Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Culture Shock Orang Makassar ketika Merantau ke Jogja: Ketika Sopan Santun Orang Jogja Lebih Misterius ketimbang Rumus Fisika Kuantum

Andi Muhammad Alief oleh Andi Muhammad Alief
27 Mei 2026
A A
Ketika Jogja Menampar Orang Makassar yang Sedang Merantau (Unsplash)

Ketika Jogja Menampar Orang Makassar yang Sedang Merantau (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Merantau, bagi kami orang Makassar, bukan hanya sekadar berpindah tempat. Ini sebuah ritual “siri’” tentang harga diri. Namun, apa jadinya ketika ego “Ewako” yang menyala-nyala itu mendarat di tanah yang menjunjung tinggi prinsip “Alon-alon waton kelakon” yaitu Jogja? 

Hasilnya sebuah culture shock yang lebih dahsyat daripada sekadar kaget melihat harga nasi kucing yang lebih murah daripada parkir motor di Pantai Losari. Jogja, bagi seorang pendatang dari Sulawesi Selatan khususnya Makassar, adalah sebuah planet dengan gravitasi yang berbeda. 

Jogja, di dalamnya, terasa lambat, lunak, dan sering membuat kami yang terbiasa dengan ritme cepat serta suara lantang menjadi merasa seperti raksasa yang masuk ke toko keramik. Salah gerak sedikit, pecah segalanya.

BACA JUGA: 5 Alasan Makassar Semakin Layak Menjadi Kota Impian Masa Depan, Nomor 1 Paling Menyenangkan Bagi Warganya

Logat dan volume yang menampar orang Makassar

Hal pertama yang akan menampar wajahmu saat tiba di Jogja adalah urusan volume suara. Di Makassar, volume suara kami adalah standar pabrik di angka delapan. Bicara dengan teman di seberang jalan dengan teriakan adalah hal lumrah. 

Di Jogja, kebiasaan ini ibarat kata tiket cepat untuk dianggap sedang mengamuk. Saya sering mengalami ini di bulan-bulan pertama. 

Suatu kali saya memesan kopi. Saya memakai nada yang menurut saya “normal” dan “ramah”. Eh, mas-mas baristanya malah melihat saya dengan tatapan seolah-olah saya baru saja mengancam akan membakar kafe dan merusak fasilitasnya. 

Padahal, saya hanya mau nanya, apakah gulanya bisa dipisah. Di sinilah letak culture shock paling mendasar. Di Jogja, keramahan diukur dari seberapa rendah desibel suaramu. Sementara di Makassar, keakraban justru sering kami validasi dengan seberapa seru (baca: ribut) obrolan. Kami terbiasa dengan diksi tegas, apalagi bagi yang tinggal di sekitar pesisir pantai (Barombong). 

Baca Juga:

Rasanya Hidup di Pengok Jogja: Tidur di Antara 2 Rel, Pasti Bisa Bangun Pagi karena Suara Kereta Begitu Membahana

3 Alasan Teror Pocong Tidak Akan Laku di Jogja, Klitih Lebih Nyata dan Lebih Mengerikan ketimbang Pocong Palsu!

Misalnya, kata “Ayo!” di Makassar bisa terdengar seperti perintah perang. Sementara di Jogja, warga membungkusnya dengan lapis-lapis kesantunan seperti “monggo” atau “bilih kersa”. Kalau kamu terjemahkan ke mindset orang Makassar yang praktis, butuh waktu loading sekitar lima detik baru bisa paham maksudnya.

Estetika kecepatan vs seni menikmati waktu di Jogja

Perbedaan ritme hidup ini juga menyerang urusan transportasi dan birokrasi kecil-kecilan. Di Makassar, kalau lampu hijau menyala dan kamu masih bengong, tidak langsung tancap gas dalam 0,5 detik, orkestra klakson di belakangmu akan berbunyi layaknya konser metal. 

Kalau di Jogja, orang bisa sangat santai di lampu merah. Mereka seolah punya cadangan kesabaran yang tidak ada batasnya. 

Awalnya, ini menyiksa. Makassar membesarkan saya dalam budaya yang menghargai efisiensi dan kecepatan. Melihat orang Jogja yang “selo” itu rasanya ingin saya beri asupan Coto Makassar supaya tensinya naik sedikit. 

Namun lambat laun, saya menyadari bahwa ini adalah benturan filosofi. Orang Makassar itu “pelaut”. Kami mengejar ombak, mengejar waktu. Orang Jogja itu “agraris”. mereka menunggu musim dan percaya bahwa segala sesuatu akan tiba pada waktunya jika kita tekun menanti.

