Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas

Artikel

Fatimatuz Zahra

Selama Ramadan dan di rumah aja, kita banyak sekali mendapatkan bahan obrolan dari televisi, media online, dan tidak lupa broadcast dari grup WA. Salah satu yang cukup banyak digunjingkan itu adalah kabar tentang bagi-bagi nasi berstempel nasi anjing. Saya kira, obrolan mengenai ini hanya lucu-lucuan dan menertawakan kesalahpahaman antara kedua belah pihak. Yang ngasih mikirin filosofi kesetiaan sampai memperbanyak porsi, sehingga milih ikon anjing. Eh, yang nerima justru ketakutan karena mengira makanan tersebut dibuat dari daging anjing. Tapi ternyata nggak sesepele itu. Ada keluarga saya yang berbekal keyakinan dari broadcast message grup WA mengatakan bahwa peristiwa tersebut melecehkan umat Islam. Waw, saya kaget.

Pantesan bapak-bapak grup WA itu kok suka lempar jokes receh. Ternyata hidup mereka sedemikian pelik sampai nasi anjing yang tadinya bisa diketawain pun bisa dianggap jadi pelecehan dan penghinaan. Kasihan ya mereka.

Tapi setelah saya pikir-pikir, perkara nasi anjing ini bukan kali pertama kita merasa tersinggung dan terhina. Kalau kita googling tentang kasus penghinaan kepada umat Islam, akan banyak sekali portal berita yang memberitakan pelaporan terhadap kasus sejenis. Polanya mirip-mirip. Kita tidak suka terhadap sesuatu, menggalang pendapat bahwa hal tersebut mencederai identitas kolektif lalu beramai-ramai merasa dihina.

Kalau sudah begitu, kita tidak lagi mau mendengar pendapat orang yang tidak sama dengan kita. Pokoknya semua yang Islam merasa terhina, kalau ada yang Islam dan tidak merasa terhina maka ia bukan bagian dari kita, Islamnya nggak kaffah. Gitu. Jangankan pendapat orang lain, pendapat orang yang kita lempari tuduhan dan prasangka pun akan terus kita bantah, apa pun alasannya. Pendapat pihak yang membagikan nasi berlabel nasi anjing ini bahwa ia menggunakan anjing sebagai simbol kesetiaan dan porsi yang lebih besar dibanding nasi kucing. Namun hal ini tidak akan ada artinya di hadapan orang yang merasa identitas kolektifnya sudah dihina.

Padahal, fenomena nasi anjing ini kalaupun memang benar seperti yang dituduhkan bahwa ia mengandung olahan daging anjing, harusnya tidak hanya mencederai umat Islam lho, tapi semua orang. Karena anjing itu binatang piaraan, bukan hewan yang legal untuk dijadikan olahan makanan. Tapi kok yang protes cuma umat Islam? Ya karena kita ini terlanjur gila hormat sebagai mayoritas. Jadinya apa pun yang nyentil identitas kolektif sebagai mayoritas, yang berpotensi mencederai kehormatan kita sebagai mayoritas maka itu adalah tindakan yang patut digolongkan sebagai perbuatan kriminal.

Alih-alih mengamalkan nilai-nilai Islam seperti tabayyun dan husnuzan atau mengikuti azas hukum di Indonesia yang berupa praduga tak bersalah, kita ini lebih sering memperturutkan hawa nafsu untuk dihormati, didengar, dihargai, dan diistimewakan. Kayaknya, azas praduga tak bersalah itu bahkan cuma ada di atas kertas, aslinya, yang kita pakai itu adalah majority is right.

Kalau ada yang bersalah sama kita, kita caci maki habis-habisan. Tapi giliran ada anggota kita yang melakukan kesalahan, melakukan penghinaan terhadap kelompok lain, kita bela mati-matian. Kenapa? Bukan karena kita Islam, tapi karena kita mayoritas. Coba kalau kita hidup sebagai kelompok minoritas, jangankan mau ngurusin dan melabeli orang menghina, menista, dll. Bisa ibadah dengan tenang dan dapat makanan halal saja kita sudah bersyukur. Di situ kadang saya iri, pengin jadi minoritas, biar banyak bersyukur, bukan banyak berprasangka.

Kepenginan kita untuk selalu dihormati dan dimuliakan itu bahkan terlihat dari cara kita menyambut bulan Ramadan dengan slogan “hormatilah orang puasa”, sweeping warung buka, dll. Padahal dalam ibadah puasa itu kita yang disuruh menahan diri, merasakan dan menghayati penderitaan, supaya hasil akhirnya kita memiliki respect yang tinggi kepada sesama manusia. Eh lha kok malah jadi kita yang arogan dan minta dihormati.

Sebenarnya kita belajar dari siapa, sih? Wong nabi saja yang dilukai beneran, dilempari batu sampai berdarah-darah saat berdakwah ke Thaif, beliau tetap melarang Jibril membalas. Padahal kalau Kanjeng Nabi bersedia, Jibril udah siap menimpakan gunung kepada mereka yang berbuat zalim kepada Nabi. Lantas, apa jawaban nabi Muhammad saat mendengar tawaran jibril tersebut? “Jangan, kita tidak pernah tahu, barangkali suatu saat mereka beriman”. Itu Nabi lho, yang nggak perlu lapor polisi dan buat broadcast-an kalau mau melaporkan penghinaan. Lha kita ini kok kemaki, dikit-dikit marah, tersinggung, terhina.

BACA JUGA Esai-esai Terminal Ramadan Mojok lainnya.

Baca Juga:  3 Alasan yang Membuatmu Selalu Kalah Giveaway

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
16


Komentar

Comments are closed.