Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kunci Sukses Mana yang Lebih Menentukan: Membangun Relasi atau Mengasah Soft Skill Dulu?

Aly Reza oleh Aly Reza
23 Mei 2020
A A
Bekerja Sesuai Passion Itu Klise, Layaknya Kata Manis yang Bikin Diabetes terminal mojok.co

Bekerja Sesuai Passion Itu Klise, Layaknya Kata Manis yang Bikin Diabetes terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Menginjak usia 20-an bisa dibilang adalah fase ketika kita akan dilema dengan banyak hal; masa-masa ketika kita akan lebih banyak ngerasa overthinking dan insecure dengan diri sendiri. Hari-hari kita akan lebih sering dihinggapi dengan rasa cemas dan gundah perihal apakah yang sudah kita siapkan atau kerjakan untuk menyongsong masa depan. Bayang-bayang kegagalan selalu berseliweran di dalam kepala.

Untuk sedikit meredam resah dan gelisah yang tiada sudah ini, biasanya orang-orang di usia ini (khususnya yang masih mahasiswa) sejauh yang saya amati terbagi ke dalam dua pilihan. Yaitu pilihan untuk membangun relasi atau pilihan untuk mengasah soft skill lebih dulu. Kedua pilihan tersebut menurut saya punya dasar yang sama masuk akal dan sama okenya.

Dari hasil ngobrol-ngobrol santuy, saya merangkum argumen dari beberapa informan yang barangkali bisa menjadi pertimbangan: manakah pilihan yang lebih cocok dan lebih ngena buat kita? Berikut saya hadirkan khusus buat Anda.

Alasan orang yang menganggap memperluas jaringan lebih penting

Beberapa orang akan memilih menyibukkan diri di banyak komunitas maupun organisasi kampus. Pilihan menjadi organisatoris tidak lain adalah untuk sekadar mengisi waktu senggang—menambah-nambah jam kegiatan agar nggak terlalu mikirin sesuatu yang bawaannya bikin waswas: masa depan. Selain itu, menurut beberapa orang yang saya tanya, ada ketenangan tersendiri ketika seseorang bisa terlibat dalam sebuah organisasi atau komunitas tertentu.

“Dengan ikut beginian, jadinya udah nggak overthinking lagi, Mas. Soalnya misalnya nih, ya, suatu saat saya kesulitan ngewujudin apa yang saya cita-citakan, atau misalnya saya kesulitan buat cari kerja, paling nggak saya bisa mengontak beberapa kawan sesama organisasi yang sudah sekian langkah lebih depan dari saya. Itu pentingnya membangun banyak relasi,” terang informan A.

Lain lagi dengan informan B yang berpendapat bahwa memperluas jaringan itu memiliki banyak keuntungan. Katanya, dengan menjadi organisatoris, perangkat-perangkat kecil dalam diri kita seperti disiplin, mandiri, tanggung jawab, peka dan kreatif, survive dengan segala kondisi, serta beberapa keterampilan dan potensi dalam diri kita akan terasah dengan sendirinya.

“Sebab begini, Mas, soft skill saja kalau nggak punya temen banyak, ya itu soft skill nggak bisa diapa-apain, nggak bisa ke mana-manain juga,” terangnya.

“Beda cerita kalau temen kita nyebar di mana-mana. Paling nggak merekalah yang bakal bantu promote atau merekomendasikan potensi yang kita miliki.”

Baca Juga:

Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan

Dear Mahasiswa Baru, Tidak Semua Organisasi Layak untuk Diikuti, Banyak yang Akhirnya Cuma Bikin Kalian Depresi

Dan kembali lagi soal dunia kerja—menurut informan B—modal pinter atau terampil doang kalau nggak punya orang dalam ya tetep saja nggak ada gunanya. “Nggak usah naif lah, Mas, sudah menjadi rahasia umum kali model kayak gini. ”

Maka nggak heran jika di lingkungan kita, ada beberapa anak yang aktifnya luar biasa. Ikut organisasi ini, gabung komunitas itu, join kegiatan sana, nimbrung event-event sini. Karena bagi mereka, kunci buat mempermudah jalan menyongsong hari esok adalah dengan memperluas lingkaran perkawanan. Mottonya: banyakin bergaul, pastilah mujur.

