Informasi
ADVERTISEMENT

Kisah Pilu dari Mahasiswa yang Harus Menjual Cincin Ibunya demi Menyiapkan Suguhan untuk Dosen Penguji Sidang Skripsi

Dosen Penguji Makan Suguhan Sidang, Mahasiswa Meradang (Unsplash)

Dalam kesempatan ini saya ingin mengapresiasi tulisan Mas Achmad Fauzan Syaikhoni di Terminal Mojok. Tulisan Mas Achmad Fauzan berjudul “Kampus Bermasalah Kalau (Masih) Ada Budaya Mahasiswa Memberi Makanan ke Dosen Penguji. Tulisan tersebut telah membuat saya berpikir bahwa sudah semestinya dunia akademik tidak tercoreng dengan adanya gratifikasi dalam bentuk apapun.

Saya pribadi adalah mantan mahasiswa yang pernah kuliah menjalani 2 kali perkuliahan yakni D3 dan S1. Kedua jenjang studi tersebut mensyaratkan tugas akhir untuk lulus. Dan pastinya, setiap seminar proposal maupun seminar hasil, ada budget yang harus saya keluarkan dalam rangka “gastrodiplomasi” berupa snack dan air mineral untuk dosen penguji.

Oleh sebab itu, saya melakukan wawancara dengan beberapa rekan kerja di klinik. Inilah kisah perjuangan mereka saat melangsungkan sidang tugas akhir, baik KTI maupun skripsi. Demi menjaga privasi, nama narasumber dan kampus akan saya samarkan.

Macaroni schotel Salsabila (dokter umum) untuk dosen penguji

Sebelum menjalani koas, seorang calon dokter juga memiliki kewajiban menuntaskan skripsi untuk mendapatkan gelar S.Ked (Sarjana Kedokteran). Ketika ditanya bagaimana pengalaman menyuguh kepada dosen penguji, Salsabila mengaku bahwa dirinya membawa macaroni schotel buatan ibunya.

“Sebenarnya dari pihak kampus sudah melarang mahasiswa untuk membawa makanan saat sidang skripsi. Tapi mamahku keukeuh nyuruh aku bawa macaroni schotel, kata mamah, ini sebagai bentuk terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk membimbing dan menguji,” tutur alumni FK di salah satu universitas negeri di Semarang tersebut.

Salsabila juga mengaku. Misal dosen penguji menolak suguhannya, dia akan membagikan macaroni schotel kepada teman-temannya. Tetapi kenyataan berkata lain.

“Saat sidang selesai, ada dosen penguji yang bertanya, ‘Ini isinya apa?’ 

Setelah tahu kalau isinya macaroni schotel, eh dibawa juga itu makanan, kata Salsabila.

Baca halaman selanjutnya: Dari snack, telur asin, sampai kudu jual cincin demi suguhan dosen penguji.

Terakhir diperbarui pada 2 Januari 2024 oleh .

Dhimas Raditya Lustiono

Membawa keahlian komunikasi dari dunia penyiaran ke dalam ruang perawatan. Sebagai mantan penyiar radio yang kini menjadi perawat,