Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Langkah Konkret Membatasi Peredaran Buku Bajakan, Bukan Tentang Tere Liye

Rina Purwaningsih oleh Rina Purwaningsih
31 Mei 2021
A A
Langkah Konkret Membatasi Peredaran Buku Bajakan, Bukan Tentang Tere Liye terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Di sini saya mau jujur bahwa latar belakang saya menulis di sini adalah karena desakan bolo-bolo saya di sebuah grup Telegram menulis. Sebenarnya saya malas berbalas pantun soal buku bajakan, eh, bacot sama (konon) penulis besar itu. Karena saya bukan penulis dan bukan siapa-siapa. Saya hanya hobi nulis. Kebetulan saja saya tahu dia sebelum terkenal kayak sekarang. Gebetan saya waktu itu (yah, ketahuan, deh) berkawan dengan Tere Liye. Kami satu angkatan di kampus yang sama, usia kami 11-12 lah. Tere Liye kenal saya? Jelas lah… Nggak.

Nggak suka sama omongan kasar Tere Liye? Nggak juga. Gini-gini saya pengagum Bu Risma yang kalau marah—katanya—kayak singa itu. Saya cuma menyayangkan saja kalau ngamuk-ngamuknya Tere Liye yang mampu menggetarkan dunia Google Trend Selasa kemarin cuma sebatas mbacot. What’s next? Langkah konkretnya apaan? Sudah dilaporkan ke pihak berwajib? Ternyata nggak gampang, kan? Kalau sebatas ngamuk atau misuh, semua orang mah bisa. Saya juga. Eh.

Ngomong-ngomong tentang langkah konkret, banyak komentar berseliweran di medsos, baik pro maupun kontra. Dari semua komen, ada satu komentar menarik dari seorang pengusaha UMKM makanan siap saji. Blio berpendapat tentang segala kemungkinan jika hukum pelanggaran hak cipta bisa ditegakkan seadil-adilnya (nggak cuma buku, tapi juga MP3, buku diktat kuliah, software, dll.), maka bagaimana nasib pekerja kelas menengah ke bawah dengan gaji di bawah 5 jutaan? Haruskah mereka meratapi nasib dan kembali ke jaman sebelum Renaissance?

Saya nggak mau sok suci bahwa saya bersih dari buku bajakan. Nehi! Tapi, syukurlah habis itu saya tobat dan kembali ke jalan yang benar. Saya menganut prinsip “sak tekane, sak candak e. Uri iku golek opo”—sesampainya, semampunya, hidup itu mau cari apa. Buku-buku berkualitas adalah benda wajib di rumah saya walaupun saya termasuk dalam kategori pekerja yang disebutkan mbak pengusaha tadi.

Berikut ini adalah langkah-langkah yang sudah saya ambil sebagai penghargaan kepada penulis beserta segala penyerta di belakangnya. Ini cuma sharing. Beda orang, beda pilihan. Nggak cocok, yaaa jangan dipakai. Hidup cuma sekali. Nggak usah dibikin pusing.

#1 Pinjam teman

Inilah pentingnya jangan banyakin nyocot sebelum terkenal. Perluas pergaulan. Banyakin kawan bukan lawan. Saya berteman dengan kawan yang tajir, tapi suka buku-buku ori berkualitas. Jadi, kalau butuh pinjam buku bilangnya enak. Sudah misqueen, lambenya malah digedein, nggak dapat buku incaran, malah ujug-ujug viral terus bikin pernyataan minta maaf. Basi.

#2 Beli buku bekas di pasar buku bekas

Saya suka cari buku-buku klasik buat anak-anak seperti karangan Enid Blyton atau Hans Christian Andersen dan dewasa semacam karya Mark Twain, Ernest Hemingway,  Bibhutibhusan Banerji, dll. di pasar buku bekas. Walaupun bekas, yang penting masih layak baca. Semakin nggak menarik penampilannya, semakin miring harganya. Yang di Jakarta bisa mampir ke Pasar Kenari (dulunya Kwitang). Sementara kalau di Surabaya saya biasa cari ke Jalan Semarang.

#3 Pergi ke perpustakaan

Jangan bayangin perpustakaan sekarang kayak zaman kita dulu. Suram, berdebu, sarang laba-laba bertebaran di mana-mana, kadang ada si Mickey (beneran) lari ke sana kemari. Sekarang perpus tuh asyik, lho, kayak nge-mal! Koleksi yang lengkap, tempat baca yang nyaman, mau duduk di depan meja bisa, duduk di lesehan boleh, bahkan sambil rileks di sofa empuk juga ada. Kalau lapar tinggal lari ke kantin. Ada ruang multimedia, audio visual, taman bermain anak, bahkan koleksi untuk teman-teman disabilitas. Sayangnya, perpus-perpus yang asyik itu masih ada di kota-kota besar saja seperti di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dll. Teman-teman yang perpus di kotanya masih gitu-gitu saja semoga nanti pemdanya segera terpanggil dan bisa menyusul, yak!