Alasan orang yang menganggap mengasah soft skill lebih utama

Dari hasil penelusuran secara serampangan, saya bisa menyimpulkan kalau rata-rata penganut paham ini adalah mereka yang nggak tertarik sama sekali dengan dunia komunitas. Atau katakan saja mereka yang lebih asik dengan dunianya sendiri gitu lah (meski bukan introvert). Mereka berkeyakinan bahwa nggak selamanya kendali kesuksesan berada di tangan orang dalam. “Siapa bilang, Mas. Coba sampeyan dengerin tagline iklan Dove: rambut aku, kata aku,” tutur infroman C.

“Hah? Gimana, gimana?”

“Masa depan aku, ya kata aku dong, Mas. Masak apa kata orang lain. Enak saja.”

Bener juga sih.

Sebenernya ada dua kemungkinan seseorang memilih jalan ini. Pertama, ya karena emang nggak bisa bergaul dengan orang banyak atau nggak paham caranya berorganisasi. Jadi dalihnya; nggak semua jebolan organisasi itu nanti jauh lebih sukses ketimbang orang-orang seperti mereka. Sebab, kenyataannya emang banyak kok orang-orang yang nggak punya riwayat ikut ini atau ikut itu selama jadi mahasiswa. Tapi pas lulus tahu-tahu malah jadi superstar.

Kedua, mungkin saja mereka adalah orang-orang dengan semangat juang bukan kaleng-kaleng. Orang-orang yang menyongsong hari depan dengan optimistis dan penuh pengharapan. Bisa juga mereka ini yakin betul dengan potensi dirinya sendiri yang kalau terus diasah dan dikembangin pasti bakal membukakan jalan kesuksesan.

“Lalu, bagaimana pendapat sampeyan dengan statement, soft skill saja kalau nggak punya relasi ya muspra (sia-sia) jadinya?” pancing saya.

“Begini, Mas, saya contohin. Umpama sampeyan punya bakat musik atau nyanyi. Dan misalkan saja sampeyan ada di posisi saya ini (bukan organisatoris). Sampeyan habiskan sepanjang waktu yang ada buat latihan dan terus latihan, sampai akhirnya keterampilan bermusik dan nyanyi sampeyan ada di level cukup mumpuni untuk kelas pemula,” jawab informan C dengan nada menggebu.

“Nah, sampeyan manfaatin aja media sosial yang ada. Bikin video terus upload di YouTube kek, Instagram kek, Twitter kek, semuanya lah. Video sampeyan bakal dilihat banyak orang dari seluruh Indonesia. Kalau banyak yang suka, sampeyan bisa viral, diundang buat ngisi banyak acara di mana-mana, terus ujug-ujug jadi terkenal. Dengan sendirinya sampeyan sudah mengepakkan sayap, melebarkan lingkungan pergaulan. Bukan sampeyan yang nyari-nyari orang buat diajak berteman, tapi orang-orang justru yang bakal nyari sampeyan. Hal ini juga berlalu buat soft skill-soft skill yang lain, lebih-lebih yang berhubungan sama hobi. Kan ada ungkapan tuh, pekerjaan paling enak adalah hobi yang dibayar” tandasnya kemudian.

Dari kedua opsi tersebut, kira-kira mana yang lebih baik? Ada sih emang yang bisa kedua-duanya sekaligus, tapi kan nggak semua orang bisa kayak gitu. Kalau saya sih, Rek, ngomongin soal plus-minus dua-duanya pasti punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jadi, terserah saja mau milih di jalan yang mana. Kata Mas Sabrang MDP a.k.a. Noe Letto, setiap hal di dunia ini pasti ada risikonya. Tinggal kita mau memilih risiko yang mana yang sekiranya bisa kita atasi.

