Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Makanan Murah sebagai Tolok Ukur Kesejahteraan Daerah Itu Anehnya Paripurna

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
13 Januari 2021
A A
makanan murah kesejahteraan tolok ukur daerah mojok

makanan murah kesejahteraan tolok ukur daerah mojok

Share on FacebookShare on Twitter

“Di daerahku hidupnya lebih enak, makanannya murah-murah,” tulis seorang warganet di sebuah kolom komentar. Warganet lain menyaut, membantah argumen sebelumnya dengan menyatakan makanan murah di daerahnya adalah nilai plus. Ada lagi yang menyambar dengan menyuarakan murahnya makanan kedua daerah tadi cuma murah di cerita. Sejatinya, daerah asal orang ketiga ini yang punya harga makanan yang lebih murah.

Debat ra cetho di atas adalah contoh nyata dari argumen absurd seputar adu kesejahteraan. Seolah-olah kesejahteraan sebuah daerah hanya ditentukan oleh makanan murah.

Kenapa saya bilang absurd? Ya bagaimana mungkin bicara kesejahteraan sebuah tatanan masyarakat dilegitimasi dengan makanan murah? Tapi, argumen nggatheli ini masih saja menjadi senjata pamungkas saat berdebat dan beradu masalah kedaerahan. Sudah chauvinistic, absurd pula.

Saya bisa memaklumi bagaimana makanan menjadi alasan untuk menakar sebuah kesejahteraan. Sejak SD kita sudah diajari perihal kebutuhan manusia. Kebutuhan pokok meliputi sandang, pangan, papan. Kemudian ada kebutuhan sekunder seperti kendaraan dan alat komunikasi. Terakhir ada kebutuhan tersier yang identik dengan kebutuhan batiniah seperti liburan atau nyinyir di media sosial.

Tingkatan kebutuhan ini seperti mantra setiap bicara kesejahteraan. Dan saya tidak berniat membantah atau memungkiri ajaran dasar ini. Memang, setiap manusia membutuhkan itu kok. Bentuk dan cara pemenuhan kebutuhan saja yang berbeda.

Bicara makanan, memang kebutuhan satu ini sangat krusial. Tanpa memenuhi kebutuhan fisiologis dasar ini, untuk apa seseorang harus memenuhi kebutuhan yang lain? Untuk apa memikirkan liburan jika masih khawatir besok makan apa.

Tapi, apakah urusan makanan bisa menjadi tolok ukur yang tepat saat bicara kesejahteraan? Apakah kebutuhan paling dasar ini bisa digunakan untuk menglorifikasi kesejahteraan sebuah daerah? Saya rasa tidak!

Makanan memang memenuhi kebutuhan hidup paling dasar. Tapi, kesejahteraan punya faktor yang lebih kompleks daripada perut kenyang. Kelaparan jelas menunjukkan seseorang tidak sejahtera. Itu saja terlepas dari urusan puasa dan diet ketat. Tapi, makan cukup saja tidak cukup membuat seseorang sejahtera.

Baca Juga:

Trenggalek Rasa Menteng: Derita Sobat UMR Surabaya Mencari Tanah di Durenan Trenggalek

Hidup dengan Gaji UMR Itu Indah, tapi Bo’ong

Jika urusan makanan murah dan cukup menjadi tanda kesejahteraan, para tunawisma bisa dibilang sejahtera dan hidup enak. Toh mereka masih hidup karena dapat mengakses makan dengan cukup. Setidaknya cukup untuk bertahan hidup.

Realitasnya, makan saja memang tidak cukup. Apalagi bicara makanan murah untuk menyebut sebuah daerah dengan upah murah itu sejahtera. Tidak perlu saya sebut lagi ya mana daerah yang sering dipuja karena makanan ini. Clue-nya sederhana: daerah istimewa, hehehe.

Akses untuk penunjang hidup juga menentukan kesejahteraan. Ingat, selain pangan, ada papan dan sandang. Ada tempat bermukim serta pakaian. Apakah bisa diakses dengan mudah sesuai kemampuan rerata masyarakat? Jika belum, kok ya bisa-bisanya mutusi bahwa sebuah daerah itu sejahtera. Hanya bicara makan lho.

Maka dari itu, ada yang namanya Kriteria Hidup Layak (KHL). Dokumen yang menjadi acuan dalam menentukan upah ini berisi berbagai instrumen untuk memenuhi hidup layak. Itu pun sering diprotes karena dipandang tidak dilandasi survei yang bisa dipertanggungjawabkan.

