Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Game

Ketika Bulik Saya yang Seorang Petani Main Gim Harvest Moon

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
21 Desember 2020
A A
Ketika Bulik Saya yang Seorang Petani Main Gim Harvest Moon terminal mojok.co

Ketika Bulik Saya yang Seorang Petani Main Gim Harvest Moon terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Keluarga dari bapak saya adalah keturunan petani tulen. Turun temurun, trah dan kiprah seorang petani sudah nggak bisa diganggu-gugat lagi. Bukan bakat atau semacamnya, hal ini merupakan sebuah mentalitas tanpa batas yang terus keluarga saya jaga. Bercocok tanam sudah menjadi hobi yang kebetulan mendapatkan cuan.

Di sebuah titimangsa di mana panen gagal total, ketika Imogiri diterjang banjir bandang beberapa tahun lalu, saya datang membawa hiburan. Bukan bantuan atau hal-hal wangun lainnya, melainkan membawa seperangkat konsol gim PlayStation 2 ke sana. Saya paham, membantu secara finansial adalah sia-sia belaka lantaran saya—sebagai anak kosan—juga butuh bantuan swadaya orang tua.

Ketika para warga sibuk menjemur perabotan yang terkena banjir, pun dengan beberapa hasil panen yang bisa diselamatkan, saya mengajak bulik dan paklik saya untuk ke rumah dan bermain gim yang amat ikonik dan bertemakan pertanian, Harvest Moon.

Kalau nggak salah, waktu itu yang seri A Wonderful Life. Salah satu seri yang paling saya suka karena lagunya ketika spring enak bukan main. Pun ada tokoh kura-kura pakai slayer, tapi nggak bisa diapa-apain. Selain nggak guna, kura-kura ini jyan nggatheli tenan.

Seorang petani kawakan bermain gim bertemakan petani. Pikir saya yang selalu positif, akan menghadirkan keseruan dan menghibur blio yang baru saja tertimpa musibah. Yang saya dapat justru berkebalikan, Bulik dan Paklik—terutama Bulik—protes keras akan sisi realita gim petani yang satu ini.

Pertama, panen yang terlalu cepat. “Kalau kami bertani di sana, tiga tahun udah beli Fortuner!” kata blio sambil mencucu, mempermasalahkan kurang dari satu musim, tanaman sudah dapat dipanen. Di gim tersebut, yang seri A Wonderful Life, memang menarik karena panen nggak memperkirakan bunga yang mekar, kemudian satu sampai dua hari baru bisa dipanen sempurna.

“Wagu! Udah tahu panennya cepet, nanemnya beberapa petak tanah aja!” kira-kira begitu kata bulik, tentunya saya translit dari bahasa Imogirian menjadi Indonesian.

Kedua, mempermasalahkan petak sawah. Bulik saya ini mempermasalahkan perkebunan si tokoh utama yang bukan main luasnya, tapi petak tanah buat bertani cuma sak hyeg alias dikit sekali. “Woalaaah, malah luas tempat buat ngangon sapi ketimbang bertani. Ini mau jadi petani yang sukses nggak, sih?” begitu protes yang blio layangkan.

Baca Juga:

Curahan Hati Mantri Tani, Dicari Saat Bantuan Tiba, Dicaci Tatkala Gagal Panen Melanda

Buruh Tani Situbondo: Pekerjaan yang Sering Disepelekan, tapi Upahnya Bisa Bikin Iri Pegawai Kantoran

Di seri A Wonderful Life kita disediakan tiga ladang. Ketika awal-awal, memang yang terbuka cuma ladang pertama dan itu hanya bisa memuat beberapa tanaman saja. Di tahun keempat, ladang ketiga yang lumayan besar baru terbuka. Sebesar-besarnya lahan ketiga, memang lebih besar tempat buat ngangon sapi di tengah ladang.

Ketiga, nggak ada hama wereng. Bulik saya gelisah, waktu itu blio sudah main kira-kira satu musim dalam gim, menanam sayur kok ya lancar-lancar saja. Bagai filsuf, ketika mendapatkan kemapanan ini, blio jadi resah. “Kok nggak ada wereng, Le?” tanyanya kepada saya. Le di sini adalah tole, bukan lele.

