Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
24 April 2026
A A
Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan Mojok.co

Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Salah satu keuntungan jadi seorang single, tapi punya banyak teman yang sudah menikah adalah kita bisa belajar soal banyak hal dari mereka. Pelajaran tersebut bisa datang dari celotehan dan sambatan ketika nongkrong bersama. Apa yang mereka sambatkan bisa menjadi bekal untuk orang single seperti saya.

“Oh jadi menikah itu begini. Oh harus siap menghadapi situasi seperti ini.”

Intinya, apa yang mereka ceritakan adalah peta untuk saya supaya lebih siap menghadapi pernikahan. Pengetahuan dari pengalaman orang lain itu mahal bukan? Persoalan nikahnya kapan, urusan belakangan.

Dari sekian banyak sambatan soal pernikahan, ada satu jenis persoalan yang disambatkan oleh salah satu teman saya. Dan, menurut saya sambatan ini penting untuk dijadikan panduan, yaitu tentang pengeluaran-pengeluaran tak terduga selama awal pernikahan.

Jadi teman saya ini mengeluh kalau dalam kurun waktu kurang lebih 2 tahun pernikahannya, banyak muncul pengeluaran tak terduga yang bikin dia pening dan hampir saja berutang. Pengeluaran itu bukan karena dia dan istrinya boros atau gak punya dana darurat. Tapi, memang ada saja yang harus dibayarkan. Padahal, setahu saya nih, istri teman saya ini lulusan dari jurusan keuangan dan paham betul soal perencanaan keuangan.

Pengeluaran-pengeluaran kecil setelah menikah lama-lama terasa besar

Pertama, peralatan rumah tangga kecil yang ternyata tidak ada habisnya. Ini terjadi ketika awal-awal pernikahan. Awalnya teman saya mengira setelah menikah, kebutuhan rumah ya hanya seputar kasur, lemari, kompor, kulkas, mesin cuci, sama piring. Sudah. Ternyata tidak. Ketika istri ngasih list apa saja yang dibutuhkan, teman saya baru sadar kalau rumah tangga itu butuh banyak barang kecil yang sebelumnya nggak kepikiran.

Yah barang receh kayak ember, gayung, keset, gantungan baju, tempat sampah, lap, rak piring, wadah beras, penjepit jemuran, stopkontak, sikat kamar mandi, gunting dapur, pisau, parang, dan lain sebagainya. Seluruh barang-barang tersebut pada akhirnya mengurangi jatah biaya mereka untuk bulan madu.

Belum lagi biaya kebutuhan dapur yang kadang sudah dibelanjakan tiap awal bulan ketika gajian, tetap saja kurang.

Baca Juga:

Perasaan Bahagia Saat Sahabat Menikah Berubah Sedih dan Kesepian karena Sadar Kehilangan Teman Main dan Cerita

Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir

Kebersihan dan perawatan tempat tinggal ternyata menguras budget 

Kedua, kebersihan dan perawatan tempat tinggal. Jadi kebetulan teman saya ngontrak di kawasan perumahan. Dan, ketika awal menikah, teman saya agak menyepelekan soal pengeluaran untuk angkut sampah tiap rumah yang biasanya biayanya bisa mencapai ratusan ribu. Teman saya sudah diinfokan soal itu biaya angkut sampahnya, tapi salahnya, dia nggak memastikan berapa nominalnya.

Ketika datang tagihan kebersihan sampah, ternyata biayanya mencapai Rp160.000. Tentu saja angka ratusan ribu yang ditagihkan saat belum gajian rasanya seperti ditampar pake kayu triplek. Sakit sekali rasanya. Uang yang awalnya direncanakan untuk malam mingguan dengan istri di luar rumah, akhirnya digunakan untuk membayar iuran sampah itu. Sudah begitu, dia disemprot sama istrinya karena nggak memastikan soal nominalnya ditambah mereka yang nggak jadi pacaran di luar.

Selain itu, biaya yang lain terkait dengan tempat tinggal adalah perbaikan. Misalnya memperbaiki genteng yang bocor, saluran air yang mampet, keran air yang bermasalah, dan lain sebagainya. Sebetulnya semua itu bisa diperbaiki sendiri, tapi adakalanya itu terjadi secara mendadak sementara posisi teman saya sedang bekerja, akhirnya harus bayar jasa tukang untuk memperbaikinya.

Biaya keamanan yang tak pernah terbayang setelah menikah

Ketiga, biaya keamanan dan kenyamanan. Jadi pengeluaran soal ini nggak melulu hanya soal kunci tambahan, gembok, CCTV kecil, atau lampu penerangan. Tapi mencakup biaya iuran keamanan yang harus ditanggung teman saya setiap bulannya. Belum lagi kalau soal kenyamanan, ada biaya seperti beli obat anti rayap, semprotan serangga, jasa fogging, dan kasa nyamuk.

Saat masih bujang, banyak aspek keamanan dan kenyamanan itu hadir ala kadarnya. Setelah menikah, semua komponen biaya di atas harus dipertimbangkan dan teman saya nggak memperhitungkan biaya tersebut ketika awal menikah.

Biaya sosial sebagai pasangan ikut meningkat

Keempat, biaya sosial sebagai pasangan. Di sini maksudnya adalah pengeluaran yang terjadi karena adanya acara di kerabat atau teman. Misalnya ketika menikah, ya amplop bisa diisi seadanya dan sepantasnya. Nah kalau sudah menikah, datangnya kan bisa jadi sering berdua nih. Tentu amplopnya juga jadi beda. Mosok pasangan suami istri isi amplop cuma Rp100.000. Jangan dong. Kita jaga marwah pasangan di hadapan teman atau saudara.

