Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Ekonomi

Setelah Saya Belajar Ekonomi Makro, Saya Baru Tahu bahwa Ternyata Belanja Sama Pentingnya dengan Menabung

Faris Firdaus Alkautsar oleh Faris Firdaus Alkautsar
25 Januari 2026
A A
Setelah Saya Belajar Ekonomi Makro, Ternyata Belanja Sama Pentingnya dengan Menabung

Setelah Saya Belajar Ekonomi Makro, Ternyata Belanja Sama Pentingnya dengan Menabung

Share on FacebookShare on Twitter

Sejak kecil, banyak dari kita tumbuh dengan satu nasihat ekonomi yang terdengar paling aman: jangan besar pasak daripada tiang, hemat pangkal kaya. Saya percaya itu cukup lama, sampai akhirnya belajar ekonomi makro dan sadar bahwa hidup ternyata tidak sesederhana pepatah dan keterangan debit kredit buku tabungan.

Di titik itu saya baru paham: spending (membelanjakan) sama pentingnya dengan saving (menabung).

Tentu saja bukan dalam arti foya-foya. Tapi dalam arti ekonomi yang lebih luas, membelanjakan uang justru punya peran vital dalam menjaga denyut kehidupan bersama.

Menurut ekonomi makro, uang yang diam itu tidak produktif

Dalam ekonomi makro, yang melihat ekonomi dengan kaca besar—secara umum. Uang itu perlu bergerak. Ketika kita membelanjakan uang, kita tidak sedang sekadar “kehilangan saldo”, tapi sedang memindahkan daya hidup ke orang lain.

Gini, kalau bingung, saya kasih analogi jajan bakso.

Saat kita bayar itu bakso, itu tidak hanya berhenti jadi keuntungan tukang bakso. Tidak. Ia akan bergerak ke pedagang daging, penjual bumbu, petani sayur, hingga warung kelontong yang sering jadi tujuan anaknya jajan es krim.

Nah,uang itu pun masih dibelanjakan lagi oleh mereka selaku pelaku ekonomi. Entah jadi belanjaan, entah jadi modal dagangan, entah jadi sepatu Adidas Predator. Intinya, duit muter, dari semangkok bakso.

Sekarang bayangkan kebalikannya. Kita memilih menahan uang itu, demi irit absolut. Jika dilakukan satu orang, dampaknya kecil. Tapi jika dilakukan banyak orang entah karena harga naik, pajak mencekik, atau ketidakpastian masa yang akan datang—maka uang tertahan, perputaran melambat, dan ekonomi ikut batuk-batuk.

Baca Juga:

Penyesalan Menyepelekan Petuah Rajin Menabung dari Ortu, padahal Kebiasaan Itu yang Menyelamatkan di Tengah Kondisi Ekonomi yang Bikin Cemas

Tips Belanja di Warung Madura supaya Menjadi Pelanggan Kesayangan Pemilik Tokonya

Efek berantai seperti ini juga dapat kembali ke kita.

BACA JUGA: Strategi Psychological Pricing Penjual Sempol yang Tidak Kita Sadari

Setelah belajar ekonomi makro, irit ternyata kadang bukan hal yang bagus

Irit sering dianggap otomatis bijak. Padahal, irit yang berlebihan justru bisa kontraproduktif. Uang yang seharusnya kembali ke siklus perekonomian malah mengendap. Dampaknya bukan hanya ke satu subjek ekonomi seperti tukang bakso pada contoh tadi, tapi ke banyak subjek ekonomi yang menggantungkan hidup pada belanja orang lain.

Di titik ini, irit berubah dari kebiasaan yang biasanya dinilai baik menjadi tindakan yang dapat memicu perlambatan. Padahal ekonomi tidak berjalan dengan menahan napas terus-menerus. Ia butuh aliran. Membelanjakan uang berarti memasukkan uang kembali ke siklus peredaran uang. Uang tersebar, uang terputar, ekonomi pun bergerak.

Budgeting yang proporsional

Belanja bukan lawan dari menabung. Keduanya pasangan yang tidak boleh dipisahkan. Yang bermasalah bukan spending , tapi spending tanpa kendali (foya-foya). Ya, betul, belanja onlinemu yang tidak penting itu adalah salah satunya.

Di sinilah budgeting masuk akal wajib diterapkan. Mengalokasikan uang secara sadar bukan asal pelit, bukan asal jajan. Kebutuhan primer tetap prioritas, tabungan dan dana darurat tetap ada, hiburan tetap diberi ruang agar hidup tidak terasa sebagai hukuman. Lakukan self reward sesekali juga bukan hal buruk.

Sesekali ya, bukan sekali sehari. Ya nggak apa-apa sih kalau kapitalmu gede. Tapi kalau nggak, ya sebaiknya menahan diri.

Mengatur penggunaan uang (budgeting) dengan skema 50-30-20 atau versi lain, itu soal preferensi. Intinya: uang dikelola, bukan disembunyikan dari dunia.

