Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

LinkedIn Bukan Aplikasi Toksik, Justru Kamu yang Harusnya Sadar Diri!

Raihan Muhammad oleh Raihan Muhammad
5 Januari 2026
A A
3 Hal yang Sebaiknya Jangan Diunggah di LinkedIn kalau Tidak Ingin Menyesal Mojok.co

3 Hal yang Sebaiknya Jangan Diunggah di LinkedIn kalau Tidak Ingin Menyesal (unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Baru-baru ini, saya membaca tulisan Erfransdo tentang LinkedIn yang ia sebut sebagai aplikasi paling toksik yang pernah digunakan. Tulisan itu jujur, emosional, dan mudah membuat pembaca mengangguk setuju, terutama mereka yang sedang letih mencari kerja dan lelah melihat kabar keberhasilan orang lain berseliweran di linimasa. 

Namun, sejak awal perlu ditegaskan: tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai serangan personal. Pengalaman Erfransdo sah dan valid sebagai pengalaman individual, tetapi argumen yang dibangun di atasnya patut dibantah karena terlalu menyederhanakan persoalan (baca: dangkal).

Yang hendak dipersoalkan di sini bukan perasaan insecure, cemas, atau lelah mental yang muncul ketika membuka LinkedIn. Itu manusiawi, dan hampir semua pencari kerja pernah mengalaminya. 

Masalahnya muncul ketika pengalaman personal tersebut ditarik menjadi kesimpulan umum, seolah-olah LinkedIn adalah sumber utama toksisitas, padahal yang dikritik lebih banyak berkaitan dengan ketidaksiapan mental menghadapi realitas dunia profesional yang memang tidak ramah, tidak empatik, dan tidak adil sejak awal.

Maka, maaf, argumen Erfransdo terasa memancarkan “mental kepiting”. Bukan dalam arti meremehkan orang yang berhasil, tetapi dalam kecenderungan menyalahkan wadah ketika melihat orang lain berhasil keluar dari ember. LinkedIn diposisikan sebagai biang masalah, bukan sebagai cermin yang memantulkan realitas.

Masalahnya bukan LinkedIn, tapi cara kita membaca realitas

LinkedIn sejak awal bukan ruang terapi, melainkan etalase. Isinya memang pencapaian, jabatan, dan kabar baik yang dipoles rapi. Maka aneh rasanya jika kita masuk ke ruang pamer lalu mengeluh silau. LinkedIn tidak pernah menyembunyikan wataknya. Ia terang, kompetitif, dan dingin, persis seperti dunia kerja yang selama ini kita hadapi di luar layar.

Rasa insecure yang muncul sering kali bukan karena LinkedIn kejam, melainkan karena kita membaca potongan hidup orang lain sebagai cerita utuh. Kita menelan pengumuman diterima kerja tanpa mengingat proses gagal yang tidak pernah diunggah. Platform dijadikan terdakwa, padahal yang bekerja adalah kebiasaan lama manusia membandingkan diri secara serampangan lalu merasa kalah sebelum bertanding.

Alih-alih sibuk mengutuk LinkedIn, mungkin yang perlu dibenahi justru cara kita menempatkan diri. Dunia profesional memang tidak empatik dan tidak berkewajiban menenangkan siapa pun. LinkedIn hanya cermin yang terlalu jujur. Dan seperti semua cermin, yang membuat tidak nyaman bukan pantulannya, tapi apa yang belum siap kita terima dari diri sendiri.

Baca Juga:

LinkedIn Adalah Aplikasi Paling Toksik yang Pernah Saya Gunakan, Ini 4 Alasannya!

3 Hal yang Sebaiknya Jangan Diunggah di LinkedIn kalau Tidak Ingin Menyesal

Saatnya berhenti menarik orang lain, dan mulai mendorong diri sendiri

Mental kepiting membuat kita lebih sibuk memastikan tidak ada yang keluar dari ember, alih-alih mencari cara memanjat. Kesuksesan orang lain diperlakukan sebagai ancaman, bukan sebagai penanda bahwa jalan itu mungkin ditempuh. Dalam logika ini, melihat orang naik bukan pemicu belajar, melainkan alasan untuk mengeluh dan mencari kambing hitam.

LinkedIn kemudian dijadikan sasaran empuk. Bukan karena ia menciptakan masalah baru, tetapi karena ia memperlihatkan kenyataan tanpa sensor kenyamanan. Padahal, keberhasilan orang lain tidak pernah mencuri jatah siapa pun. Yang sering terkuras justru energi kita sendiri karena terlalu lama menatap lini masa tanpa arah, lalu pulang dengan perasaan kalah yang sebenarnya belum tentu sah.

