Jadi Tuan Rumah Arisan Ibu-ibu? Siapa Takut!

Artikel

Avatar

Sebagian besar kaum adam pasti merasa gak nyaman ketika rumahnya kebagian jatah menggelar arisan ibu-ibu. Mulai dari canggung sampai tidak ingin keberisikan.

Umumnya mereka mencoba mengatasi ketidaknyamanan itu dengan berbagai macam cara. Ada yang mengungsi ke tetangga, ada yang bertapa di tempat pemancingan, ada yang pergi servis motor padahal motornya gak kenapa-kenapa, ada pula yang mengurung diri di kamar sambil pasang headset atau bermain PS.

Buat yang memakai cara itu, nih saya kasih tahu, itu lemah, Bro. Sebetulnya hal tersebut tidak perlu kalian lakukan. Rumah itu adalah istana kalian, jangan menyingkir begitu saja karena arisan ibu-ibu. Buatlah diri kalian menjadi tuan rumah yang baik di sana.

Caranya bermacam-macam. Di sini saya akan sebutkan beberapa saja.

Ikut nimbrung

Topik obrolan di arisan ibu-ibu memang berbeda jauh dengan topik obrolan bapak-bapak. Kita senang membicarakan tentang bola, mereka ngobrol seputar drama Korea. Namun sebagai bapak-bapak kekinian, sebaiknya kita mampu beradaptasi dengan topik apa pun.

Gengsi? Gak lah. Mengenali satu sisi kehidupan saja akan membuat manusia lemah. Itulah mengapa samurai-samurai pada jaman Jepang feodal tak cuma belajar ilmu peperangan saja. Terkadang mereka belajar Ikebana dan membuat Haiku.

Jadi, obrolan nyambung dengan ibu-ibu tidak akan membuat derajat sebagai laki-laki turun. Justru anda akan disebut sebagai pria versatile yang up to date.

Selain itu, hal ini merupakan satu bentuk silaturahmi. Anda bisa tahu dengan siapa saja istri bergaul. Itu penting. Kan gak lucu kalau di tengah jalan bertemu ibu-ibu yang mengenali Anda, tapi Anda tidak mengenali dia.

Bantu-bantu

Menggelar arisan ibu-ibu tidak seenteng ngopi-ngopi biasa. Ada banyak hal yang harus disiapkan. Mulai dari menata tempat, menghidangkan makanan, belum lagi beres-beres sesudahnya.

Hal itu tentu saja tidak bisa dilakukan sendirian oleh istri kita. Dia pasti kelabakan. Ujung-ujungnya dia ngomel-ngomel. Ujung-ujungnya terjadi percekcokan.

Dengan tetap bertahan di rumah dan bantu-bantu, selain terhindar dari prahara rumah tangga, Anda bisa menjadi suami yang baik. Hal itu tentu saja akan mendatangkan pujian dari peserta arisan ibu-ibu. Jika sudah begitu, istri Anda akan bangga dan senang. Istri yang bangga dan senang akan lebih mantap ketika diajak “bergoyang”.

Bikin acara hiburan

Selain makan-makan, biasanya arisan ibu-ibu cuma diisi acara mengobrol. Itu sudah menjadi pakem sejak arisan kali pertama kali. Sungguh membosankan.

Nah, bagi Anda yang punya skill lebih bisa berinovasi dengan unjuk kebolehan di sana. Entah itu bermain sulap, stand-up comedy, bermain musik, atau atraksi debus sekalian.

Di samping memberi warna baru, ini merupakan kesempatan bagus untuk mencari tambahan penghasilan ketika arisan ibu-ibu tiba. Siapa tahu di antara geng arisan istri ada yang membutuhkan pertunjukan. Kalau belum ada, siapa tahu di antara mereka punya kenalan yang membutuhkan.

Gelar dagangan

Tidak bisa dipungkiri, ibu-ibu adalah pasar yang potensial. Menggelar lapak di arisan ibu-ibu adalah strategi cerdas. Apalagi kalau dagangan kita adalah barang-barang yang biasa mereka pakai. Kita tidak perlu repot-repot mencari lokasi, pembeli sudah tersedia. Tinggal bagaimana caranya kita mempromosikan dagangan.

Kalau ternyata hasilnya tidak sesuai ekspektasi, kita tak perlu berkecil hati. Mungkin di antara mereka ada yang bersedia menjadi reseller. Kan enak punya pasukan yang sudah dikenal.

Mengasuh anak-anak

Ketika arisan, sudah biasa jika ibu-ibu membawa anak-anak. Masalahnya, saking asyik ngobrol dan mengisi lambung, para ibu-ibu jadi tidak fokus pada anak-anak mereka. Akibatnya anak-anak bermain seenaknya. Mereka mengacak-acak rumah, membuat kotor, atau bertengkar. Suasana rumah pun jadi gak karuan.

Untuk itu harus ada yang mengkoordinir mereka. Ajaklah anak-anak itu bermain. Kalau gak punya mainan, dongengkan mereka. Kalau gak punya dongeng, ajak mereka menggambar di buku.

Memang sedikit merepotkan, apalagi buat jiwa-jiwa yang mendambakan kebebasan. Tapi percayalah, itu lebih baik daripada mereka menggambar di tembok atau menggambar di mobil dengan menggores bodi mobil menggunakan sendok.

Nah, sudah punya gambaran kan apa saja yang bisa kita lakukan saat rumah dipakai arisan ibu-ibu. Ternyata menjadi tuan rumah yang baik gak sulit-sulit amat, kan.

Bagi yang ngotot ingin bersemedi di alam mimpi atau mengikuti kongres di pos ronda silakan saja. Asal nanti pas pulang ke rumah jangan kaget kalo bodi mobil pada baret-baret, ya.

BACA JUGA Belajar Menerima Penolakan Cinta dari Naruto atau tulisan Agung Setoaji lainnya.

Baca Juga:  Mahasiswa yang Nyantet DPRD, Presiden, dan KPK: Entah Apa yang Merasukimu

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
3


Komentar

Comments are closed.