Kenapa Stafsus & CEO seperti Billy Mambrasar Sampai Perlu Punya Akun LinkedIn?

Artikel

Avatar

Ketika pekan ini surat Stafsus Presiden Andi Taufan Garuda Putra menjadi kontroversi, perbincangan tentang stafsus menjadi ramai. Setiap hal yang diketahui netizen tentang stafsus otomatis menjadi pembicaraan. Termasuk ketika stafsus lain bernama Billy Mambrasar ketahuan melebih-lebihkan jabatannya di Istana dalam bio LinkedIn-nya. Ia menyebut jabatannya setara dengan menteri, bisa langsung berkoordinasi dengan presiden, dan stafsus itu setara dengan pejabat di West Wing Gedung Putih. Keterangan bio di web pencarian lowongan kerja ini langsung dihujat.

Saya tidak akan menggugat klaim Billy. Yang saya pertanyakan, dalam situasi saya ini  pemuda dengan pengalaman dunia kerja masih seumur jagung, adalah intensi beliau menjelaskan kebesaran jabatannya di LinkedIn. Sebelum menjelaskan kenapa hal begini saja saya pertanyakan, saya akan menceritakan pengalaman saya menggunakan LinkedIn.

Setelah memasuki dunia kerja dua tahun lalu, saya telah bekerja di empat institusi berbeda. Mencari pekerjaan melalui LinkedIn sudah menjadi kebiasaan ketika saya ingin bekerja di tempat lain. Saya akui, informasi pekerjaan di LinkedIn berlimpah, khususnya untuk pencari lowongan management trainee (MT).

Tapi sistem pendaftarannya akan tetap dengan cara mengirimkan curriculum vitae (CV) dan cover letter melalui email atau melalui link yang disediakan penyedia kerja di postingannya. Selain itu, mencantumkan afiliasi kerja di profil LinkedIn menurut pengalaman saya tidak terlalu berdampak ketika mendaftar kerja di suatu lembaga.

Sebab, Anda tetap harus menuliskan pengalaman profesional dan biodata singkat di dalam file CV lalu menulis surat lamaran di file yang lain. Itu berarti informasi yang Anda tulis di profil LinkedIn tidak diperhatikan recruiter tempat Anda melamar, kecuali Anda memberi tahu mereka akun LinkedIn Anda.

Baca Juga:  Milenials, Jangan Sampai Kita menjadi Generasi yang Krisis Etika Berkomentar

Mencari kerja di LinkedIn menurut saya belum seampuh mencari kerja melalui network senior kuliah. Kalau istilahnya, jaringan adalah modal penting di dunia kerja, dan bagi saya istilah tersebut masih relevan. Sangat relevan.

Pengalaman dan pemahaman saya menggunakan LinkedIn seperti itulah yang akhirnya membuat saya jadi gusar terhadap intensi stafsus tersebut mendeskripsikan jabatannya di LinkedIn. Buah dari kegusaran ini adalah dua pertanyaan sebagai berikut: Dia sudah kerja jadi stafsus, kenapa ia harus mempunyai akun LinkedIn? Mengapa ia perlu update afiliasi kerjanya di LinkedIn?

Mungkin karena dia tokoh publik, menjangkau rakyat di setiap platform media sosial adalah wujud intensi baik guna mendekatkan diri dengan masyarakat. Tidak dimungkiri, setiap platform sosial media punya karakteristik pengguna yang unik.

Di Twitter misalnya, jenis netizennya adalah yang mengaku melarat, berpikiran terbuka, dan punya selera humor sarkastik. Kalau meminjam istilahnya Michael Harrington, mereka bisa disebut “the intellectual poor”, yakni kalangan yang memiliki kemampuan untuk mendapatkan standar hidup yang baik tapi secara voluntary memilih menjadi poor, si miskin yang cendekia; itulah netizen Twitter.

Sementara netizen Instagram isinya masyarakat yang gemar memublikasikan perilaku konsumtif dan kebahagiaan, namun dengan worldview konservatif dan gampang tersulut emosi oleh humor netizen Twitter. LinkedIn ini isi netizennya paling adem, isinya orang – orang sukses, memiliki intelegensia tinggi dan gemar membagikan cerita motivasi. Kalau jarang aktif, setidaknya profilnya diisi pengalaman-pengalaman yang menakjubkan.

Dari karakteristik netizen di setiap platform media sosial yang berbeda inilah saya menarik kesimpulan bahwa Billy Mambrasar mencoba menjangkau seluas-luasnya segmen masyarakat. Dengan mencantumkan afiliasi kerja di LinkedIn dan menjelaskan deskripsi posisinya di tempat kerja, stafsus ini berusaha untuk membuat dirinya terlihat oleh netizen LinkedIn dan menyampaikan motivasi dan pesan positif kepada mereka. Bahkan mungkin pesan dari Istana Kepresidenan.

Baca Juga:  Second Account Jennie BLACKPINK dan Sekelumit Alasan Manusia Membuat Akun Kedua

Memang netizen LinkedIn tidak seramai netizen Twitter atau Instagram, tapi menjangkau orang-orang yang memiliki karakteristik berintelegensia tinggi dan penuh optimisme akan menjadi ajang latihan tersendiri bagi si stafsus. Ia harus mampu berkomunikasi dan menyebarkan pesan dengan gaya yang dapat menunjukkan kejeniusan otaknya dan kapabilitas dia sebagai staf khusus di waktu yang bersamaan.

Jadi dua pertanyaan yang sempat saya pikirkan perihal alasan stafsus mencoba eksis di LinkedIn dan menonjolkan afiliasinya sudah terjawab. Bukan untuk menarik perhatian recruiter sebuah perusahaan, bukan untuk menginspirasi juniornya di kampus, dan bukan pula buat cari jodoh. Tapi untuk menebar manfaat karena dia adalah tokoh publik. Oke.

BACA JUGA Staf Khusus Milenial tuh Kerjaannya Ngapain sih?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
4


Komentar

Comments are closed.