Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mardiyah, Orang Kaya Tegal yang Jadi Bukti Kaya Belum Tentu Bikin Bahagia

Dyan Arfiana Ayu Puspita oleh Dyan Arfiana Ayu Puspita
8 Mei 2020
A A
orang kaya toko emas jual beli emas perhitungan harga ongkos biaya cara menetapkan harga cerita pemilik toko emas emas tua emas muda emas murni produsen emas di indonesia mojok

orang kaya toko emas jual beli emas perhitungan harga ongkos biaya cara menetapkan harga cerita pemilik toko emas emas tua emas muda emas murni produsen emas di indonesia mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Jika Anda punya cita-cita ingin jadi orang kaya raya biar bisa hidup bahagia, sepertinya Anda harus berpikir ulang. Peribahasa yang menyebut uang tidak bisa membeli kebahagiaan mungkin sedikit klise bahkan terdengar seperti basa-basi untuk menghibur mereka yang dompetnya lebih tipis dari kulit ari. Tapi percayalah, peribahasa itu benar adanya, minimal untuk seorang Mardiyah.

Mardiyah adalah sosok legendaris di Tegal yang hidup di era ’70-an. Dia terkenal karena hartanya yang melimpah yang membuat dia tercatat sebagai orang paling kaya di Tegal. Konon, Mardiyah memiliki beberapa hotel yang biasa ditinggali oleh artis ibu kota yang kebetulan berkunjung ke Tegal. Tidak hanya itu, Mardiyah juga konon memiliki kapal yang biasa digunakan untuk memberangkatkan orang pergi haji.

ADVERTISEMENT

Secara fisik, Mardiyah digambarkan sebagai sosok yang bertubuh kecil, agak kurus, dan berkulit sawo matang. Mardiyah juga dapat dengan mudah dikenali karena kebiasaannya memakai perhiasan emas di hampir sekujur tubuhnya.

Begitulah. Kekayaan Mardiyah memang bukan kaleng-kaleng. Tapi, hidup bergelimang harta ternyata tidak membuat hidup Mardiyah semulus jalan tol. Anak laki-laki Mardiyah memiliki hobi yang nyentrik, yaitu hobi jajan. Jajannya bukan sembarang jajan, melainkan main perempuan. Ndilalah, rata-rata perempuan yang dipacari anak Mardiyah ini matre.

Eh tapi bukan anak laki-laki Mardiyah saja yang bermasalah. Sidiq, suami Mardiyah, pun sama. Meski sudah beristri, Sidiq tega menikah lagi. Makin lengkaplah penderitaan Mardiyah. Wanita mana coba yang rela dimadu?

Beban pikiran yang bertubi-tubi akhirnya membuat Mardiyah sakit-sakitan, begitu pun hartanya, sedikit-demi sedikit mulai berkurang. Tak lama berselang Mardiyah pun bangkrut dan meninggal dunia. Sungguh nahas.

Saat ini kekayaan Mardiyah yang segambreng itu sudah banyak beralih ke tangan orang lain. Salah satu peninggalannya berada di Desa Bandasari, yaitu rumah megah yang dulu ia tinggali. Rumah itu kini dimiliki oleh H. Waluyo. Ada peninggalan lain milik Mardiyah yang sampai sekarang diyakini masih ada dan menjadi perburuan. Peninggalan itu adalah cincin berlian model Elizabeth dan gelang emas ular naga bertabur berlian. Entah benar entah tidak.

Selain harta-harta itu, hal lain yang ditinggalkan Mardiyah adalah nama. Nama Mardiyah sampai sekarang tetap melekat di ingatan masyarakat Tegal, bahkan menjadi simbol dari kekayaan yang melimpah lewat ujaran “Duite Mardiyah!” yang acap diucapkan orang Tegal untuk nye-smash orang yang tidak punya uang tapi berandai-andai ingin beli ini dan itu. Atau ketika ada orang yang mau pinjam uang sementara yang mau dipinjami juga sedang tidak punya uang, maka keluarlah ucapan, “Duite Mardiyah!”

Baca Juga:

5 jajanan yang menyadarkan saya kalau Tegal lebih dari sekadar sate kambing

Pengakuan orang Semarang yang kalah mental menghadapi garangnya kuliner kambing Tegal

Dari sejarah Mardiyah ini kita bisa belajar banyak hal. Pertama, seperti yang sudah disebut di awal, yaitu harta tidak bisa membeli kebahagiaan. Kurang apa sih Mardiyah itu? Duit nggak ada serinya, hotel punya, kapal pun punya. Kalau jaman Mardiyah sudah ada es krim Vienetta, saya yakin Mardiyah belinya nggak pakai mikir dan nggak cuma satu. Bungkusnya juga nggak akan dijilatin dengan dalih ‘Sayang, mubazir, sudah bayar mahal-mahal.’ Itu mah kita yang kayanya masih nanggung. Nanggung cuma pas tanggal gajian saja. Lewat dari tanggal itu ya sudah. Wassalam.