Lidah orang Makassar yang “tersiksa” gula

Jangan lupakan urusan perut. Ini adalah medan perang culture shock yang paling nyata. Bagi lidah Makassar yang tumbuh bersama garam, vetsin yang melimpah, asam mangga, dan pedasnya sambal “cobek-cobek”, masakan Jogja seperti sebuah anomali medis.

Minggu pertama di Jogja, saya merasa seperti sedang makan hidangan penutup (dessert) sepanjang hari. Gudeg yang legendaris itu, bagi saya, adalah nangka yang salah masuk ke kuali kolak. Manisnya bukan main! 

Sementara itu, di Makassar, kami makan ikan bolu (bandeng) yang segar dengan perasan jeruk nipis yang bikin mata merem-melek. Di sini, sayur lodeh pun bisa terasa seperti teh manis dengan tambahan gula.

Krisis identitas kuliner ini biasanya berakhir dengan perburuan toko bahan makanan yang menjual sambal terasi. Atau setidaknya mencari warung burjo yang punya stok cabai rawit ekstra. 

Tapi hikmahnya, setelah hampir setahun di sini, saya jadi belajar bahwa rasa manis itu menenangkan. Mungkin itulah kenapa orang Jogja jarang emosian. Kadar glukosa dalam darah mereka selalu terjaga di level “bahagia”.

“Siri’ na Pacce” di tengah kesantunan Jawa

Puncak dari segala culture shock ini adalah saat ketika mencoba mengaplikasikan nilai “siri’ na Pacce” (harga diri dan empati) dalam pergaulan sosial di Jogja. Di Makassar, kalau tidak suka, ya bilang tidak suka. Kalau ada masalah, kita selesaikan saat itu juga, kalau perlu dengan perdebatan sengit. Straight to the point. 

Nah, di Jogja, ada seni menghindari konflik langsung. Mereka sangat jarang mengatakan “tidak” secara gamblang. 

Mereka akan menggunakan kalimat bersayap seperti “Insyaallah,” atau “Nggih, mangke dipun pirsani riyen”. Bagi orang Makassar, ini bisa sangat membingungkan. Kami pikir urusannya sudah beres, padahal itu adalah cara halus mereka untuk bilang “Saya keberatan.”

Butuh kedewasaan ekstra untuk memahami bahwa diamnya orang Jogja bukan berarti setuju, dan rendah hati mereka bukan berarti lemah. Sebaliknya, mereka mungkin sedang menilai seberapa “liar” kami sebagai pendatang. 

Saya belajar bahwa siri’ (harga diri) tidak selalu harus saya tegakkan dengan suara keras atau dada membusung. Kadang, siri’ justru bisa saya jaga dengan kemampuan kami beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.

BACA JUGA: 5 Tempat Makan di Makassar yang Bisa Bikin Salah Paham, Dikira Biasa Ternyata Makanan Ekstrem

Menemukan titik temu bagi orang Makassar di Jogja

Lantas, apakah orang Makassar tidak cocok menetap di Jogja? Justru sebaliknya. Jogja merupakan sebuah laboratorium terbaik untuk melunakkan sudut-sudut tajam karakter kami orang Makassar tanpa menumpulkan prinsip-prinsip identitas diri. 

Merantau ke Jogja mengajarkan bahwa keberanian (ewako) itu butuh wadah kesabaran. Kami membawa semangat membara dari pesisir Sulawesi, lalu Jogja menyiramnya dengan air ketenangan dari kaki Merapi. 

Hasilnya, sebuah harmoni yang unik. Kami jadi orang Makassar yang tetap berani, tapi tahu kapan harus berbicara pelan. Kami tetap bangga dengan identitas, tapi mulai bisa menikmati sepiring gudeg tanpa harus mengeluh tentang rasa manisnya.

Pada akhirnya, culture shock ini bukan tentang siapa yang lebih benar atau siapa yang lebih sopan. Ini tentang bagaimana kita menyadari bahwa Indonesia itu luas sekali, dan Makassar hanyalah salah satu warnanya. 

Jogja memberikan ruang bagi kita untuk melihat diri sendiri dari sudut pandang yang berbeda. Jadi, untuk kawan-kawan dari Makassar yang baru mendarat di Stasiun Lempuyangan atau Bandara YIA, tenangkan hatimu. Simpan dulu urat lehermu yang tegang itu. Nikmati saja prosesnya. 

