Arisan Beda dengan Menabung, Jangan Salah Paham! – Terminal Mojok

Arisan Beda dengan Menabung, Jangan Salah Paham!

Artikel

Vivi Wasriani

Tentu kita sudah nggak asing lagi dengan istilah arisan. Entah seperti apa sejarahnya, yang jelas kegiatan satu ini identik dengan kegiatan berkumpul milik ibu-ibu. Di zaman sekarang, arisan nggak melulu soal duit. Sudah ada barang lain yang bisa didapat, misalnya lemari, tas branded, bahkan emas. Ikut arisan memang terdengar ringan dan bermanfaat. Apalagi dengan acara kumpul-kumpul setiap minggu yang bisa jadi ajang pelepas stres dari urusan rumah.

Anehnya, banyak orang yang masih nggak paham (atau memang nggak mau paham, ya?) soal konsep arisan yang sebenarnya. Kebetulan, kakak saya adalah bandar arisan. Dari blio, saya mendapat banyak kisah tentang hal ini. Di tiap arisan, akan selalu ada orang yang bolos bayar setoran, pun orang-orang yang mau minta hasilnya lebih dulu, padahal namanya belum keluar di kertas guncangan.

Dari sini, dapat saya simpulkan banyak orang yang masih berpikir bahwa arisan bisa disamakan dengan menabung. Mentang-mentang setiap minggu ngumpulin duit di satu tempat, langsung berpikir itu menabung. Padahal ya jelas bukan. Dari namanya saja sudah beda, kan?

Sekali lagi saya katakan arisan itu bukan tabungan. Selain sebagai ajang berkumpul, arisan itu sebenarnya pembuka pintu utang. Begini lho maksud saya, kalau ikut kita bakal setor uang tiap minggu, ikut menyaksikan aksi guncangan, dan melihat nama siapa yang keluar dari kertas guncangan tersebut. Nah, kalau nama kita sudah keluar di minggu kelima sedangkan ada total sepuluh kali setoran, artinya kita masih perlu setor sampai minggu kesepuluh walaupun hasilnya sudah kita ambil duluan di minggu kelima tadi.

Baca Juga:  Tidak Turunnya UKT Adalah Misi Membuat Kampus Kaya, Mahasiswa Sengsara

Jadi seperti konsep utang, kan? Atau malah lebih cocok disebut kredit, ya? Hmmm, saya rasa sih arisan adalah gabungan antara konsep utang dan kredit. Intinya, daripada disebut menabung, arisan itu lebih cocok disebut utang yang dielegankan. Arisan itu nggak bisa kita ambil sewaktu-waktu di saat perlu. Bisanya diambil saat nama kita memang sudah keluar di kertas guncangan. Juga bukan menabung di mana kita bisa setor pas lagi punya uang lebih saja.

Kalau berani ikut arisan, itu artinya berani berkomitmen. Komitmen untuk membayar setoran tiap minggu, bukan saat lagi ada uang lebih saja.

Kakak saya juga bercerita bahwa blio hampir selalu kewalahan setiap minggunya untuk mengisi setoran yang kosong milik orang lain. Mengapa kakak saya harus mengisi setoran yang kosong milik orang lain? Bukannya lebih baik biarkan saja kosong sampai orang tersebut bayar? Tentu pertanyaan semacam itu keluar dari mulut orang awam dalam dunia arisan.

Sebagai bandar, kakak saya perlu menjamin bahwa uang atau barang yang didapat oleh orang lain itu tepat jumlahnya. Entah semua peserta sudah bayar atau masih ada yang menunggak, pokoknya tugas kakak saya ya memastikan jumlahnya tepat untuk orang yang mendapatkannya. Kalau begitu, mau nggak mau kakak saya harus menalangi dulu, kan? Kalau nggak begitu, bisa-bisa kakak saya nanti difitnah nggak amanah.

Baca Juga:  Omong Kosong Formula 60:30:10 ala Daniel Kaito

Begini deh, kalau merasa kemampuan finansial kita belum mampu berkomitmen untuk membayar tiap minggunya dan daripada merepotkan bandar yang sudah cukup repot, lebih baik nggak perlu memaksakan ikut. Apalagi kalau hanya sebatas untuk gengsi atau untuk menikmati acara berkumpul saja.

Mending menabung saja daripada ikut arisan. Ya sebenarnya sih, ikut atau nggak itu adalah hak semua orang. Tapi, sadar diri saja dengan keadaan. Kalau menabung kan nggak ada tuntutan harus bayar sekian dalam waktu sekian. Dan kalau ada keperluan mendesak pun bisa diambil kapan saja. Nggak bikin diri kita tertekan sendiri, kan?

Ingat dan pahami ya, arisan itu seperti membayar utang. Pun bukan tabungan apalagi investasi jangka pendek. Jangan disamakan~

BACA JUGA Jadi Tuan Rumah Arisan Ibu-ibu? Siapa Takut! dan tulisan Vivi Wasriani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
7


Komentar

Comments are closed.