Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Lapor-Laporan Itu Budaya Kita Sejak Kecil

Ahmad Abu Rifai oleh Ahmad Abu Rifai
3 Juni 2019
A A
lapor

lapor

Share on FacebookShare on Twitter

Tahun-tahun belakangan adalah suatu rentetan masa yang melelahkan. Bukan hanya karena hoaks dan aksi saling merendahkan, melainkan juga lapor-laporan yang membuat persaudaraan kita begitu ringkih. Siapa dari kita—misalnya—yang tak mengingat pelaporan Prabowo karena dianggap melecehkan “tampang” Boyolali atau Kaesang yang dianggap menistakan Islam? Mereka berdua beruntung karena masih bebas hingga sekarang. Tidak seperti Mas Dhani yang harus LDR-an sama Mbak Mulan—jeruji besi menguji kesetian cinta mereka. Uwuwuwu~

Jujur saja, hal ini memuakkan bagi saya—barangkali Anda sekalian juga merasa sama. Saya tidak habis pikir, mengapa banyak orang segampang itu membawa sesuatu ke meja pengadilan? Merasa terhina sedikit lapor, curiga sedikit lapor, gaji sedikit lapor. Lapor kok lhoooosssss~

ADVERTISEMENT

Pertanyaan itu muncul berulang-ulang dan terus berputar seperti keponakan laki-laki saya yang dengan penuh semangat lari-larian memutar di ruang tamu. Dia memang lagi aktif-aktifnya. Saya memandangi dia, berusaha melupakan pertanyaan dalam kepala. Namun tiba-tiba dia terjatuh dalam posisi telungkup dan seketika tangis pecah. Ibunya—alias kakak ipar saya—bergegas menghampiri.

“Duh, adek.” katanya. Wajahnya khawatir. Dia memeriksa keadaan anaknya—ada benjolan kecil tampak di jidat.

“Cup.. cup.. cup.. nggak apa-apa.” Kakak saya berusaha menenangkan, tapi usahanya gagal. Tangis si anak malah tambah keras.

“Adek jangan nangis. Duh, siapa tadi yang nakal? Lantainya ya?” kata Kakak saya mencoba trik baru. “Ah, lantainya ini salah.”

Pak.. pak… pak… (dia memukul lantai dengan telapak tangan kanan).

“Lantainya sudah Ibu bales. Adek berhenti nangis ya.”

Baca Juga:

Susu Tunggal, Susu yang Bikin Nostalgia Masa Kecil Warga Blitar

Indomie Kuah Comfort Food Saat Musim Hujan, No Debat!

Pelan-pelan keponakan saya diam; tangis perlahan berhenti. Sejenak saya kagum. Kakak saya telah menemukan formula efektif untuk menghentikan tangis anaknya. Tetapi setelah saya pikir-pikir, hal ini malah ironis. Saya menyadari suatu hal—ternyata sejak kecil, kita terbiasa menyelesaikan masalah dengan menyalahkan orang lain.

Dalam kasus ini, kita bisa melihat bahwa bukannya disuruh untuk hati-hati, anak kecil tersebut malah berusaha ditenangkan dengan cara menyalahkan hal lain. Alih-alih dinasihati untuk pelan-pelan saja, sang ibu malah memukul tembok. Tentu kejadian seperti ini tak hanya terjadi pada kakak ipar dan keponakan saya. Saya telah berulang kali melihat meski baru sadar. Saat anak jatuh dari sepeda, yang salah siapa? Aspal! Saat anak jatuh saat bermain bola, yang salah siapa? Jose Mourinho Bola! Saat anak dipatuk ayam karena ganggu terus, yang salah siapa? Jokowi! Kan semua salah Jokowi. hehe~

Kebiasaan ini—jika terus diterapkan pada anak—akan terus berlanjut sampai dewasa. Kita semua sama-sama tahu, anak kecil adalah insan polos yang menyerap apa saja. Besar kemungkinan, pikiran-pikiran atau perspektif yang kita tanamkan sejak kecil akan mengakar dalam diri mereka dan menjadi “pedoman laku” secara tidak sadar.  Anda boleh menganggap saya berlebihan. Namun siapa yang menyangkal bahwa Beethoven ditempa jadi musisi hebat oleh sang ayah saat masih unyu dan Newton yang gila baca sejak kecil?