Kedua, nasib manusia tidak ada yang bisa menebak. Selama hidup, Mardiyah pasti tidak pernah menyangka kehidupannya berakhir dengan tragis: suami kawin lagi, anak yang digadang-gadang bakal jadi penerang di alam kubur juga ternyata asyik masyuk  dari perempuan satu ke perempuan lain. Artinya, ini sebagai pelajaran bagi untuk… hati-hati dengan lekaki hidung belang!

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

BACA JUGA Orang Paling Kaya di Desa Saya Adalah yang Paling Tidak Banyak Gaya dan tulisan Dyan Arfiana Ayu Puspita lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2020 oleh

Tags: kekayaanorang kayategal
Dyan Arfiana Ayu Puspita

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.

ArtikelTerkait

Cerita di Balik 3 Sungai yang Terkenal Angker di Tegal Mojok.co

Cerita di Balik 3 Sungai yang Terkenal Angker di Tegal

14 Oktober 2024
Nggak Cuma di Jogja: Ternyata, Malioboro Punya Cabang di Beberapa Kota terminal mojok.co

Nggak Cuma di Jogja: Malioboro Juga Punya Cabang di Beberapa Kota

8 November 2021
Teh dan Camilan Olahan Tahu Slawi Tegal, Layak Dikenal Lebih Banyak Orang seperti Warteg Mojok.co

Teh dan Camilan Olahan Tahu Slawi Tegal, Layak Dikenal Lebih Banyak Orang seperti Warteg

5 Oktober 2024
5 Culture Shock Orang Jogja Datang Kondangan di Tegal. Ada Welcome Drink seperti di Hotel-hotel Mojok.co

Culture Shock Orang Jogja Datang Kondangan di Tegal. Ada Welcome Drink seperti di Hotel-hotel

16 Desember 2023
Senjakala Lapak Buku Bekas di Pasar Alun-alun Tegal: Mati Tak Ingin, Bertahan (Hampir) Tak Mungkin

Senjakala Lapak Buku Bekas di Pasar Alun-alun Tegal: Mati Tak Ingin, Bertahan (Hampir) Tak Mungkin

23 Maret 2024
Tegal di Mata Pendatang: Berkendara di Tegal Ngeri-ngeri Sedap, Warga Lokal Banyak yang Ugal-ugalan di Jalan

Tegal di Mata Pendatang: Berkendara di Tegal Ngeri-ngeri Sedap, Warga Lokal Banyak yang Ugal-ugalan di Jalan

3 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co Surabaya

Berhenti membandingkan Malang dan Surabaya: karakteristiknya beda, kenapa berusaha (terlalu) keras untuk membandingkannya?

10 Juli 2026
7 kuliner Purwokerto yang menurut saya pantas dikenal lebih banyak orang, jangan jajan mendoan melulu Terminal

7 kuliner Purwokerto yang menurut saya pantas dikenal lebih banyak orang, jangan jajan mendoan melulu

7 Juli 2026
Harga Makanan di Surabaya Lebih Murah dari Banyuwangi: Untung bagi Pembeli, tapi Derita bagi Penjualnya

Harga Makanan di Surabaya Lebih Murah dari Banyuwangi: Untung bagi Pembeli, tapi Derita bagi Penjualnya

11 Juli 2026
Freelancer in this economy: nggak bisa pilih-pilih kerjaan, upah nggak seberapa dan cuma numpang lewat Mojok.co

Freelancer in this economy: nggak bisa pilih-pilih kerjaan, upah nggak seberapa dan cuma numpang lewat

10 Juli 2026
Karangmalang UNY tidak ramah pejalan kaki, jalan kaki di sana serasa uji nyali Mojok.co

Karangmalang UNY tidak ramah pejalan kaki, jalan kaki di sana serasa uji nyali

7 Juli 2026
Pengalaman saya sebagai lulusan jurusan Hukum Islam yang memilih jadi petani kopi di desa, ilmunya nggak sia-sia Mojok.co

Pengalaman saya sebagai lulusan jurusan Hukum Islam yang memilih jadi petani kopi di desa, ilmunya nggak sia-sia

12 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.