Lorong Waktu Episode 6, Musim 1: Zidan Mengunjungi Dirinya di Masa Depan – Terminal Mojok

Lorong Waktu Episode 6, Musim 1: Zidan Mengunjungi Dirinya di Masa Depan

Artikel

Avatar

Jika di episode sebelumnya kita diajak menengok masa lalu, Lorong Waktu episode 6 mengajak kita masuk ke masa depan. Berhubung sinetron Lorong Waktu episode 6 tayang di tahun 1999, tentu masa depan di sini sudah menjadi masa lalu bagi kita sekarang: tahun 2011.

Cerita dibuka dengan cerita tentang pekerjaan papanya Zidan dan cita-cita Zidan. Zidan ternyata bercita-cita jadi anggota DPR. Nah, dari omongan tentang cita-cita Zidan itulah muncul percakapan seru Zidan dengan mama dan papanya.

“Kamu sendiri, mau jadi apa?” tanya Mama.

“Mau jadi… anggota DPR” Mama dan Papa Zidan langsung tertawa.

“Nah, yang itu cocok buat Zidan. Bawel, suka protes, doyan berdebat, dan… menyebalkan,” Papa Zidan berpendapat.

“Misalnya kamu jadi anggota DPR, apa yang pertama kamu lakukan?” tanya Mama lagi.

“Mandi dan gosok gigi!” Lho?

“Supaya badan segar dan nggak tidur melulu waktu lagi rapat,” lanjut Zidan. Oooh.

Cerita berpindah ke masjid, ke kamarnya Ustad Addin. Di sana sudah ada Haji Husin, Ustad Addin, dan Zidan.

“Masa depan siapa yang pengin kamu lihat?” tanya Ustad Addin ke Zidan.

“Ya, masa depan saya dong! Bagaimana waktu, tampang saya waktu menjadi anggota DPR dan bagaimana sikap saya waktu lagi rapat. Apakah saya keasyikan tiduuuuuurrr karena saya malamnya begadaaaaaang terus sama teman-teman saya. Atau saya… suka jingkrak-jingkrakan. Jungkir balik -jungkir balik. Jungkir balik sana, jungkir balik sini, sampai orang lain panik.”

“Lu kira disko ni DPR?” sahut Haji Husin.

Seperti sebelum-sebelumnya, keinginan Zidan dikabulkan Ustad Addin dan Haji Husin. Nurut amat ama bocil sih?

Siap mengirimkan objek, tentukan koordinat. Objek siap dikirim, tekan enter, pengiriman sedang berlangsung, dan… objek sampai pada tujuan. Pengiriman oke. Zidan sudah ada di kamarnya pada 2011.

Zidan kecil lalu keluar dari kamarnya, membuat Mama, Papa, Kakek, Nenek, dan Ustad Addin yang lagi rapat membahas perilaku Zidan besar merasa terkejut. Zidan kecil tentu masih bisa mengenali mereka, tetapi mereka (kecuali Ustad Addin) tidak kenal Zidan. Yang jadi pertanyaan, di mana Haji Husin?

“Eh, ngomong-ngomong Pak Haji ke mana yah? tanya Zidan kecil kepada Ustad Addin yang sudah tampak menua.

“Maksudmu Pak Haji Husin?”

“Ya, siapa lagi kalau bukan dia.”

Hening.

“Pak Haji Husin sepuluh tahun yang lalu sudah….”

Belum selesai Ustad Addin bicara, kakeknya Zidan langsung menyela.

“Tong, pulang lu sono, pulang! Keluarge gue lagi ada masalah. Ni urusan cucu gue sendiri si Zidan, bukan elu. Ayo sana pulang!” perintah Kakek ke Zidan kecil.

Tak berapa lama, Zidan besar pulang dalam keadaan mabuk dan membuat seisi rumahnya panik. Kakek Zidan marah banget lalu ngomelin Zidan. Zidan kecil yang melihat kejadian itu langsung nyeletuk, “Yah, payah. Masak anggota DPR kerjaannya mabok!”

Zidan kecil balik ke kamarnya dan merasa sangat kesal pada Zidan besar. Malu-maluin, katanya. Bahkan ia sampai mengadu ke (posternya) Om Dip perihal kelakuan buruk Zidan besar.

Saat kembali ke masanya, Zidan kecil kelihatan cemberut dan sedih. Haji Husin dan Ustad Addin jadi ikutan sedih. Setelah sempat menyorot Haji Husin yang lagi serius berdoa karena teringat tentang petualangan Zidan pada masa depan, yang mana pada waktu itu Haji Husin nggak jelas gimana nasibnya (ya, nebaknya sih sudah meninggal), cerita balik lagi ke rumah Zidan.

Saking parnonya Zidan sama masa depannya, ngelihat boneka aja malah yang muncul di pikirannya itu adalah dirinya versi sudah besar. Zidan besar yang tampak tak keruan membuat Zidan kecil jadi teriak ketakutan. Mama Zidan jadi kaget.

Masih penasaran dengan kehidupan masa depannya, Zidan kembali berpetualang ke masa depannya. Begitu sampai di kamarnya (versi masa depan), Zidan langsung ngoceh karena kamarnya bau.

“Zidan nggak punya kamar seperti ini. Kamar Zidan selalu bersih, rapi, dan wangi karena kebersihan itu sebagian dari iman.”

Haji Husin yang menonton adegan itu lewat komputer langsung melempar tisu ke layar. “Sok tua lu!”

Tidak lama kemudian, mamanya Zidan masuk ke kamar lalu merasa heran dengan kehadiran Zidan kecil. Mamanya Zidan menganggap Zidan kecil tuh anak orang yang terpisah dari orang tuanya.

“Zidan kemari untuk menolong masa depan Kak Zidan,” kata Zidan kecil.

“Masa depan?”

“Iya.”

“Zidan itu sudah tidak punya masa depan lagi. Jiwanya hancur oleh obat bius,” jawab Mama Zidan dengan nada sedih.

“Obat bius?” Zidan belum mengerti.

“Iya. Dia sudah lupa dengan cita-citanya untuk menjadi anggota DPR. Tante takut, Zidan tidak bisa diselamatkan lagi.”

“Kenapa tidak? Zidan kecil yang akan menyelamatkan Kak Zidan.”

Setelah itu terdengar suara rintihan seseorang. Mama Zidan tahu itu suaranya Zidan besar dan langsung panik mencarinya. Yang menemukan Zidan besar ternyata Zidan kecil. Zidan kecil menunjukkan keberadaan Zidan besar yang ternyata ada di bawah ranjang, dalam keadaan sakau.

Cerita ini bersambung ke episode depan.

Ikuti sinopsis Lorong Waktu musim 1 di sini serta tulisan Utamy Ningsih lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Baca Juga:  Lima Faedah Game Worms Zone untuk Kehidupan Romansamu
---
0


Komentar

Comments are closed.