Maka, alih-alih terus menyalahkan platform, mungkin sudah waktunya meninggalkan mental kepiting. Dunia kerja tidak akan melambat hanya karena kita lelah. Yang bisa dilakukan hanyalah memperkuat diri, membaca realitas dengan lebih jujur, dan berhenti menarik orang lain ke bawah demi merasa setara.

Menyebut LinkedIn sebagai aplikasi paling toksik terdengar seperti upaya elegan untuk menghindari tanggung jawab yang lebih tidak enak: mengakui bahwa kita belum bergerak sejauh orang lain. Platform dijadikan penjahat, sementara rasa iri dibungkus sebagai kritik sosial. 

LinkedIn dijadikan kambing hitam karena terlalu terang, seolah dunia kerja seharusnya menyesuaikan diri dengan suasana hati kita. Padahal, menutup aplikasi tidak pernah otomatis membuka peluang. Yang sering terjadi justru sebaliknya: kita merasa paling sadar, paling kritis, sambil tetap diam di tempat yang sama. Dalam situasi ini, LinkedIn bukan musuh, tapi hanya saksi bisu dari kebiasaan lama kita menunda upgrade diri sambil sibuk menyalahkan cermin.

Penulis: Raihan Muhammad
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Anggapan LinkedIn Sosmed Toxic Hanyalah Kedok bagi Mereka yang Nggak Siap Menghadapi Dunia Profesional

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 Januari 2026 oleh

Tags: lini masa linkedinLinkedInlowongan kerja di LinkedInportal lowongan kerja
Raihan Muhammad

Raihan Muhammad

Manusia biasa yang senantiasa menjadi pemulung ilmu dan pengepul pengetahuan. Pemerhati politik dan hukum. Doyan nulis secara satire/sarkas agar tetap waras. Aku menulis, maka aku ada.

ArtikelTerkait

cara menyusun cv cara memakai linkedin stafsus presiden staf khusus kontroversi billy mambrasar linkedin west wing white house gedung putih as hujatan netizen bio mojok

Kenapa Stafsus & CEO seperti Billy Mambrasar Sampai Perlu Punya Akun LinkedIn?

18 April 2020
Tips Apply CV via LinkedIn biar Nggak Cuma Ngetik "Interested" di Kolom Komentar terminal mojok.co

Tips Apply CV via LinkedIn biar Nggak Cuma Ngetik “Interested” di Kolom Komentar

30 April 2021
3 Hal yang Sebaiknya Jangan Diunggah di LinkedIn kalau Tidak Ingin Menyesal Mojok.co

3 Hal yang Sebaiknya Jangan Diunggah di LinkedIn kalau Tidak Ingin Menyesal

30 Maret 2025
Seandainya Lionel Messi Karyawan Kantoran yang Kontraknya Nggak Diperpanjang terminal mojok.co

Seandainya Lionel Messi Karyawan Kantoran yang Kontraknya Nggak Diperpanjang

7 Agustus 2021
LinkedIn, Mengubur Pencari Kerja dengan Rasa Insecure

LinkedIn, Mengubur Pencari Kerja dengan Rasa Insecure

16 Agustus 2022
linkedin mirip facebook postingan aneh mojok

LinkedIn Lama-lama kok Malah Jadi Mirip Facebook, ya?

26 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

18 Mei 2026
Gresik Ternyata Bisa Bikin Arek Surabaya Kaget (Wikimedia Commons) sidoarjo

Hunian di Gresik dan Sidoarjo Memang Murah, Tapi Sulit Wira-wiri: Jauh ke Mana-Mana, Bikin Bosan dan Stres

12 Mei 2026
Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

15 Mei 2026
Peribahasa Ada Harga Ada Rupa Tidak Berlaku untuk “MBG” Superindo yang Wujudnya Meyakinkan, Rasa Enak, dan Harganya Tetap Murah Mojok.co

Peribahasa Ada Harga Ada Rupa Tidak Berlaku untuk “MBG” Superindo yang Wujudnya Meyakinkan, Rasa Enak, dan Harganya Tetap Murah

17 Mei 2026
Mending Naik Bluebird daripada Taksi Online untuk Lanjut Perjalanan dari Stasiun atau Bandara, Lebih Minim Drama Mojok.co

Mending Naik Bluebird daripada Taksi Online untuk Lanjut Perjalanan dari Stasiun atau Bandara, Lebih Minim Drama

14 Mei 2026
Fortuner dan Pajero Memang Arogan, tapi Pemotor yang Nggak Pernah Menyetir Mobil Adalah Red Flag Sesungguhnya di Jalan Raya Mojok.co

Fortuner dan Pajero Memang Arogan, tapi Pemotor yang Nggak Paham Logika Nyetir Mobil Lebih Red Flag di Jalan Raya

14 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.