Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Ketika Pendidikan “Layak” Harus Dibayar dengan Luka yang Dalam

Kinanti Fitrahning Asih oleh Kinanti Fitrahning Asih
19 Juni 2025
A A
Ketika Pendidikan “Layak” Harus Dibayar dengan Luka yang Dalam (Unsplash)

Ketika Pendidikan “Layak” Harus Dibayar dengan Luka yang Dalam (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Narasi tentang pendidikan yang merata dan berkualitas adalah mimpi lama negeri ini. Ia sering didengungkan dalam pidato, spanduk, hingga visi-misi pejabat. 

Namun, bagi banyak anak di daerah, terutama di wilayah terluar seperti saya, pendidikan yang “layak” masih terasa seperti sebuah kemewahan yang perlu dikejar jauh-jauh. Bahkan dengan luka yang tidak kecil.

ADVERTISEMENT

Saya lahir dan besar di Morotai, Maluku Utara, dari keluarga 2 budaya. Ayah saya orang Jawa tulen yang merantau, sementara ibu adalah Morotai. 

Meski telah menetap dan menjadi warga Maluku Utara, ayah tak pernah benar-benar meninggalkan identitas Jawanya. Termasuk dalam hal pendidikan. Baginya, sekolah di Jawa lebih bermutu, lebih menjanjikan masa depan.

Mengungsi ke Jawa demi pendidikan

Maka, ketika saya berusia 12 tahun dan baru saja menamatkan SD dengan prestasi baik, ayah “mengungsikan” saya ke Jawa. Katanya, pendidikan di tempat saya tumbuh tidak cukup. 

Ranking 3 besar yang saya raih di Morotai dianggap tak ada nilainya di hadapan persaingan anak-anak di Jawa. Sejak saat itu, saya mulai memahami bahwa dalam kepala sebagian orang tua, pendidikan hanya dilihat dari sejauh mana anak bisa berkompetisi secara akademik. Bukan dari seberapa utuh anak dibentuk sebagai manusia.

Saya dikirim ke pesantren, tempat yang bahkan saya tidak tahu persis bentuknya. Saya kira ini sekolah biasa yang ada asramanya. Ternyata, ini adalah kehidupan yang benar-benar baru. Hidup yang keras bagi saya, penuh aturan, dan minim pendampingan emosional. Dalam hitungan hari, saya kehilangan rasa percaya diri.

Takut, bingung, kesepian

Yang paling menyakitkan bukan hanya jauh dari orang tua, tapi merasa tak ada yang benar-benar peduli. Saya masih terlalu kecil untuk memahami bahwa kadang cinta orang tua datang dalam bentuk keputusan yang menyakitkan. 

Baca Juga:

Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat mujarab buat wargi Jogja yang stres karena padatnya jalanan

Sebagai orang Sunda, jujur saya iri banget sama orang Jawa

Namun, tetap saja, anak-anak bukan hanya butuh memahami angka dan teori. Kami juga butuh ditemani dalam rasa takut, bingung, dan kesepian.

Dua tahun masa pendidikan di pesantren saya jalani dengan banyak luka. Saya di-bully, depresi, sengaja malas belajar sebagai bentuk protes yang tak bisa saya ucapkan. Saya ingin membuktikan bahwa memaksa anak sekolah di tempat yang dirasa “bagus” tidak otomatis membuat anak itu bahagia atau berhasil.

ADVERTISEMENT

Setelah akhirnya keluar dari pesantren, saya dipindah ke sekolah swasta di Jawa Tengah tempat asal ayah. Saya tinggal bersama saudara ayah. Tapi sekali lagi, saya hanya dipindahkan tempat untuk mencari pendidikan, bukan dipulihkan sebagai pribadi. Saya tetap merasa asing, diatur dengan berlebihan, dibatasi. Saya tetap merasa tidak didampingi secara emosional.

Ketika saya memberontak

Awalnya saya bertahan, namun kemudian memberontak akibat amarah yang lama saya pendam. Saya meminta keluar dari rumah itu juga. Hingga akhirnya, saya hidup sendirian di rumah ayah yang tidak dihuni. Masih terletak di daerah yang sama dengan sekolah baru saya. Di usia 15 tahun, saya mengurus hidup saya sendiri.

Orang tua saya mengira, selama mengirimi uang, kebutuhan hidup saya terpenuhi. Tapi yang sebenarnya terjadi, saya tumbuh dengan luka yang dalam. Saya belajar segala hal sendiri, menangis sendirian, memikul beban yang tidak seharusnya saya tanggung. Saya tidak punya ruang untuk remaja yang normal.