Bahkan, KHL yang saya sebutkan tadi masih bicara “hidup layak”. Belum tentu hidup layak ini berbuah kesejahteraan. Kebutuhan psikologis masyarakat juga harus dipenuhi. Dari rasa aman sampai nyaman itulah yang akan menyempurnakan hidup layak menjadi sejahtera. Apakah makan murah bisa membuat masyarakat sejahtera ketika saat pulang malam terancam klitih? Apakah makan murah bisa membikin masyarakat sejahtera, padahal hidup berkubang sampah? Sekali lagi, Anda tahu daerah yang saya jadikan contoh.

Masalahnya, romantisasi yang berlandaskan makanan murah ini terus terjadi. Ketika ada kritik pada daerah tersebut, lagi-lagi dibenturkan dengan urusan makanan murah ini lagi. Sedikit-sedikit bicara biaya makan lagi. Saya ingatkan ya, setiap daerah pasti punya makanan murah kok.

Apalagi jika yang bersuara adalah mereka yang datang sebagai pengunjung atau musafir. Lalu memuliakan temuan makanan murah sebagai bukti kesejahteraan sebuah daerah. Kalau lini itu saja yang dibahas, pantes wae banyak perdebatan yang memperebutkan gelar “paling sejahtera”.

Bukan berarti saya berniat menjadi pendekar keadilan sosial di antara perdebatan ini. Apalagi melarang perdebatan perkara daerah mana yang punya biaya makan paling murah. Kan saya bukan Menkominfo. Tapi, membandingkan antar daerah dengan tolok ukur makanan murah itu memang absurd. Apalagi untuk menentukan sebuah daerah lebih nyaman dan sejahtera. Sudah absurd, primitif, dan ra mashok blas!

BACA JUGA Sejarah Minol di Jogja: Dari Kedai Pemabuk Sampai Lahirnya Minuman Oplosan dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Januari 2021 oleh

Tags: kesejahteraanMakanan MurahUMR
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

harga pupuk mahal petani panen susah mojok

Pupuk Mahal, Petani Bisa Apa?

4 September 2021
Balada Hidup di Jogja: Hidup Susah, Mati Lebih Susah

Balada Hidup di Jogja: Hidup Susah, Mati Lebih Susah

29 Juli 2022
Jogja Istimewa: Realitas atau Ilusi? kill the DJ

3 Hal Keliru tentang Jogja yang Telanjur Diyakini oleh Banyak Orang

19 Juni 2022
Trenggalek Rasa Menteng: Derita Sobat UMR Surabaya Mencari Tanah di Durenan Trenggalek

Trenggalek Rasa Menteng: Derita Sobat UMR Surabaya Mencari Tanah di Durenan Trenggalek

22 November 2025
Menghitung Besaran UMR di Desa Konoha Saya Anak Desa Konoha dan Beginilah Enaknya Masuk Sekolah Ninja

Menghitung Besaran UMR di Desa Konoha

29 April 2020
Jadi PNS Nggak Melulu Enak, Inilah Hal-hal Pilu yang Harus Dihadapi Terminal mojok

Benarkah Jadi Anak PNS Hidupnya Pasti Sejahtera?

16 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dilema Punya Honda Mobilio: Nyaman Dikendarai dan Irit, tapi Kaki-Kaki Mobilnya Sering "Keseleo" Mojok.co

Dilema Punya Honda Mobilio: Nyaman Dikendarai dan Irit, tapi Kaki-Kaki Mobilnya Sering “Keseleo”

7 Februari 2026
Video Tukang Parkir Geledah Dasbor Motor di Parkiran Matos Malang Adalah Contoh Terbaik Betapa Problematik Profesi Ini parkir kampus tukang parkir resmi mawar preman pensiun tukang parkir kafe di malang surabaya, tukang parkir liar lahan parkir pak ogah

3 Perilaku Tukang Parkir dan Pak Ogah yang Bikin Saya Ikhlas Ngasih Duit 2000-an Saya yang Berharga

5 Februari 2026
Siasat “Membunuh” Waktu Saat Kereta Api Berhenti Lama di Stasiun Cirebon Mojok.co

Siasat “Membunuh” Waktu Saat Kereta Api Berhenti Lama di Stasiun Cirebon

8 Februari 2026
Piyungan Isinya CEO Pakai Sandal Jepit Bawa Karung Rongsokan (Unsplash)

Saya Belajar Tentang Kebahagiaan di Piyungan, Tempat Para CEO Pakai Sandal Jepit dan Pegang Karung Rongsokan

7 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
Rumah Lelang Memang Murah, tapi Banyak Risiko Tersembunyi yang Membuntuti Mojok.co

Rumah Lelang Memang Murah, tapi Banyak Risiko Tersembunyi yang Membuntuti

9 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”
  • “Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia
  • Bagi Pekerja Bergaji Dua Digit “Nanggung” di Jakarta, Menyewa Apartemen di Tengah Kota Lebih Baik Ketimbang Ambil KPR di Pinggiran
  • Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana
  • Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak
  • BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.