Ada satu kalimat yang masih sering saya dengar ketika ada adik kelas atau teman dari luar daerah hendak kuliah di Yogyakarta. “Tenang saja, kuliah di Jogja (khususnya Sleman) itu murah.”
Nah, kalimat itu mungkin benar sepuluh atau lima belas tahun lalu. Masalahnya, banyak orang masih mengucapkannya hari ini, seolah waktu berhenti bergerak. Padahal, siapa pun yang benar-benar tinggal di Sleman tahu kenyataannya berbeda. Sleman memang masih dipenuhi kampus, tetapi pelan-pelan ia berhenti menjadi tempat yang ramah bagi kantong mahasiswa.
Cobalah datang ke kawasan sekitar UGM, UNY, UPN Veteran Yogyakarta, UII, atau UIN Sunan Kalijaga. Yang pertama mencolok bukan lagi deretan warung makan murah, melainkan kafe, kos eksklusif, apartemen, hotel, dan bangunan-bangunan baru yang terus tumbuh. Setiap tahun ada gedung baru berdiri, tetapi ekonomi masih di titik yang sama. Kemewahan baru terus muncul, mahasiswa malah makin tenggelam.
Harga kos menjadi contoh paling mudah. Dulu, mencari kos dengan tarif Rp400 ribu hingga Rp600 ribu bukan perkara sulit. Sekarang, angka itu semakin langka di kawasan yang dekat kampus. Yang bermunculan justru kos dengan tarif lebih dari satu juta rupiah per bulan, lengkap dengan embel-embel “eksklusif”, AC, kamar mandi dalam, hingga parkir luas.
Tidak ada yang salah dengan kos mahal. Yang menjadi soal adalah ketika pilihan kos terjangkau semakin sedikit, sementara mahasiswa tidak otomatis datang dari keluarga berada.
Harga makanan di Sleman nyatanya memang mahal
Cerita serupa terjadi pada makanan. Orang masih membanggakan Jogja sebagai kota dengan makan murah. Padahal, menemukan seporsi makan dengan harga belasan ribu rupiah yang porsinya layak kini semakin sulit di sekitar kampus. Belum lagi biaya laundry, parkir, fotokopi, internet, hingga ongkos transportasi yang ikut merangkak naik. Pengeluaran mahasiswa tidak lagi berhenti pada biaya kuliah dan uang kos.
Ironisnya, narasi “Jogja kota mahasiswa murah” tetap dipelihara. Seolah-olah cukup dengan mengulang kalimat itu, kenyataan ikut berubah. Padahal mahasiswa baru biasanya baru sadar setelah sebulan tinggal di Sleman. Mereka datang membawa bayangan hidup hemat, lalu pelan-pelan menyadari bahwa uang bulanan yang dulu terasa cukup kini habis sebelum akhir bulan.
Di titik ini, saya justru ingin bertanya kepada Pemerintah Kabupaten Sleman, apakah benar masih ada keberpihakan kepada mahasiswa sebagai kelompok yang selama puluhan tahun ikut menghidupkan ekonomi daerah ini?
Sleman menikmati keuntungan besar karena menjadi rumah bagi banyak perguruan tinggi. Mahasiswa menyewa kos, membeli makan, menggunakan transportasi, berbelanja kebutuhan harian, hingga menggerakkan ribuan usaha kecil. Mereka bukan sekadar penumpang. Mereka adalah salah satu roda ekonomi Sleman.
Namun, keberadaan mereka seperti hanya dipandang sebagai pasar. Selama masih ada mahasiswa yang datang setiap tahun, pembangunan terus berjalan tanpa banyak memikirkan dampaknya terhadap biaya hidup. Sawah berubah menjadi perumahan. Lahan kosong berubah menjadi kos premium. Bangunan bertingkat terus bermunculan. Harga tanah melonjak, dan efek dominonya merembet ke mana-mana.
Tidak semua pembangunan itu buruk. Persoalannya adalah arah pembangunan yang lebih sibuk mengejar nilai ekonomi daripada menjaga keterjangkauan hidup. Akibatnya, mahasiswa yang menjadi alasan mengapa Sleman berkembang justru semakin sulit menikmati hasil pembangunan tersebut.
Masih ada yang percaya (?)
Yang lebih mengherankan, masih banyak orang di luar Jogja yang percaya bahwa hidup di Sleman pasti murah. Mereka mungkin pernah tinggal di sini belasan tahun lalu, lalu menjadikan pengalaman itu sebagai patokan untuk kondisi hari ini. Padahal, Sleman yang mereka kenal sudah berubah.
Bullshit kalau masih ada yang bilang semua kebutuhan mahasiswa di Sleman murah. Murah untuk siapa? Untuk orang yang sudah bekerja dengan gaji tetap, mungkin iya. Untuk mahasiswa yang hidup dari kiriman orang tua dengan anggaran terbatas, ceritanya berbeda. Kenaikan seratus atau dua ratus ribu rupiah dalam biaya kos saja bisa berarti harus mengurangi jatah makan, menunda membeli buku, atau mencari pekerjaan sambilan agar tetap bisa bertahan.
Benar, hampir semua daerah mengalami hal serupa. Masalahnya adalah citra yang tertinggal jauh di belakang realitas. Sleman masih dijual dalam imajinasi lama, sementara kehidupan sehari-harinya sudah berubah. Orang datang dengan ekspektasi kota mahasiswa murah, tetapi yang mereka temui adalah biaya hidup yang semakin menyerupai kota besar.
Kalau Pemerintah Kabupaten Sleman benar-benar bangga menyebut daerahnya sebagai pusat pendidikan, kebanggaan itu seharusnya tidak berhenti pada jumlah kampus atau banyaknya mahasiswa baru setiap tahun. Kebanggaan itu harus diwujudkan dalam kebijakan yang membuat mahasiswa tetap mampu hidup dengan layak.
Mengendalikan alih fungsi lahan, menjaga ruang usaha kecil tetap hidup, memperbaiki transportasi publik, hingga memastikan kawasan sekitar kampus tidak sepenuhnya dikuasai bisnis yang menyasar kelas menengah atas adalah beberapa langkah yang lebih bermakna daripada sekadar slogan.
Sebab kota mahasiswa bukan hanya kota yang memiliki kampus. Kota mahasiswa adalah kota yang memungkinkan mahasiswa bertahan hidup tanpa harus terus-menerus cemas menghitung sisa uang di rekeningnya.
Selama itu belum terjadi, rasanya sudah saatnya kita berhenti mengulang kalimat, “Jogja, khususnya Sleman, masih kota mahasiswa yang murah.” Karena kalimat itu bukan lagi kenyataan. Ia tinggal mitos yang terus diwariskan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Sleman Tanpa UGM dan UNY Cuma Jadi Kabupaten Sunyi dan Mati
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