BACA JUGA: Resesi This, Resesi That, Emangnya Kalian Ngerti?

Menyimpan uang juga perlu strategi

Menabung pun tidak melulu soal menimbun di satu tempat. Sebagian disimpan di rekening cair, sebagian di instrumen yang bisa berkembang seperti reksa dana, saham, atau emas. Tujuannya bukan agar uang “dipuja”, tapi agar siap digunakan dan tetap bernilai.

Menabung di bank pemerintah juga membantu perekonomian sebab uang yang disimpan akan diputarkan oleh bank menjadi berbagai produk keuangan. Jangan lupa menyimpan uang dengan aman dan bijak. Jangan pernah menyimpan uang di tempat yang berisiko kehilangan seperti disembunyikan di balik dipan kasur atau karung.

Bukan, bukan karena korupsi. Takut dimakan rayap aja. Kalau ada yang korupsi ditaruh di kasur sih, nggak tau ya.

Belajar ekonomi makro membuat saya sadar hidup bukan lomba siapa paling irit. Tapi tentang memenuhi kebutuhan dan memanfaatkan sumber daya sebaik-baiknya. Bijak berekonomi berarti tahu kapan menahan, kapan melepas. Kapan menabung, kapan membelanjakan.

Karena uang yang berputar bukan cuma menghidupi kita, tapi juga orang lain.

Penulis: Faris Firdaus Alkautsar
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kukira Jurusan Ekonomi Pembangunan Cuma Itung-itungan, Ternyata Isinya Analisis Kebijakan Melulu yang Bikin Pusing

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Januari 2026 oleh

Tags: belanjaekonomi makroMenabungreksa dana
Faris Firdaus Alkautsar

Faris Firdaus Alkautsar

Mahasiswa Akuntansi Universitas Terbuka. Punya motto hidup "walau berjalan di atas bumi, ingatlah bahwa kita hidup di bawah langit".

ArtikelTerkait

Di Jepang, Belanja Baju di Uniqlo dan GU Itu Biasa Aja Terminal Mojok.co

Di Jepang, Belanja Baju di Uniqlo dan GU Itu Biasa Aja

18 April 2022
4 Kecurangan di Shopee yang Bikin Saya Geram

4 Kecurangan di Shopee yang Bikin Saya Geram

4 Desember 2023
Kelemahan Menabung Emas di Pegadaian yang Nggak Disadari Banyak Orang Mojok.co

Kelemahan Menabung Emas di Pegadaian yang Perlu Disadari Banyak Orang

12 Agustus 2024
Hari Tanpa Belanja Sedunia Catatan Aktivitas Belanja Online di Indonesia Terminal Mojok

Hari Tanpa Belanja Sedunia: Catatan Aktivitas Belanja Online di Indonesia

26 November 2022
3 Jenis Orang yang Bikin Saya Malas Belanja di Supermarket terminal mojok

3 Jenis Orang yang Bikin Saya Malas Belanja di Supermarket

15 Juni 2021
Panduan Menabung untuk Membeli Rumah ala Yu Ja-seong di 'Monthly Magazine Home' terminal mojok

Panduan Menabung untuk Membeli Rumah ala Yu Ja-seong di ‘Monthly Magazine Home’

15 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mati Listrik di Jogja Adalah Cara Cepat Membunuh Orang Miskin (Unsplash)

Mati Listrik di Jogja Membuka Kenyataan Bahwa Orang Miskin Membayar Lebih Mahal dari Masalah yang Tidak Mereka Ciptakan

20 Juni 2026
S2 UGM Diperebutkan Lulusan S1 dari Kampus Mana Aja kecuali dari Kampus Sendiri Mojok

Boikot UGM Itu Hak Semua Orang, tapi Jangan Lupa Kalau Keterima UGM itu Nggak (Pernah) Gampang  

19 Juni 2026
Perjalanan Pulang Kerja Naik Bus Bekasi-Cikupa, Pahit yang Harus Dijalani Tiap Hari

Perjalanan Pulang Kerja Naik Bus Bekasi-Cikupa, Pahit yang Harus Dijalani Tiap Hari

23 Juni 2026
Kandang Ayam Datang Belakangan, Rusak Kenyamanan (Unsplash)

Rumah Saya Perlahan Kehilangan Rasa Nyaman Akibat Kandang Ayam yang Datang Belakangan

21 Juni 2026
Nissan Grand Livina 2009, Mobil Sepuh yang Menemani Saya Belajar Nyetir Mojok.co

Nissan Grand Livina 2009, Mobil Sepuh Terbaik untuk Belajar Nyetir

18 Juni 2026
Sidang Skripsi Nggak Perlu Dirayakan Berlebihan, Ingat Ada Revisi Mojok.co

Jangan Bangga Skripsi Nggak Banyak Revisi, Bisa Jadi Itu Pertanda Salah Arah yang Bikin Repot Saat Sidang Nanti  

20 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.