Baca Juga:

Perpustakaan Harusnya Jadi Contoh Baik, Bukan Mendukung Buku Bajakan

Festival Pustaka Sastra Tokopedia: Pembeli Nggak Bakal Dapat Buku Bajakan Saat Belanja, HKI Penulis pun Terlindungi

#4 Nabung, dong

Biasanya saya menyambangi toko-toko buku, baik online maupun offline, supaya tahu buku apa saja yang lagi jadi best seller. Saya bikin list mana buku yang ingin baca dan mampu saya beli. Setiap bulan saya alokasikan dana khusus untuk membeli buku buat saya maupun anak saya. Dana khusus ini sengaja saya alokasikan lantaran harga buku ori yang biasanya bukan lagi puluhan ribu, melainkan hingga ratusan dan jutaan untuk jilid buku berseri. Yang harga terakhir saya nggak saranin, deh. Biar pemerintah saja yang beli, kita tinggal pinjam. Wqwqwq.

#5 Arisan buku

Ini berhubungan dengan buku jutaan tadi. Saya sendiri nggak pernah coba, sih. Saya lebih suka buku satuan dari berbagai genre daripada berjilid-jilid tapi sudah keburu bosan di tengah jalan. Mubazir, deh. Lagi pula ikutan arisan biasa ala ibu-ibu PKK dapatnya juga duit, kan sama saja duitnya bisa dipakai buat beli buku juga. Enak gitu malah, kita jadi bisa beli buku dari berbagai genre.

#6 Kado buku

Saya dan anak saya biasa saling memberi kado ultah atau kado atas pencapaian prestasi berupa buku. Tentunya saya lebih dulu survei soal harga dan isi buku incaran, sehingga saya pastikan anak saya senang menerimanya. Saya pun sering meminta kado buku dari suami. Blio juga melakukan hal yang sama dengan saya: survei harga dan nabung dulu.

Sebenarnya masih ada beberapa langkah konkret mendapatkan ilmu tanpa harus membeli buku bajakan. Misalnya, pergi ke pameran buku akbar seperti BBW. Bukunya ori dan banyak buku-buku import dengan harga miring. Sayangnya, kita nggak tahu kapan pandemi berakhir. Nggak mau kayak kasih harapan kosong, saya kasih yang sudah jelas saja. Daripada kecewa, nanti nyinyir di medsos. Meminjam kalimat pernyataan Mbak Citra Monika, “Kalau Anda nggak tahu apa-apa, jangan komentar!”

Hih! Bisanya cuma pinjam.

Buku saja saya pinjam, kok, masa kalimat nggak?

BACA JUGA Hal-hal yang Perlu Kita Lakukan jika Telanjur Beli Buku Bajakan dan tulisan Rina Purwaningsih lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 28 Desember 2021 oleh

Tags: buku bajakanPojok Tubir Terminaltere liye
Rina Purwaningsih

Rina Purwaningsih

Seorang ibu 2 putri spesial. Pemerhati, penyintas dan caregiver kesehatan mental.

ArtikelTerkait

aturan lalu lintas 4 orang menyebalkan saat kecelakaan lalu lintas lakalantas mojok

4 Jenis Pengendara Bodoh yang Berpotensi Bikin Celaka Pengendara Lain

26 Mei 2021
ha milik tanah klitih tingkat kemiskinan jogja klitih warga jogja lagu tentang jogja sesuatu di jogja yogyakarta kla project nostalgia perusak jogja terminal mojok

Klitih di Jogja: Akibat dari Mental Chauvinis dan Maskulinitas ala Feodal

9 Agustus 2021

Pentingnya Minta Persetujuan Penerima Sedekah Sebelum Dijadikan Konten Medsos

7 Juni 2021

AS Laksana Memberikan Contoh bahwa Mengarang Itu Gampang, Asal Ada Nama Besar

8 Juni 2021
keranda terbang coach tom karyawan sakit sabotase bisnis manipulasi karyawan mojok

Logika Karyawan Sakit Sedang Sabotase Bisnis ala Coach Tom Itu Logis

1 Juni 2021
Perkara Croissant di Jakarta yang Tampak Lebih Mahal daripada di Australia terminal mojok.co

Perkara Croissant di Jakarta yang Tampak Lebih Mahal daripada di Australia

10 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan nasi muduk

Nasi Muduk, Kuliner Nikmat yang Tak Pernah Masuk Brosur Kuliner Lamongan, padahal Berani Bersaing dengan Soto dan Pecel Lele!

16 Maret 2026
7 Menu Toko Roti GO Purwokerto Paling Underrated (Unsplash)

7 Menu Toko Roti GO Purwokerto Paling Underrated: Kombinasi Rasa yang Memanjakan Lidah dan Semua Cocok Jadi Buah Tangan

21 Maret 2026
Pertama Kali Mencicipi Swike: Makanan Berbahan Dasar Kodok yang Terlihat Menjijikan, tapi Bikin Ketagihan Mojok.co

Katak dalam Soto, Ternyata Swike: Pengalaman yang Membuat Saya Kini Tak Mudah Percaya dan Meragukan Segalanya

21 Maret 2026
Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi (Unsplash)

Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi

19 Maret 2026
5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-Mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

17 Maret 2026
Ironi Fresh Graduate Saat Lebaran: Gaji Masih di Bawah UMR, tapi Sudah Tidak Kebagian THR Mojok.co

Lebaran Membosankan Nggak Ada Hubungannya Sama Menjadi Dewasa, Itu Artinya Kamu Lagi Mati Rasa Saja

16 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.