Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Malangnya Nasib Dokter Residen: Curahan Hati Seorang Suami

Salman Alfarisi oleh Salman Alfarisi
18 Agustus 2022
A A
Malangnya Nasib Dokter Residen- Curahan Hati Seorang Suami (Unsplash.com)

Malangnya Nasib Dokter Residen- Curahan Hati Seorang Suami (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Malang betul nasib dokter residen….

Dokter merupakan dan masih menjadi salah satu profesi yang bergengsi di mata masyarakat Indonesia. Kesan cerdas, kaya raya, dan sukses tidak bisa dipisahkan dari image profesi ini. 

ADVERTISEMENT

Sebagai seorang karyawan swasta biasa yang lemas melihat darah, saya malah tidak menyangka bisa punya istri seorang dokter. Tapi, baru sehari menikah, saya berhasil dibuat keheranan.

Dokter residen tidak bisa sembarangan cuti

Pasalnya, kami menikah pada Sabtu sore, dilanjutkan resepsi pada malam harinya. Minggu pagi, istri sudah minta izin untuk ke rumah sakit menengok pasien. Lho, kok tidak ada cutinya?

Usut punya usut, ternyata saat ini istri saya tercatat sebagai seorang mahasiswi Program Profesi Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) atau biasa disebut dokter residen. Konon kabarnya, kalau masih berstatus residen, kamu bakal sangat sulit untuk cuti walau hanya sehari. 

Kalau melahirkan atau punya urusan lain, biasanya dokter residen tidak bisa ambil izin sehari atau dua hari sebelumnya. Mereka harus langsung izin satu “stase” yang bisa terdiri dari beberapa minggu. Kalau tertinggal satu stase ya sama saja memundurkan waktu kelulusan. Setelah mendapat penjelasan dari istri tercinta, saya coba memahami dan memberi dukungan.

Suami cuma bisa memberi semangat

Keheranan saya tidak sampai di situ. Hari Senin berikutnya, pukul 3 dini hari, istri saya sudah bangun dari tidurnya yang singkat. Ternyata, pukul 4 pagi, dia sudah harus sampai rumah sakit. Istri saya harus menyiapkan laporan pasien yang akan diserahkan ke dokter konsulen. 

Rasa kepo saya muncul dan spontan bertanya, memangnya pukul 4 pagi sudah ada dokter konsulen yang datang? Istri menjelaskan kalau dokter konsulen akan datang pukul 6 pagi. Namun, sebagai dokter residen, dia harus membuat laporan pasien terlebih dahulu. Nah, istri saya hanya bisa menggunakan data yang ada di rumah sakit untuk membuat laporan. Baiklah, lagi-lagi saya hanya bisa memberi semangat ke istri.

Baca Juga:

Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini 

Jalan Sompok, Jalan yang Bikin Warga Semarang Tetap Sehat karena Banyak Dokter Praktik di Sini

Biaya sekolah yang mahal

Melihat perjuangan istri yang luar biasa setiap harinya, bahkan tetap pulang sore meski sudah berangkat sebelum subuh, rasa penasaran saya kembali muncul. Dengan polosnya saya bertanya.

“Kamu kan mahasiswa ya, berarti bayar kuliah dong?” 

Istri menganggukan kepala. 

“Tapi kok sibuknya ngalahin orang kerja? Nggak ada kompensasi apa-apa?” 

Istri menjawab, saat awal-awal pandemi masuk ke Indonesia, sebagai dokter residen, dirinya mendapat tunjangan Covid-19. Namun, sekarang sudah tidak dapat lagi. Saya geleng-geleng kepala keheranan.

Masalah biaya kuliah, jangan bayangkan saya yang bayar, ya. Gaji pas-pasan sebagai seorang karyawan swasta tentu saja sulit untuk membayar biaya semesteran yang bisa mencapai puluhan juta. Apalagi dokter residen juga tidak bisa praktik jika sedang mengikuti program ini. Alhasil, satu-satunya sumber pemasukan ya dari “tabungan mertua”. Hehehe…. Tidak heran kalau berkembang anggapan di masyarakat kalau mau jadi dokter ya harus kaya dulu.

