co

Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali

6 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha Gear Ultima 125 Terlahir untuk Pejuang Rupiah

Yamaha Gear Ultima 125 Terlahir untuk Memahami Perjuangan Pejuang Rupiah di Atas Aspal

25 Juni 2026
Pejaten Park: Mall yang Kurang Dilirik Anak Jaksel, padahal Paling Nyaman

Pejaten Park: Mall yang Kurang Dilirik Anak Jaksel, padahal Paling Nyaman

30 Juni 2026
4 Kuliner Khas Tulungagung yang Disukai Warlok, tapi Kurang Cocok di Lidah Pendatang Mojok.co

4 Kuliner Khas Tulungagung yang Disukai Warlok, tapi Kurang Cocok di Lidah Pendatang

28 Juni 2026
Sebagai Warga Jember, Saya Sudah (Amat) Muak dengan Warna Pink!

Sebagai Warga Jember, Saya Sudah (Amat) Muak dengan Warna Pink!

24 Juni 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan jakarta

Jangan Salahkan Orang Jakarta kalau Harga Makanan di Jogja Tak Ramah Warlok: Sebuah Pembelaan untuk Kaum Plat B

26 Juni 2026
4 Rekomendasi Motor Second yang Cocok untuk Mahasiswa Pertama Kali Merantau Mojok.co

4 Rekomendasi Motor Second yang Cocok untuk Mahasiswa Pertama Kali Merantau

25 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.