Namun lagi-lagi, kesan yang saya tangkap selama berada di Malang adalah keteraturan kotanya. Mungkin tidak semua sudut kota sempurna, tetapi secara umum terasa cukup tertata. Bahkan beberapa kawasan perumahan dan jalan kecil terlihat bersih dan nyaman.
Hal lain yang saya rasakan adalah ritme hidup yang sedikit lebih santai. Orang-orang terlihat menjalani aktivitas sehari-hari dengan tempo yang tidak terlalu terburu-buru. Mungkin karena ukuran kotanya tidak sebesar Bandung, sehingga tekanan lalu lintas dan kepadatan penduduk juga terasa lebih ringan.
Setelah 7 hari
Setelah tujuh hari berada di Malang, akhirnya saya mulai memahami kenapa banyak orang mengatakan kota ini mirip dengan Bandung. Kesamaan itu memang ada, terutama pada udara yang sejuk, suasana kota pelajar, dan banyaknya tempat nongkrong yang nyaman.
Namun menurut saya, Malang bukan sekadar “Bandung versi lain”. Kota ini punya karakter sendiri. Jika Bandung terasa lebih besar, lebih ramai, dan lebih dinamis, maka Malang terasa sedikit lebih tenang, rapi, dan nyaman untuk dinikmati dengan santai.
Liburan tujuh hari di Malang akhirnya membuat pandangan saya berubah. Awalnya saya datang dengan rasa tidak percaya pada perbandingan itu. Tetapi setelah melihat langsung, saya bisa memahami kenapa banyak orang menyebut Malang mirip Bandung meskipun dengan kelebihan tersendiri.
Bagi saya pribadi, Malang adalah kota yang menawarkan kesejukan, kenyamanan, dan suasana yang cukup tertata. Sebuah kota yang mungkin tidak sepopuler Bandung dalam hal pariwisata urban, tetapi justru memberikan pengalaman yang terasa lebih santai dan menyenangkan.
Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Sisi Gelap Malang Hari ini: Masih Cantik, tapi Semakin Toxic
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















