Sate bumbon Kendal membingungkan lidah
Puncak kebingungan lidah Ira datang saat mencoba sate bumbon khas Kendal. Secara konsep, makanan satu ini sebenarnya menarik. Sate sapi dengan bumbu kacang yang seharusnya aman di lidah banyak orang, termasuk lidahnya.
Dan benar, dagingnya ia suka. Empuk, tidak alot, terasa niat dimasak. Tapi begitu bumbu kacangnya menyentuh lidah, masalah lama muncul lagi, terlalu manis.
Bumbunya bukan manis yang samar atau sekadar sentuhan. Ini manis yang dominan, yang membuat rasa gurih dan aroma kacang jadi nomor dua. Ira sampai pada kesimpulan sederhana tapi tegas, “Dagingnya oke, bumbunya nggak cocok.”
Bagi sebagian orang Kendal, mungkin ini justru ciri khas. Tapi bagi Ira, ini jadi penanda bahwa dia harus lebih selektif dalam memilih menu.
Bertahan hidup dengan makanan yang akrab di lidah
Akhirnya, kawan saya ini mengambil jalan aman untuk bisa betah di Kendal. Dia kembali menyantap makanan yang tidak asing di lidahnya, penyetan, lamongan, nasi padang, ayam geprek. Baginya, makanan itu tidak penuh kejutan sehingga aman bagi perut dan lidahnya.
Warteg dan burjo di Kendal pun jadi tempat makan favoritnya. Sayangnya, dua tempat makan itu tergolong jarang. Apalagi kalau dibandingkan burjo dan warteg di Jogja yang hampir tiap tikungan ada.
Walau sering mengeluh soal makanan Kendal yang kebanyakan terlalu manis, tapi Ira mengaku lumayan cocok dengan jajanan kaki lima di sana. Pilihannya banyak dan rasanya enak, bahkan lebih enak daripada jajanan kaki lima di Batang. Walau memang, soal harga, jajanan di Kendal bisa 2 kali lipat. Dan, hal ini juga dirasakan oleh kawan-kawan saya yang lain. Padahal, UMK Kendal ya nggak tinggi-tinggi amat, tapi jajanannya lumayan menguras kantong.
Harapan banyak teman saya yang tinggal di Kendal kini cuma satu. Semoga semakin banyak pilihan makanan di Kendal. Menurut dia ini penting mengingat Kendal kini terus berkembang sebagai kota industri. Daerah ini berpeluang besar dikunjungi oleh perantai atau pendatang dari daerah lain kelak.
Penulis: Andre Rizal Hanafi
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













