Belakangan ramai sebuah cuitan bernada sarkas yang intinya menyarankan kampus berlabel UIN untuk mengurangi lulusannya, dan fokus pada kualitas alih-alih kuantitas. Sebab banyak dari mereka yang melamar kerja dengan skill yang tidak jelas tapi permintaan gajinya tidak masuk akal.
Cuitan itu direspons senada oleh banyak natizen, terutama mereka yang mengaku sebagai dosen di kampus berlabel UIN. Satu kesimpulan yang saya ambil dari semua respons atas cuitan tersebut adalah, kita perlu akui bahwa kampus UIN memang melahirkan lulusan yang skillnya di bawah rata-rata. Bahkan bukan hanya kampus UIN, tapi kampus negeri lain yang letaknya di luar Jawa sekalipun, punya output yang sama, yaitu masalah skill yang tidak memadai dan nggak match dengan dunia industri.
Saya pribadi adalah lulusan UIN, dan saya acap kali melihat alumni, baik itu angkatan di atas saya maupun yang seangkatan di atas saya, bekerja tidak sesuai dengan apa yang dipelajari selama di kampus. Umumnya, mereka jadi pengusaha. Ada yang lulusan tarbiyah (keguruan), lulus buka angkringan. Ada juga yang lulusan dakwah, jadi penjual lele. Malah ada yang lulusan syariah, buka kedai kopi.
Yah sebenarnya nggak ada yang salah, tapi pertanyaannya, ketika lulus dengan kondisi mengeluarkan uang berpuluh-puluh juta selama beberapa tahun, tapi tak punya skill apa pun dari apa yang dipelajari, lalu untuk apa seseorang kuliah? Rasanya naif kalau tujuan kuliah hanya soal membangun mindset dan mencari ilmu.
Meminjam pernyataannya Prof Bagus Muljadi, bahwa pendidikan di perguruan tinggi adalah investasi. Dan selayaknya investasi maka dia harus punya return bagi siapapun yang berinvestasi.
Maka dari itu, menurut saya kita perlu melihat ini dari aspek penyebab, alih-alih mengumpat soal akibat yang sudah terjadi. Maka dari itu, saya coba uraikan, beberapa hal yang membuat kampus berstatus UIN dan (mungkin) kampus negeri luar jawa punya lulusan yang under skill/value.
Kurikulum UIN yang nanggung, agama tidak dalam, skill tidak tajam
Banyak prodi di UIN punya kurikulum yang nanggung. Mata kuliah keagamaannya ada tapi nggak cukup mendalam. Di sisi lain, materi perkuliahan umum hanya mengupas hal yang ada di permukaan dan teoritis. Sebetulnya teoritis pun tidak masalah, asalkan literatur akademik dapat diakses dengan mudah oleh mahasiswa. Persoalannya, literatur yang ada hanya terbatas pada buku-buku lawas dan mainstream. Sementara artikel ilmiah dari jurnal bereputasi dan terindeks scopus sangat sulit dijangkau. Sehingga mahasiswa hanya tahu teori tanpa tahu bagaimana aplikasi dan fenomenanya di masyarakat melalui artikel ilmiah.
Tentu semua itu bikin kemampuan kritis dan analisis literatur mahasiswa UIN sangatlah tumpul. Semua itu ditambahkan dengan bekal praktis yang terbatas sehingga gagap dalam menjawab kebutuhan industri. Semua itu pada akhirnya melahirkan lulusan yang hanya tahu teori umum, tapi tidak benar-benar tajam dalam satu hal. Padahal pasar tenaga kerja tidak lagi membutuhkan tenaga kerja yang hanya sekadar tahu, tapi paham dan bisa melakukan sesuatu.
Soal orientasi dan citra kampus UIN
Tidak bermaksud merendahkan, tapi banyak yang masuk UIN orientasinya adalah menjadi guru, PNS, pengusaha, dan sektor sosial-keagamaan. Semua orientasi itu nggak salah, tapi realitas secara ekonomi tidak bisa disederhanakan hanya pada keempat sektor tersebut. Sebab saat ini kebutuhan hidup meningkat, ekonomi makin kompleks, sehingga pilihan karier jadi melebar dengan persaingan yang makin ketat.
Kalau hanya menyiapkan diri untuk keempat sektor tersebut, artinya skill yang disiapkan pun terbatas. Sehingga nggak nyambung sama yang dibutuhkan industri, terutama sektor swasta. Orientasi tersebut akhirnya membuat UIN hanya dicitrakan sebagai kampus agama dan kurang terbuka dengan kebaruan dan kemajuan industri.
Exposure yang terbatas
Kalau kita perhatikan, banyak mahasiswa kampus umum di luar sana sudah akrab dengan istilah magang sejak awal semester. Itu membuat mereka sibuk membangun portofolio praktis yang selaras dengan industri dan jurusan mereka. Dari mana mereka mendapat semua itu? Tentu dari prodi dan organisasi intra kampus. Di sisi lain, ekosistem UIN belum menjadikan ini sebagai budaya.