Celakanya, cara pandang bisa kian kuat seiring dengan bertambah usia seseorang. Beethoven kian musisi-able saat bertambah dewasa. Newton kian jadi maniak baca seiring pertambahan usia. Namun apa yang terjadi dengan seseorang yang dari kecil diajarkan menyalahkan orang lain? Saat masih kecil, dia barangkali hanya membutuhkan orang lain untuk kemudian disalahkan agar merasa tenang. Saat dia sudah cukup besar dan bergaul dengan orang lain, maka dia akan menganggap dirinya benar dan orang lain salah lantas mengadu saat ada sebuah masalah. Barangkali inilah yang kemudian membuat siswa yang dijewer atau dicubit guru melapor kepada orang tuanya. Mereka tidak memiliki kesadaran untuk mengevalusi diri.

“Persetan dengan guru. Gara-gara telat dan ngerokok sambil misuh di kelas aja dijewer!” begitulah kata mereka dalam ruang imajiner saya.

Saat sudah dewasa atau tua, orang-orang yang hobi menyalahkan orang lain itu bermetamorfosis seperti mereka—tukang sedikit-sedikit lapor. Bodo amat dengan umur. Persetan dengan asas kekeluargaan. Jadi, sebetulnya budaya nyalahke liyan dan lapor-laporan itu sudah ada dalam—sebagian—diri kita sejak kecil. Tidak usah heran atau kaget.

Karena sudah jadi kebiasaan, lapor-laporan kemudian sangat sulit dihilangkan. Banyak orang bahkan memanfaatkannya untuk menjatuhkan lawan lewat jalur belakang—barangkali karena takut berkompetisi secara sehat.

Kita akhirnya bertanya—akankah budaya ini berakhir? Jawabannya sulit—sebab jawabnya ada di ujung langit. Alias—wallahu a’laam bis showaab~

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2022 oleh

Tags: Lapormasa kecilnostalgiaPemilu 2019Politik Indonesia
Ahmad Abu Rifai

Ahmad Abu Rifai

Takmir BP2M Unnes dan aktif di Kelas Menulis Cerpen Kang Putu

ArtikelTerkait

Saya Nggak Tau Seenak Apa Nasi Blue Band, tapi Nasi Jelantah dan Garam Juga Enak mojok.co

Saya Nggak Tahu Enaknya Nasi Blue Band, tapi Nasi Jelantah dan Garam Juga Enak

17 Februari 2021
data bps

Pegawai BPS akan Senang Jika Datanya Laris Manis

14 Mei 2019
nilai-nilai

Mempertanyakan Kembali Nilai-Nilai Kita

10 Juni 2019
puasa setengah hari

Puasa Setengah Hari, Baju Baru Setengah Porsi

30 Mei 2019
Hal-hal yang Dirindukan dari Warung Makan Zaman Dulu terminal mojok

Hal-hal yang Dirindukan dari Warung Makan Zaman Dulu

5 Juni 2021
telepon rumah

Kenangan Bersama Telepon Rumah dan Wartel

15 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer Mojok.co

Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer

19 Juli 2026
Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai? (Unsplash)

Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai, padahal tinggal deket pantai?

18 Juli 2026
4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi ruang publik yang lebih hidup  Mojok.co

4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi jadi daerah lebih hidup 

17 Juli 2026
Kenapa orang Jogja nggak suka makan gudeg? (Unsplash)

Kenapa orang Jogja nggak suka makan gudeg, padahal tahu gudeg yang enak, gurih, dan murah?

19 Juli 2026
Pengakuan orang Semarang, lidah Jawa saya menyerah pada kuliner Jakarta yang nggak bikin selera Mojok.co

Pengakuan orang Semarang, lidah Jawa saya menyerah pada kuliner Jakarta yang nggak bikin selera

19 Juli 2026
Mohon maaf, tidak semua orang suka tahu campur Lamongan, bahkan saya sebagai warlok juga kurang cocok

Mohon maaf, tidak semua orang suka tahu campur Lamongan, bahkan saya sebagai warlok juga kurang cocok

19 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.