Dokter residen menempati kasta terendah

Sekarang saya mulai paham. Untuk mencetak seorang dokter umum apalagi dokter spesialis, biayanya mahal. Bukan hanya biaya pendidikannya, tapi support system untuk mendukung sampai bisa menjadi sarjana. Mulai dari transportasi, seminar akademik, sampai baby sitter kalau si mahasiswi punya anak kecil yang harus diurus dengan perhatian penuh. Apalagi saat pandemi seperti ini, dokter residen harus melakukan tes PCR setiap ingin berpindah stase. Lagi-lagi pakai biaya pribadi.

Bisa dibilang dokter residen ini merupakan salah satu “kasta” terendah di rumah sakit. Kondisi menuntut mereka untuk selalu siap sedia. Bahkan saat libur, istri saya harus siap memenuhi keharusan diskusi online untuk mengoper data pasien ke dokter residen lainnya. 

Tidak jarang, dokter residen juga menjadi bulan-bulanan senior dan konsulen lainnya jika membuat kesalahan. Hal paling nyeleneh yang saya lihat adalah plang yang bertuliskan “Bukan Tempat Parkir PPDS” di tempat parkir rumah sakit. Nasib ya nasib, sampai parkir pun didiskriminasi.

Suami yang cuma bisa curhat

Sebagai suami, beberapa kali saya “ngedumel” dan curhat sama pembaca melihat nasib istri sebagai seorang dokter residen. Namun, karena profesi ini memang disukai istri, dia terlihat semangat meskipun lelah. 

Kalau sudah begitu, saya jadi tidak enak hati. Alih-alih terus mengkritisi nasib PPDS, saya coba hibur dan janjikan mengajak jalan-jalan jika sudah menjadi dokter spesialis kelak. 

Semoga kelak nasib para dokter residen mendapat perhatian lebih, baik dari pihak kampus, rumah sakit, dan juga pemerintah. Agar nanti semakin banyak spesialis yang dapat membantu masyarakat luas. Amiin.

Penulis: Salman Alfarisi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 4 Fakta Menarik tentang Surabaya yang Jarang Dibicarakan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 18 Agustus 2022 oleh

Tags: Dokterdokter residendokter spesialisPPDS
Salman Alfarisi

Salman Alfarisi

Menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister di Universitas Indonesia, kini menjadi pekerja biasa di perusahaan swasta.

ArtikelTerkait

dokter

Dokter, Pasien Butuh Senyum Bukan Cuma Resep Obat

24 Juni 2019
Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini  Terminal

Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini 

29 Juni 2026
Di Kampung Saya, Orang-orang Lebih Suka Main PES Dibanding FIFA terminal mojok.co

PES 2013, Seri PES Paling Memorable

3 Juli 2021
Untuk Arief Poyuono: Ini Alasan Keran Dokter Asing Tak Dibuka Segampang Itu Terminal Mojok.co

Untuk Arief Poyuono: Ini Alasan Keran Dokter Asing Tak Dibuka Segampang Itu

11 April 2022
Pengin Tahu Cara Orang Problematik Bekerja? Lihat Saja Kasus PPDS dan Jet Pribadi

Pengin Tahu Cara Orang Problematik Bekerja? Lihat Saja Kasus PPDS dan Jet Pribadi

5 September 2024
dokter

Dokter Tukang Sindir yang Membuatku Memilih Menahan Rasa Sakit

3 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman buruk menggunakan layanan BPJS di RS UNAIR: antre lama, sistem tidak jelas, beda dengan pelayanan swasta

Pengalaman buruk menggunakan layanan BPJS di RS UNAIR: antre lama, sistem tidak jelas, beda dengan pelayanan swasta

20 Juli 2026
4 alasan Alun-alun Tegal jadi tempat jogging favorit warga Mojok.co

4 alasan Alun-alun Tegal jadi tempat jogging favorit warga

21 Juli 2026
3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan

Bukan cuma soal dingin, ini 4 kejanggalan di Lembang yang bikin wisatawan Semarang heran

15 Juli 2026
Soto di Jogja adalah solusi terbaik di tanggal tua (Mojok.co/Aly Reza)

Soto di Jogja adalah solusi terbaik di tanggal tua

17 Juli 2026
Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng Mojok.co

Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng

16 Juli 2026
Membayangkan Jatinangor Tanpa Unpad, ITB, IPDN, dan Ikopin: Nggak Terkenal, Nggak Berkembang, Pokoknya Menyedihkan sumedang, bandung

Berhentilah menyebut Jatinangor sebagai Bandung coret, tolong hormati Sumedang

15 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.