Apakah Kita Sudah Benar dalam Berteman? – Terminal Mojok

Apakah Kita Sudah Benar dalam Berteman?

Artikel

Avatar

Dalam suatu pertemanan, orang-orang sering membuat suatu lingkaran pertemanan dengan orang-orang yang mereka anggap sepemikiran. Dalam hal ini bukan maksud memiliki rasa untuk menjadi saling menggolongkan, namun memang seseorang memiliki kenyamanan tersendiri dalam berteman.

Dari hal ini kemudian memutuskan untuk selalu bersama-sama dengan grup atau golongan mereka dalam hal apapun, seperti makan bareng, liburan bareng, renang bareng, pilih pasangan calon yang sama, bikin grup WhatsApp, jikalau mereka mau revolusi pun mereka pasti bersama-sama—benar-benar menerapkan Pancasila.

Namun, dalam suatu lingkaran pertemanan dengan semangat persatuannya pun kadang ada problematika. Konflik internal dalam kelompok pertemanan yang kemudian saling mengucilkan satu sama lain. Yang semula sering posting foto bareng-bareng, kemudian lambat laun berkurang sampai buat grup sendiri sendiri. Mungkin mereka nggak ada seleksi pendaftaran sebelum rekrut anggota. wkwkwk

Konflik internal dalam suatu lingkaran pertemanan disebabkan oleh banyak hal, seperti cara pandang yang berbeda, sifat yang ternyata menyimpang, ketahuan komunis, dan sebagainya. Menurut Aristoteles ada tiga macam pertemanan—pertemanan keperluan—atau lek ana butuhe thok—, pertemanan kesenangan, dan pertemanan baik.

Kita bahas dulu ketiga kategori pertemanan menurut Aristoteles. Yang pertama, pertemanan keperluan, sudah jelas kalau hal ini masio aku yo nggak omes pol. Pertemanan keperluan ini menurut Aristoteles akan cepat berlalu karena memang didasarkan pada kepentingan saja kayak paslon pilihanmu. Sebal memang kalau ada teman kaya gini, perlu untuk didepak dari grup, tapi ya jangan dimusuhi terlalu kejam.

Yang kedua, pertemanan kesenangan. Pertemanan kategori ini jelas-jelas podo ra mashok e karena pertemanan tipe ini sama halnya seperti pertemanan keperluan, mek butuhe tok pas seneng. Habis manis dibuang—suakit, Bos. Kalau ada teman seperti ini memang harus dikirim ke laut aja atau dikick dari grup. Tapi kembali lagi, jangan dimusuhi—terlalu kejam. hehe

Yang ketiga, pertemanan baik. Dalam kategori ini benar-benar menerapkan pertemanan sejati, menerima suka dan duka dalam pertemanan dan terus bersama apapun yang terjadi, singkirkan semua yang mengganggumu—o kok nyanyi. Kalau ada teman seperti itu ya harus dijaga baik-baik. Apalagi kalau punya hobi yang sama, terus sama-sama main Twitter dan nggak punya Instagram—wah wah, bener-bener mantep.

Baca Juga:  Ketahui Etika Tethering biar Teman Nggak Gedeg Sama Kamu yang Fakir Kuota

Dari ketiga kategori pertemanan yang bisa menyebabkan permasalahan ataupun sebaliknya, dalam lingkaran pertemanan yang dijalankan terkadang tidak saling memberikan ruang untuk saling merasa nyaman satu dengan yang lainya. Lingkaran pertemanan juga terkadang tidak memberikan kenyamanan dalam cara pandang yang berbeda, yang kemudian memberikan stigma yang buruk bagi cara pandang yang tidak sama tersebut.

Dalam lingkaran pertemanan seharusnya bisa memberikan kenyamanan dan saling menjaga satu sama lain, serta tidak membeda-bedakan kawan satu dengan yang lainya. Terkadang jika lingkaran atau grup pertemanan berisi 6 orang kemudian di sisi lain tiga teman lain saling memberikan kenyamanan karena tidak berbeda pemikiran dan melupakan tiga teman yang lainya karena berbeda pemikiran dan beda dari segi lainya.

Yo trus lapo nggae grup? Yang kemudian memberikan pemikiran bahwa lingkaran atau grup pertemanan hanyalah omong kosong. Dengan omong kosong tersebut kadang seseorang memilih untuk masuk dalam lubang yang sama. Lepas dari grup pertemanan dan masuk grup pertemanan yang lain. Dengan permasalahan yang tentunya akan terjadi kembali, tentang bagaimana seseorang tidak pernah menghargai dan saling membenci jika ada perbedaan, yang kemudian berakhir dengan mementingkan dirinya sendiri dan teman yang sepaham.

Terlepas dari permasalahan yang ada dengan suatu grup pertemanan adalah kadang melupakan bahwa kita memiliki teman yang lain, adalah teman yang tidak sama grup dengan kita. Memang hal tersebut adalah suatu pilihan tentang kenyamanan, namun hal tersebut terkadang memiliki hal yang buruk dan berakhir pada pertemanan yang otoriter kayak Suharto.

(Eh tunggu, siang-siang kok ada orang jualan nasi goreng depan rumah?)

Berteman memang sulit, permasalahan dalam pertemanan juga merupakan hal yang wajar. Tapi terkadang kita lupa diri jika sudah membenci. Jadi, apakah kita sudah benar dalam berteman?.

---
36


Komentar

Comments are closed.