Kos-kosan Mewah Arief Muhammad dan Romantisasi Pribadi Anak Kos

Artikel

Seto Wicaksono

Beberapa waktu lalu, Arief Muhammad pemilik akun Twitter Poconggg, meresmikan usaha kos-kosan miliknya di kawasan Kaliurang, Jogjakarta, atau lebih tepatnya dekat kampus UII (Universitas Islam Indonesia). Hal tersebut di konfirmasi melalui kanal YouTube miliknya. Dijelaskan pula bahwa kos-kosan tersebut memiliki 12 kamar dengan tingkat kemewahan yang berbeda, dari yang biasa sampai dengan VIP.

Fasilitas yang ditawarkan pun tergolong mewah, meski untuk kamar kelas biasa. Di setiap kamar sudah ada AC, TV, termasuk kasur dan lemari, kamar mandi di dalam, pantry sekaligus ruang untuk makan, bersantai, atau belajar di lantai dua, dan tidak lupa area parkiran yang cukup untuk empat mobil dan beberapa motor. Untuk tiap kunci sudah dilengkapi dengan smartlock—yang harapannya bisa lebih aman. Dan masih banyak fasilitas lainnya. Kos-kosan tersebut total memiliki tiga lantai.

Tidak disebutkan berapa harga sewa per-bulannya. Dengan segala kemewahan fasilitas yang ditawarkan, rasanya tidak mungkin seharga kos-kosan sewaktu saya kuliah dulu yang hanya 400 ribu rupiah per-bulan. Itu pun satu kamar sudah berdua dengan teman saya agar lebih menghemat anggaran tiap bulannya. Tanpa AC, TV, kasur, dan fasilitas lain. Ya, pokoknya can’t relate, lah.

Disebutkan pula pantry pada Ternak Kostan (nama kos-kosan Arief Muhammad), berfungsi sebagai tempat makan. Daripada harus makan di kamar yang nantinya dikhawatirkan akan bau, lebih baik makan di pantry. Begitu kira-kira sesuai apa yang dijelaskan pada kanal YouTube Arief Muhammad. Di kosan saya dulu (mungkin juga di banyak kos-kosan), makan, tidur, belajar, semua dilakukan di satu area yang sama. Ya, di kamar kosan. Dengan segala keterbatasan ruang yang ada.

Bagi saya dan beberapa teman yang sama-sama ngekos sewaktu kuliah dulu, cukup ada kamar mandi di dalam dan TV di kamar saja sudah terbilang mewah dan nyaman untuk sekadar dijadikan tempat berkumpul juga beristirahat. Soal kasur dan lemari? Ya bawa sendiri dari rumah. Jika repot dan sulit, bisa membeli kasur lantai seadanya pada saat pindahan berlangsung.

Baca Juga:  3 Modifikasi Makanan yang Nggak Masuk Akal di Bandung

Meskipun begitu, tentu antara kosan satu dengan yang lain tidak perlu diperdebatkan mana yang lebih nyaman. Sebab, masing-masing kosan pasti memiliki tingkat kenyamanan sendiri. Kosan yang pernah saya tempati dengan segala keterbatasan fasilitasnya, menjadi kenangan tersendiri hingga saat ini. Utamanya, sih, susah sinyal. Saat harus sambil menyelesaikan skripsi, tentu internet menjadi salah satu kebutuhan yang utama.

Selain nyaman, sudah sewajarnya mahasiswa perantau memilih kosan atau tempat yang relatif aman untuk disinggahi. Jangan sampai seperti saya dulu ketika baru saja dua hari menjadi anak kos. Sekira jam 2 dini hari di malam kedua saya menempati kosan, saya dikejutkan oleh kehadiran maling yang sedang dikejar oleh warga setempat. Diduga, maling tersebut mencoba mencuri motor salah satu warga, tapi aksinya berhasil diketahui dan akhirnya langsung digagalkan.

Amarah beserta kejaran warga tak dapat dihindari, kejar-kejaran tersebut tidak berlangsung lama, sebab maling tersebut seketika langsung dikepung oleh warga, ditangkap, dan diserahkan ke Pak RT untuk kemudian digiring ke pihak berwenang.

Lain halnya dengan cerita dari teman saya di kosan lain, dia mengalami sendiri bagaimana kehilangan laptop yang biasa digunakan untuk mengerjakan tugas. Pintu juga jendela kamar kosan dijebol oleh maling yang tidak diketahui jumlahnya. Pada saat yang bersamaan dia harus merelakan laptopnya, di sisi yang lain dia terbebani oleh semua tugas kuliah yang ada di laptopnya. Kejadian seperti ini, sudah diminimalisir dan sebisa mungkin dicegah di Ternak Kosan dengan menggunakan smartlock—paling tidak harapannya demikian.

Bagi saya, secara keseluruhan yang membuat kos-kosan nyaman selain dari suasana serta kebersihannya, tentu tak lain dan tak bukan adalah Ibu kos yang ramah serta perhatian. Sebab, saya menerima keluhan dari beberapa teman yang memiliki Ibu kos terbilang galak. Kotor sedikit ditegur, bau sedikit ditegur, telat bayar kosan apalagi. Hehe. Eh?

Dengan segala romantisasinya, bagi saya masa-masa paling indah setelah menjalani masa SMA, ya ketika menjadi anak kos. Karena pada waktu yang bersamaan, saya dituntut untuk dapat hidup mandiri, mengatur segala sesuatunya sendiri. Mulai dari keuangan, termasuk juga menjaga diri. Dan juga, menjadi anak kosan, tandanya juga menyadari bahwa sejauh apa pun kita pergi, rumah tetap menjadi tempat yang nyaman untuk kembali. (*)

Baca Juga:  Dear Ria Ricis: Jika Mau Pergi, Pergi Saja. Tak Usah Pamit Apalagi Balik Lagi, Please!

BACA JUGA Nasihat Untuk Fresh Graduate dari Driver GrabCar yang Sebenarnya Bos Besar atau tulisan Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
3


Komentar

Comments are closed.