Pilihan memperluas relasi mungkin kelihatan menguntungkan, tapi risikonya; kita kadang nggak bisa ngenali potensi tersembunyi dalam diri sendiri secara total. Risiko lain, terlalu berpangku tangan dan mengharapkan uluran tangan orang lain di satu sisa bisa jadi malah bikin kita nggak bisa maju. Begitu juga dengan pilihan mengasah soft skill terlebih dulu. Risikonya, mungkin kita jadi kurang begitu berpengalaman dalam urusan-urusan yang kaitannya dengan hubungan sosial dan relasi publik. Oleh karena itu, pilihan saya serahkan sepenuhnya di tangan Anda.

BACA JUGA Cari Kerja Itu Tidak Susah dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 23 Mei 2020 oleh

Tags: jaringankerjaMahasiswarelasisoft skillsukses
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

Sejarah Sunyi Karangmalang Sleman, Dusun yang Terlihat Semenjana, padahal Pencetak Sarjana Terbanyak di Indonesia gelar sarjana

Punya Ijazah Sarjana dan Segudang Pengalaman Nggak Jadi Jaminan Dapat Kerja, Saya Tetap Miskin dan Krisis Keuangan

8 Mei 2025
update instastory

Surat Terbuka Teruntuk Mahasiswa yang Instastorynya Lancar Jaya Tapi Chat Grup Tugas Kuliah Tak Pernah Dibuka

14 Mei 2019
Pengalaman Kuliah S3 di Taiwan Bikin Syok, tapi Saya Merasa Makin Kaya sebagai Manusia Mojok.co

Nekat Kuliah S3 di Taiwan Berujung Syok, tapi Saya Merasa Makin Kaya sebagai Manusia

25 Maret 2026
Semprotulation Adalah Perayaan Bodoh, Untung Dulu Nggak Ada Waktu Saya Kuliah

Semprotulation Adalah Perayaan Bodoh, Untung Dulu Nggak Ada Waktu Saya Kuliah

5 Desember 2023
26 Shortcut Microsoft Word dari A sampai Z yang Wajib Dikuasai Mahasiswa dan Pekerja Kantoran

26 Shortcut Microsoft Word dari A sampai Z yang Wajib Dikuasai Mahasiswa dan Pekerja Kantoran

6 Januari 2024
Fotografer Wisuda Selalu Dilema antara Jaga Pertemanan atau Harga Teman Terminal

Fotografer Wisuda Selalu Dilema antara Jaga Pertemanan atau Harga Teman

25 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Hapus Tradisi Jimpitan, Ini Satu-satunya "Pajak" yang Tidak Dibenci Warga

Jangan Hapus Tradisi Jimpitan, Ini Satu-satunya Pajak yang Tidak Dibenci Rakyat

5 Juni 2026
Andai Suzuki Burgman Street 125 Ganti Logo Jadi Honda, Pasti Laris di Indonesia

Suzuki Burgman 150 Terbaru yang Rilis di Kolombia Jadi Bukti Bahwa Suzuki Makin Persetan dengan Penjualan dan Tampilan. Desainnya Jelek Banget!

5 Juni 2026
5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan Mojok.co

5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan 

4 Juni 2026
5 Kuliner Malang yang Jarang Disantap Warga Lokal, bahkan Dihindari Mojok.co

Malang Dingin Itu Seharusnya Wajar, tapi Kini Justru Jadi Anomali

3 Juni 2026
Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya Mojok.co

Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya-Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya

4 Juni 2026
5 Barang Unik yang Saya Temukan di Facebook Marketplace, Surga yang Underrated

Facebook Marketplace, Titik Kumpul Barang Unik dan Berguna, sekaligus Surganya para Penipu

4 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.