Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Konsep Gramedia Jalma Semarang Menarik, tapi Jujur Agak Sedih ketika Tempat Favorit Saya Berubah Wajah

Dini Sukmaningtyas oleh Dini Sukmaningtyas
26 Juni 2026
A A
Konsep Gramedia Jalma Semarang Menarik, tapi Jujur Agak Sedih ketika Tempat Favorit Saya Berubah Wajah Mojok.co

Konsep Gramedia Jalma Semarang Menarik, tapi Jujur Agak Sedih ketika Tempat Favorit Saya Berubah Wajah (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Awal Juni lalu, Gramedia Pandanaran Semarang resmi berubah menjadi Gramedia Jalma Semarang. Toko buku legendaris ini punya wajah baru dengan konsep creative space. Tempatnya nyaman untuk bekerja, mengerjakan tugas, atau sekadar membaca buku sambil ngopi.

Selang beberapa hari setelah grand opening, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke sana. Di pintu masuk, ada satpam yang menyambut dengan penuh senyuman.

ADVERTISEMENT

Begitu masuk ke dalam, saya disuguhi pemandangan berupa rak-rak buku yang menjulang tinggi. Sangat estetik dan memanjakan mata, buktinya banyak yang berfoto di spot ini.

Konsep brilian untuk menggaet pengunjung ke toko buku

Mengutip dari situs resmi Gramedia, “Jalma” berarti manusia dalam bahasa Sunda. Konsep ini diusung untuk mengingatkan kita bahwa Gramedia Jalma hadir sebagai ruang bagi manusia untuk berinteraksi, belajar, berdiskusi, dan menggagas ide-ide.

Tidak hanya berisi rak buku dengan konsep monoton, Gramedia Jalma menyediakan creative space, coworking space, coffee shop, hingga reading pod bagi pengunjung yang ingin suasana baru untuk membaca buku. Bahkan, bagi yang membawa anak, Gramedia Jalma juga memiliki kids area yang memberikan ruang bagi anak-anak untuk bermain sekaligus belajar.

Secara konsep dan tujuan, saya akui Gramedia memang selangkah lebih maju dibanding toko buku lain. Mereka menawarkan pengalaman yang bikin pengunjung betah berlama-lama.

Saya paham interior Gramedia Jalma dibuat sangat estetik untuk menyasar pengunjung yang sebelumnya tidak terlalu akrab dengan toko buku. Foto-foto yang diambil di dalam bangunan benar-benar sangat cocok untuk mempercantik feed Instagram.

Terbukti, banyak orang penasaran ingin melihat langsung konsep baru toko buku yang belum pernah ada sebelumnya di Semarang. Tidak sedikit pula yang datang hanya untuk berfoto atau membuat konten.

Baca Juga:

Pengalaman mencoba roti subuh yang lagi viral di Semarang: cukup sekali coba saja, nggak mau lagi-lagi

Banjir di Semarang selama ini tak hanya perkara alam, tapi justru gara-gara ulah warganya sendiri,

Saat Gramedia Jalma Semarang jadi destinasi wisata baru

Di satu sisi, saya senang melihat toko buku bisa seramai itu. Sudah terlalu lama kita mendengar kabar tentang menurunnya minat baca, lesunya industri buku, dan berkurangnya jumlah toko buku fisik. Oleh karena itu, melihat Gramedia dipenuhi pengunjung tentu menjadi pemandangan yang menyenangkan.

Di sisi lain, saya ingin menyampaikan keluhan sebagai pengunjung yang memang datang dengan niat membaca atau mencari buku. Beberapa kali saya melihat kursi penuh oleh orang-orang yang lebih sibuk mengobrol daripada membaca. 

ADVERTISEMENT

Ada yang datang berkelompok lalu bercengkerama cukup keras. Ada pula yang menghabiskan waktu untuk berfoto atau main HP tanpa benar-benar berinteraksi dengan buku yang ada di sekitarnya.