Awal semester dihabiskan untuk kegiatan organisasi yang output dan outcome-nya nggak jelas. Mahasiswanya sibuk tebar pesona sok paling aktivis dan peka terhadap realitas kampus dan sosial. Tapi ompong ketika terjun pada kegiatan yang menuntut skill-skill dasar, semisal Microsoft Office saja.
Saya tidak bilang kalau berorganisasi itu nggak penting. Penting kok. Tapi, organisasi seperti apa dulu? Kebanyakan organisasi intra UIN hanya melahirkan budaya elitis dan feodal alih-alih mendorong kadernya punya skill yang dibutuhkan di dunia sosial dan kerja.
Saya punya pengalaman, saat itu saya mewakili ormawa ekstra kampus di sebuah forum bersama ormawa intra. Lucunya di forum itu, saya dan rekan saya sesama perwakilan ormawa yang seharusnya dibantu soal akses, malah diminta memberikan tips soal bagaimana membuat proposal yang bagus dan cara beraudiensi agar dapat dana sponsor. Mereka ingin tahu bagaimana cara kami bisa bekerja sama dengan lembaga macam BI dan OJK.
Ini menandakan skill administrasi dan audiensi mereka saja masih sangat kurang. Dari segi ini saja kampus UIN sudah kalah jauh, apalagi kalau soal permagangan. Bagaimana mau dapat channel kalau ormawa intranya sibuk tebar pesona, dan sukanya bikin kegiatan yang cuma megah dari segi seremonial?
Budaya akademik yang kurang kompetitif
Yang saya rasakan dan terkonfirmasi oleh beberapa kenalan saya yang jadi dosen di UIN hingga hari adalah budaya akademik yang kurang kompetitif. Efek dari mahasiswa yang memang terlihat rajin hadir di kelas tapi daya analisa dan kritisnya kurang, membuat teman-teman saya yang jadi dosen pun menurunkan standar tugas yang diberikan.
Kadang, tugas yang diberikan pun tidak mengarah pada stimulasi budaya berdialektika dan kritis, tapi sekadar pemenuhan tanggung jawab di kelas. Ada tugas yang kelihatannya susah, tapi tidak punya outcome yang jelas. Setelah tugas ini dikerjakan, manfaat apa yang dirasakan mahasiswanya?
Satu hal yang selalu saya kritisi hingga saat ini di UIN adalah, metode akademiknya begitu kaku di tengah fleksibilitas industri yang terus berkembang. Kaku hanya pake alat analisis tertentu, hanya pake metode yang itu-itu saja. Atau hanya menganut teori dasar yang sudah usang.
Ini membuat UIN seperti hanya mengajarkan mahasiswanya cara menggunakan pisau dapur untuk memotong. Padahal, alat pemotong itu ada banyak jenis, ada pisau dapur, ada gunting, ada gergaji, ada kapak, dan lain-lain. Semakin banyak alat pemotong yang dikuasai, semakin adaptif lulusannya di dunia industri.
Akses informasi dan role model yang terbatas
Mahasiswa yang setiap hari diperkenalkan dengan seniornya atau alumni kampusnya yang masuk perusahaan besar, startup, atau bahkan bekerja di luar negeri, tentu memiliki standar yang berbeda. Ketika melihat semua itu, mereka jadi punya semangat untuk seperti senior atau alumni kampusnya. Mereka jadi punya peta jalan yang harus dituju.
Sementara di UIN, mahasiswa hanya bisa membanggakan seniornya yang jadi pejabat misalnya di Kementerian Agama, partai politik, atau lembaga sosial. Dan sangat terbatas di sektor industri profesional. Akibatnya peta jalan yang dituju arahnya ke situ-situ juga. Bukan karena tidak mampu tapi karena hanya itu role model yang mereka punya.
Dari situ muncul satu fenomena menarik yaitu overconfidence tanpa benchmark. Percaya diri menganggap sudah cukup siap, karena selama ini tidak pernah dikomparasikan dengan standar di luar. Akibatnya ketika masuk ke dunia kerja, menjalani proses wawancara, yang ada hanya ekspektasi dan realitas yang bertabrakan. Ingin gaji selangit tapi nggak ngaca sama kompetensi yang dimiliki.
Apa yang dialami oleh lulusan UIN adalah gambaran dari sistem yang tidak cukup baik menyiapkan mereka untuk menghadapi dunia kerja yang begitu kompleks dan menuntut hal yang praktis. Kalau semua ini dibiarkan, ya siap-siap aja, kampus UIN hanya akan jadi pabrik penciptaan lulusan agamis yang tak tahu cara menghadapi realitas dunia kerja.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Kampus Islam Rasa Bebas: Fenomena UIN yang Bikin Bingung Malaikat Pencatat Amal
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