Karena nanti, saat pulang ke Makassar, kamu akan merindukan suara “Nggih, Mas” yang lembut itu. Yah, meskipun saat ini suara itu terdengar lebih misterius daripada rumus fisika kuantum. Selamat merantau. Tetap ewako, tapi jangan lupa unggah-ungguh.

Penulis: Andi Muhammad Alief

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Jogja Tetaplah Kota Terbaik untuk Ditinggali, sekalipun Mukanya Berair karena Banjir, dan Penuh Jerawat Berbentuk Tukang Parkir Liar

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 27 Mei 2026 oleh

Tags: adat jawabudaya jawaCoto MakassarewakogudegJogjamakassarorang makassarorang makassar merantausulawesi
Andi Muhammad Alief

Andi Muhammad Alief

Komposer, mahasiswa, praktisi dan peneliti seni musik yang saat ini menempuh studi pascasarjana di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada program Penciptaan Seni Musik. Memiliki ketertarikan pada sarana edukasi, eksperimen musik, kajian seni pertunjukan, dan tekun menelusuri rekam jejak kebudayaan di Indonesia.

ArtikelTerkait

Pertigaan UIN, Lampu Merah Paling Berbahaya di Jogja (Unspash)

Pertigaan UIN Jogja, Lampu Merah Paling Berbahaya Ketika Malam Tiba

30 September 2024
Wonosobo Ternyata Lebih Ramah bagi Wisatawan ketimbang Jogja

Wonosobo Ternyata Lebih Ramah bagi Wisatawan ketimbang Jogja

6 Juli 2025
Kerja Part Time di Jogja Adalah Jalan Pintas Menuju Perbudakan, Gaji Setengah UMR pun Nggak Ada! umr jogja gaji di jogja gaji umr jogja

Begini Rasanya Hidup dengan Gaji UMR Jogja: Makan Mahal Dikit, Hancur Rencana Keuangan yang Sudah Disusun

10 Oktober 2024
UMR Jogja Harus Naik Drastis, Tidak Bisa Tidak! upah minimum yogyakarta

Kalau UMR Jogja Memang Serendah Itu, Kenapa Masih Banyak yang Bekerja di Jogja?

17 Agustus 2023
pelaku bom bunuh diri mojok

Bom Bunuh Diri dan Narasi Menggelikan yang Menyertainya

29 Maret 2021
Balada Hidup di Jogja: Hidup Susah, Mati Lebih Susah

Balada Hidup di Jogja: Hidup Susah, Mati Lebih Susah

29 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rasanya Hidup di Pengok Jogja: Tidur di Antara 2 Rel, Pasti Bisa Bangun Pagi karena Suara Kereta Begitu Membahana

Rasanya Hidup di Pengok Jogja: Tidur di Antara 2 Rel, Pasti Bisa Bangun Pagi karena Suara Kereta Begitu Membahana

26 Mei 2026
Tolong Berhenti Menyuruh Orang yang Baru Belajar Menyetir Mobil untuk Pakai Insting, Mereka Lebih Butuh Teori dan Jam Terbang

Tolong Berhenti Menyuruh Orang yang Baru Belajar Menyetir Mobil untuk Pakai Insting, Mereka Lebih Butuh Teori dan Jam Terbang

26 Mei 2026
UIN Malang, Kampus Terbaik yang Bisa Bikin Kamu Patah Hati (Wikimedia Commons)

UIN Malang Adalah Kampus Terbaik di Kota Malang yang Bisa Bikin Kamu Patah Hati Jika Memasang Ekspektasi Terlalu Tinggi

24 Mei 2026
Perasaan Bahagia Saat Sahabat Menikah Berubah Sedih dan Kesepian karena Sadar Kehilangan Teman Main dan Cerita Mojok.co

Perasaan Bahagia Saat Sahabat Menikah Berubah Sedih dan Kesepian karena Sadar Kehilangan Teman Main dan Cerita

23 Mei 2026
3 Cara Kecamatan Cibiru Membunuh Romantisme Bandung (Unsplash)

3 Alasan Romantisme Bandung Akan Luntur, Ketika Menginjakan Kaki di Kecamatan Cibiru

25 Mei 2026
Niat Cari Ketenangan dengan Naik Sepeda Federal Warisan Bapak Berujung Kesal karena Dicibir Pesepeda Lain Mojok.co

Niat Healing dengan Naik Sepeda Federal Warisan Bapak Berujung Kesal karena Cibiran Pesepeda Lain

27 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.