“Lha di Jepang je, Lik,” kata saya. Padahal nggak tahu setting tempat gim Harvest Moon ini di mana. “Mosok di Jepang ada wereng.”

“Lho eh, wereng itu kepik. Mosok wereng cuma nyerang petani di Indonesia, di mana letak keadilan kaum tani seperti kami?” protesnya. Saya hanya diam, dalam hati nggumun sekaligus ngakak.

Tapi ya nggak lucu semisal di Harvest Moon ada hama wereng. Bukannya ada festival tanabata, yang ada malah bikin acara bedol desa biar terhindar dari marabahaya dan juga ngelarung sesembahan dilarung di Sungai Forget-Me-Not Valley yang isinya Samsu, pisang raja setangkep, buceng, sisir, dan kembang kanthil biar hasil panen tahun depan melimpah ruah.

Keempat, kurcaci adalah hal yang aneh. Ya saya saja sebagai player dari zaman orok masih merasa kurcaci aneh, apalagi bulik dan paklik saya. Wajar memang. Namun, yang bikin saya kemekelen itu ketika bulik saya bilang begini, “Kurcaci itu sesat. Panen padi kok berterima kasih ke mereka, ya bikin acara wiwitan, lah!”

Wiwitan adalah salah satu filosofi adiluhung masyarakat desa kami. Biasanya untuk menyambut panen raya padi (koreksi jika saya salah). Lha gimana nggak kemekelen, bayangin aja tokoh Harvest Moon yang pakai topi kebalik, slayer, dan deker kaki, duduk di sebuah kloso dan menunggu nasi wiwit untuk dimakan bersama warga desa.

Kemudian walikota nggak bakal bilang kata-kata template semisal, “Hari yang cerah untuk memulai festival panen” dan kata-kata membiuskan lainnya, melainkan menjadi seperti ini: puja-puji untuk Dewi Sri!

BACA JUGA 4 Stereotip Mahasiswa Jurusan Pertanian dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Agustus 2021 oleh

Tags: Harvest MoonPetani
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Menjadi Petani Modis ala Hedi dan Gia BBQ Mountain Boys terminal mojok.co

Menjadi Petani Modis ala Hedi dan Gia BBQ Mountain Boys

20 Oktober 2020
Porang dan Tradisi latah petani banyuwangi

Porang dan Tradisi Latah Petani Banyuwangi

12 November 2021
Tips Jadi Petani Pemula bagi Sarjana Pengangguran yang Peduli Agraria terminal mojok.co

Tips Jadi Petani Pemula bagi Sarjana Pengangguran yang Peduli Agraria

16 Oktober 2020
Tips Jadi Petani Pemula bagi Sarjana Pengangguran yang Peduli Agraria terminal mojok.co

Bagi Kami di Sulawesi Barat, Menjadi PNS dan Polisi adalah Cita-Cita Kami. Kalau Gagal? Balik Lagi Jadi Petani dan Nelayan

3 September 2019
Pelajaran Hidup yang Bisa Dipetik dari Harvest Moon_ Back to Nature terminal mojok

Nostalgia Harvest Moon: Back to Nature dan Pelajaran Hidup yang Bisa Dipetik darinya

5 April 2021
Alasan Anak Petani Tidak Bercita-cita Menjadi Petani terminal mojok.co

Alasan Petani di Desa Saya Tak Kunjung Kaya

3 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Siasat “Membunuh” Waktu Saat Kereta Api Berhenti Lama di Stasiun Cirebon Mojok.co

Siasat “Membunuh” Waktu Saat Kereta Api Berhenti Lama di Stasiun Cirebon

8 Februari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
4 Kebohongan SCBD Jakarta yang Telanjur Kita Terima Begitu Saja Mojok.co

4 Kebohongan SCBD Jakarta yang Telanjur Kita Terima Begitu Saja

8 Februari 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi

6 Februari 2026
Pantai Padang Adalah Tempat Wisata yang Sempurna di Kota Padang Seandainya Nggak Ada Parkir Liar Mojok.co

Pantai Padang Tempat Wisata yang Sempurna di Kota Padang Seandainya Nggak Ada Parkir Liar

8 Februari 2026
Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan Mojok.co

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan

6 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi: Jadi Tempat Ngopi, Jeda selepas Lari, dan Ruang Berbincang Hangat
  • Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!
  • Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata
  • Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 
  • Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba
  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.