Jika pendidikan adalah hak, mengapa saya harus membayar mahal untuk mendapatkannya? Mengapa negara tidak bisa menjamin bahwa anak di pulau seperti Morotai bisa mendapatkan kualitas pendidikan yang setara, tanpa harus hijrah ratusan mil dari rumah? Mengapa orang tua harus percaya bahwa hanya sekolah di kota besar yang bisa menyelamatkan masa depan anak-anak mereka?

Apakah pendidikan layak akan selalu sepadan?

Hari ini saya bisa bilang bahwa saya bertahan. Saya belajar banyak. Tapi jujur, semua usaha mencari pendidikan yang layak ini lebih banyak menyisakan trauma. Luka yang bahkan belum sembuh meski sudah bertahun-tahun berlalu.

Saya tidak menyalahkan orang tua saya. Mereka hanya ingin saya berhasil. Tapi keberhasilan apa yang sepadan dengan kehilangan masa kecil? Siapa yang akan mengganti potongan diri saya yang hilang selama proses ini?

Kita harus bicara lebih serius tentang makna pendidikan yang sesungguhnya. Bukan hanya soal nilai, ataupun ijazah. Tapi juga tentang pendampingan, rasa aman, dan perhatian emosional. Pendidikan yang baik tidak boleh membuat anak kehilangan arah, apalagi kehilangan dirinya sendiri.

Penulis: Kinanti Fitrahning Asih

ADVERTISEMENT

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Buku Sistem Pendidikan Finlandia; Belajar Cara Belajar, Menyadarkan Saya Betapa Bobrok dan Tertinggal Sistem Pendidikan Indonesia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Juni 2025 oleh

Tags: Jawajawa tengahmorotaiPendidikanPesantrensekolah di jawa
Kinanti Fitrahning Asih

Kinanti Fitrahning Asih

Manusia kuat, saudaranya Ironman.

ArtikelTerkait

Perempatan Jetis, Perempatan Paling Berpendidikan di Jogja Sejak Masa Kolonial

Perempatan Jetis, Perempatan Paling Berpendidikan di Jogja Sejak Masa Kolonial

12 Januari 2024
8 Kosakata Boyolali yang Susah Diterjemahkan Warga Lokal dari “Horok” Sampai “Nine” Mojok.co

8 Kosakata Boyolali yang Susah Diterjemahkan Warga Lokal dari “Horok” Sampai “Nine”

29 Juli 2025
Alun-Alun Purbalingga Tetap Bermasalah: Masih Tak Ramah bagi PKL dan Tak Kunjung Ada Solusi

Alun-Alun Purbalingga Tetap Bermasalah: Masih Tak Ramah bagi PKL dan Tak Kunjung Ada Solusi

18 April 2024
Betapa Repotnya Keluarga Suku Campuran di Hadapan Petugas Sensus

Betapa Repotnya Keluarga Suku Campuran di Hadapan Petugas Sensus

22 September 2023
Jepara Tempat Terbaik di Dunia untuk Menikmati Sunset dan Sunrise (Unsplash)

Pulau Panjang Jepara, Tempat Terbaik di Dunia untuk Menikmati Sunset dan Sunrise

20 Juli 2023
Orang Tua Lebih Memilih Sekolah Swasta meskipun Biayanya Mahal karena Memang Sebagus Itu, Sekolah Negeri Perlu Ngaca sekolah swasta gratis

Sekolah Swasta Gratis, Ide Gila yang Bisa Bikin Pendidikan Makin Miris

19 Juni 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyepelekan mahasiswa Administrasi Pemerintahan bukti dia keliru memahami jurusan ini Mojok.co

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyepelekan mahasiswa Administrasi Pemerintahan bukti dia keliru memahami jurusan ini 

22 Agustus 2026
Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga Mojok.co

Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga

20 Agustus 2026
Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima Mojok.co

Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima

18 Agustus 2026
Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama Mojok.co

Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama

22 Agustus 2026
Hal-hal yang bisa dilakukan di Kopdes Merah Putih selain belanja Mojok.co

Hal-hal yang bisa dilakukan di Kopdes Merah Putih selain belanja

23 Agustus 2026
iPhone HP bapak-bapak? Bapak-bapak nggak mampu beli iPhone! (Unsplash)

Kok bisa iPhone disebut hp bapak-bapak? Padahal banyak bapak-bapak yang nggak mampu beli iPhone

21 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.