Niat saya untuk mengungkapkan keresahan hati ini mungkin akan dicap sebagai polisi moral. Nanti pasti ada yang bilang, “Lho, Gramedia Jalma kan memang bukan perpustakaan.”

Ada juga yang beranggapan kalau tempat seperti ini memang dibuat untuk berinteraksi, jadi wajar kalau ada orang yang mengobrol atau sekadar nongkrong.

Tidak dapat dimungkiri, saya setuju dengan semua itu. Tidak masalah kalau ada yang datang karena sekadar FOMO atau penasaran. Toh sejak awal Gramedia memang tidak pernah mengklaim Jalma sebagai ruang baca yang harus hening seperti perpustakaan.

Ah, mungkin saja saya hanya rindu dengan konsep Gramedia yang lama. Jujur saja, saya agak sedih karena saya merasa kehilangan sesuatu yang selama ini saya anggap akrab.

Hilangnya sensasi berburu buku yang seru

Sebagai orang yang cukup sering mengunjungi Gramedia, saya tidak bisa bohong kalau masih sering membandingkan Gramedia Jalma dengan versi sebelumnya.

Contoh kecilnya, bau khas buku saat saya berjalan di antara rak yang disusun berhimpit-himpitan, lengkap dengan musik Kenny G yang mengalun dari pengeras suara. Sepertinya, hal itu tidak saya rasakan saat mengunjungi Gramedia Jalma tempo hari.

Salah satu hal yang paling saya rindukan adalah rak-rak buku yang dulu terasa lebih rapat dan padat. Mungkin bagi sebagian orang, tata ruang baru Gramedia Jalma jauh lebih nyaman karena terasa lega dan tidak sesak.

ADVERTISEMENT

Akan tetapi, bagi saya, ada kesenangan tersendiri ketika berjalan di antara rak-rak buku sambil sesekali menemukan buku-buku di luar wishlist. Dulu saya sering datang dengan niat membeli satu buku, lalu pulang membawa dua atau tiga buku lain karena tidak sengaja menemukannya saat berkeliling.

Di Gramedia Jalma, pengalaman itu terasa sedikit berbeda. Tata ruang yang lebih terbuka memang membuat pengunjung lebih leluasa bergerak dan membuat keseluruhan tempat terlihat jauh lebih estetik.

Akan tetapi, saya merasa sensasi “tersesat” di antara rak buku yang dulu sering saya rasakan kini sudah berkurang. Padahal justru momen-momen seperti itulah yang sering membuat kunjungan ke toko buku menjadi menyenangkan.

Area alat tulis yang bikin kangen

Hal lain yang diam-diam saya rindukan adalah area alat tulisnya. Saya yakin banyak pelanggan Gramedia yang memahami perasaan ini. Dulu area alat tulis di Gramedia Pandanaran terasa banyak dan lengkap pilihannya.

Ketika berkunjung ke Gramedia Jalma, saya merasa pilihan alat tulis tidak lagi menjadi daya tarik utama seperti dulu. Wajar sebenarnya, karena Gramedia kini sedang menonjolkan konsep baru, di mana area alat tulis hanya berfungsi sebagai pemanis saja.

Akan tetepi, tetap saja, saya rasa tidak salah kalau saya tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ada sebagian kecil identitas Gramedia Pandanaran yang ikut berubah.

Semoga Gramedia Jalma Semarang tidak berhenti sebagai tempat foto-foto

Kalau sedang ingin merasakan suasana Gramedia yang lebih klasik, mungkin saya masih bisa menemukannya di beberapa cabang lain di Semarang. Saya harus berdamai bahwa Gramedia Jalma hadir sebagai versi baru toko buku yang memang ditujukan untuk kebutuhan zaman yang berbeda.

Terlepas dari kesedihan kecil saya, senang rasanya melihat Semarang memiliki destinasi baru selain mal yang sudah menjamur. Kalau perubahan itu bisa membuat lebih banyak orang masuk ke toko buku, mengenal buku, lalu akhirnya membeli dan membacanya, mungkin kesedihan kecil saya sebagai pelanggan lama adalah harga yang cukup layak untuk dibayar.