Belum lagi kalau acara keluarga seperti takziah, syukuran atau selamatan, aqiqah, atau ulang tahun keponakan. Masak ya nggak mau ikut urunan atau merayakan dengan bantu ini itu. Sekali lagi, jangan dong. Kita harus jaga marwah pasangan di hadapan keluarga.

Nah biaya sosial ini, menurut teman saya adalah yang paling gak terkontrol karena datang dari luar. Awalnya, biaya ini menggerogoti pos dana darurat mereka. Tapi, akhirnya mereka langsung menyiasati dengan menganggarkannya ketika menerima gaji. Dia menyebutnya anggaran sedulur. Pokoknya sisihkan untuk kebutuhan yang sifatnya untuk sosial dan keluarga.

Konflik-konflik kecil setelah menikah ternyata menyita kantong

Kelima adalah pengeluaran terhadap biaya konflik kecil. Dalam rumah tangga, memang kehidupan di awalnya terasa manis, tapi hanya bertahan beberapa bulan, setelahnya akan muncul konflik-konflik yang bikin bertengkar dan ujung-ujungnya canggung. 

Cara mencairkan kondisi tersebut ya biasanya dengan membeli makanan atau ngajak keluar pasangan. Nah saat seperti ini, tentu harus mengeluarkan biaya. Dan biaya ini masuk kategori pengeluaran yang tidak terprediksi. Makanya teman saya selalu mengupayakan semaksimal mungkin untuk menjaga mood pasangannya. Berusaha agar mood pasangan tidak berubah segarang macan yang lapar. Sebab kalau mood jelek, maka harus berkorban biaya.

Tinggal pilih mau rumah hawanya panas kayak neraka terus tapi uang aman atau rumah hawanya jadi sejuk tapi uang ludes? Nah menentukan seperti ini butuh kebijaksanaan.

Melihat segala kisah pengeluaran tak kasat mata dari teman saya membuat saya sedikit bersyukur dengan status single. Sebab, ketika uang saya habis, saya tahu pelakunya saya sendiri. Sementara kalau sudah menikah, gaji bisa menghilang dengan cara yang tak terduga dan menyakitkan.

Bisa jadi menikah memang membuka pintu rezeki, tapi dari kisah teman saya, saya tahu bahwa pintu pengeluarannya juga banyak yang ikutan terbuka. Bahkan lebih lebar, lebih sering, dan acapkali bikin kepala pening.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Pekerjaan Rumah Tangga Mengubah Pandangan Saya terhadap Perempuan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 24 April 2026 oleh

Tags: menikahPasanganPasangan Barupasangan mudaPernikahan
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

tutorial balikan dengan mantan pacar pasangan ngambek marah konflik pacaran pacar janji mojok

Jangan Percaya Kalimat ‘Aku Janji Bakal Berubah demi Kamu’, Itu Hoaks

16 November 2020
Kondangan Sendirian Itu Nggak Apa-apa, Penting Wani!

Kondangan Sendirian Itu Nggak Apa-apa, Penting Wani!

17 Juni 2022
Cek Toko Sebelah 2 Bikin Saya Overthinking akan Masa Depan Saya (Pixabay.com)

Cek Toko Sebelah 2 Bikin Saya Overthinking akan Masa Depan Saya

1 Mei 2023
Palang Pintu: Tradisi Melamar ala Jawara Silat Betawi

Palang Pintu: Tradisi Melamar ala Jawara Silat Betawi

25 Maret 2022
soal kpop

Menjadi Pendengar yang Baik Saat Pasangan Bercerita Soal KPop

28 Juni 2019
Mengenal Karis/Karsu, Kartu untuk Pasangan PNS

Mengenal Karis/Karsu, Kartu untuk Pasangan PNS

22 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kebiasaan Buruk Mahasiswa Saat Menghubungi Dosen, Tolong Jangan Dilakukan Mojok.co

Chat Aneh Mahasiswa ke Dosen Muda, Tolong Jangan Dibiasakan

30 Mei 2026
Jalan Dr Sutomo, Jalan Satu Arah yang Mencoreng Nama Baik Muntilan Magelang

Jalan Dr Sutomo, Jalan Satu Arah yang Mencoreng Nama Baik Muntilan Magelang

2 Juni 2026
5 Kuliner Malang yang Jarang Disantap Warga Lokal, bahkan Dihindari Mojok.co

Malang Dingin Itu Seharusnya Wajar, tapi Kini Justru Jadi Anomali

3 Juni 2026
Tegal, Kota Militer yang Kalah Pamor dari Magelang

Tegal, Kota Militer yang Kalah Pamor dari Magelang

2 Juni 2026
Mimpi Buruk Tol Solo Jogja Bagi Warga Gamping, Sleman (Unsplash)

Salah satu Dampak Buruk Tol Solo Jogja Dirasakan Warga Gamping: Hilangnya Ruang Hidup ketika Warga Lokal Tidak Sanggup Membeli Tanah Kelahiran Sendiri

30 Mei 2026
4 Pasar Kalcer Jogja yang Bisa Dikunjungi Selain Pasar Ngasem Mojok.co

4 Pasar “Kalcer” yang Bisa Dikunjungi kalau Bosan ke Pasar Ngasem Jogja

29 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.