Satu hal yang saya harapkan adalah semoga rasa penasaran dan FOMO itu tidak berhenti di sana. Akan sangat disayangkan jika Gramedia Jalma hanya menjadi background foto untuk Instagram atau TikTok, lalu dilupakan begitu saja.

Penulis: Dini Sukmaningtyas
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Warlok Semarang Muak dengan Mal Baru, Lebih Butuh Ruang Terbuka Hijau yang Terjangkau. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Juni 2026 oleh

Tags: gramediaGramedia JalmaGramedia Jalma SemarangGramedia SemarangSemarangToko Buku Gramediatoko buku semarang
Dini Sukmaningtyas

Dini Sukmaningtyas

Suka menulis, tapi lebih sering membaca. Bisa leluasa menulis ketika anak sedang tidur.

ArtikelTerkait

Berkendara dari Mranggen Demak ke Semarang di Siang Hari Penuh Cobaan, hanya Orang Kuat yang Sanggup Melakukan

Berkendara dari Mranggen Demak ke Semarang di Siang Hari Penuh Cobaan, hanya Orang Kuat yang Sanggup Melakukan

19 Juli 2024
5 Keanehan Lokal Jogja yang Bikin Kaget Orang Semarang (Wikimedia Commons)

5 Keanehan Lokal Jogja yang Nggak Pernah Saya Temukan di Semarang tapi Malah Bikin Bahagia

5 Mei 2026
Dosen Penguji Makan Suguhan Sidang, Mahasiswa Meradang (Unsplash)

Kisah Pilu dari Mahasiswa yang Harus Menjual Cincin Ibunya demi Menyiapkan Suguhan untuk Dosen Penguji Sidang Skripsi

2 Januari 2024
Pasar Semawis, Secuil Keindahan di Tengah Kacaunya Semarang Mojok.co

Pasar Semawis, Secuil Keindahan di Tengah Semarang yang Semakin Kacau

22 April 2024
Nikmatnya OTI Fried Chicken Lokal Semarang Kalahkan McD dan KFC: Wajib Makan Minimal Sekali sebelum Meninggal

Nikmatnya OTI Fried Chicken Lokal Semarang Kalahkan McD dan KFC: Wajib Makan Minimal Sekali sebelum Meninggal

18 Juli 2024
Semarang, Surganya Rumah Ibadah dengan Arsitektur Unik

Semarang, Surganya Rumah Ibadah dengan Arsitektur Unik

28 Februari 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

4 menu kuliner lokal yang cocok pakai label Gacoan (Wikimedia Commons)

Selain mie dan bakso, ini 4 menu kuliner lokal yang cocok pakai label Gacoan

24 Agustus 2026
Cengkareng, tempat kumpul banjir, macet, lawan arah, dan kekacauan

Cengkareng, tempat kumpul banjir, macet, lawan arah, dan kekacauan

22 Agustus 2026
5 kesalahan penjual es dawet yang sulit dimaafkan, bikin rasanya kurang enak Mojok.co

5 kesalahan penjual es dawet yang sulit dimaafkan, bikin rasanya kurang enak

27 Agustus 2026
Derita mahasiswa Unsoed, sudah kampus dan faslitasnya medioker, kini harus menahan malu karena rektornya korupsi Mojok.co

Derita mahasiswa Unsoed, sudah kampus dan fasilitasnya medioker, kini harus menahan malu karena rektornya korupsi

23 Agustus 2026
Awalnya Bangga Beli Honda Scoopy, Lama-lama Malu karena Sering Bermasalah, Motor dan Pemiliknya Jadi Kelihatan Payah Mojok.co lamongan

Sudah tahu jalan di Lamongan jelek, kok malah beli Honda Scoopy, aneh!

21 Agustus 2026
Trail run, olahraga lari yang nggak bikin bosen (Unsplash)

Yang perlu kamu ketahui tentang trail run, olahraga lari yang nggak bikin bosen

26 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.