Ada satu hal dari dunia organisasi mahasiswa (ormawa) yang sampai sekarang masih sering bikin saya heran. Kenapa ya tiap rapat selalu menyita waktu alias lama banget? Rapat yang saya maksud itu yang agendanya sederhana. Namun, entah mengapa, durasinya bisa mencapai 4 jam.
Padahal kalau dilihat lagi, keputusan yang dihasilkan ormawa kadang cuma satu. Misalnya, menentukan waktu kegiatan, membagi tugas, memilih konsep, atau menyepakati hal yang sebenarnya sejak awal pilihannya tidak banyak. Di kepala saya, pembahasan seperti ini harusnya bisa selesai setengah jam. Syukur-syukur lebih cepat.
Kenyataannya sering beda. Rapat dimulai. Satu orang menyampaikan pendapat. Orang kedua setuju, tapi tetap menjelaskan kenapa dia setuju. Orang ketiga ternyata juga sependapat, lalu menyampaikan ulang hal yang kurang lebih sama.
Setelah beberapa orang bicara, muncul satu kalimat yang sepertinya cukup umum di dunia organisasi mahasiswa. “Kalau menurut saya sih balik lagi ke teman-teman.” Nah, kalau kalimat itu sudah keluar, biasanya saya mulai curiga rapatnya masih panjang.
Masalahnya bukan karena orang tidak boleh menyampaikan pendapat. Justru dalam organisasi mahasiswa, forum memang harus memberi ruang untuk semua orang bicara. Yang saya bingungkan adalah ketika semua orang merasa harus bicara, bahkan ketika sebenarnya tidak ada hal baru yang ditambahkan.
Kadang ada juga yang membuka pendapat dengan kalimat, “Sebenarnya tadi sudah disampaikan sama teman-teman.” Saya selalu berharap kalimat setelahnya pendek. Ternyata tidak. Pembahasannya lanjut lagi, hanya dengan susunan kata yang berbeda.
Semua orang ingin bicara, tapi keputusannya tetap di situ-situ saja
Saya paham rapat organisasi mahasiswa memang bukan tempat untuk buru-buru mengambil keputusan. Ada hal-hal yang harus dipertimbangkan, apalagi kalau menyangkut banyak orang. Masalahnya, menurut saya kita kadang tidak bisa membedakan mana persoalan yang memang butuh diskusi panjang dan mana yang sebenarnya bisa cepat selesai. Tidak semua masalah harus diperlakukan seperti masalah besar.
Kalau cuma menentukan jadwal, ya tinggal lihat waktu yang paling memungkinkan. Soal memilih desain? Ya tinggal pilih dari opsi yang ada. Kalau pembagian tugasnya sudah jelas, ya bagi lalu lanjut kerja.
Akan tetapi, kadang rapat organisasi terasa panjang karena kita terlalu lama berada di tahap membicarakan sesuatu yang sebenarnya sudah cukup jelas. Saya pernah merasa keputusan sebenarnya sudah kelihatan sejak awal. Mayoritas setuju. Tidak ada penolakan berarti. Opsi lain juga tidak terlalu kuat.
Harusnya selesai.
Lha kok pembahasan masih lanjut. Ada tambahan pendapat, pengulangan, pembicaraan yang melebar. Biasanya di saat-saat seperti ini ada yang melempar candaan. Setelah itu balik lagi ke pembahasan awal, seolah sebelumnya belum pernah dibicarakan.
Lebih capek lagi kalau rapatnya malam. Datang setelah kuliah atau setelah seharian beraktivitas, berharap pembahasannya cepat selesai, lalu satu jam kemudian masih berada di poin pertama. Belum lagi kalau rapatnya molor.
Rapat organisasi mahasiswa memang punya fungsi sosial, tapi tolong tetap efektif dan efisien
Namanya organisasi mahasiswa, orang-orang di dalamnya bukan robot yang datang, duduk, bicara, lalu pulang. Ada bercanda, ngobrol soal hal lain, atau sekadar menanyakan kabar. Menurut saya itu justru yang membuat organisasi terasa hidup.
Yang bikin capek adalah ketika semua itu bercampur dengan pembahasan utama sampai akhirnya kita tidak tahu mana yang sebenarnya sedang dirapatkan dan mana yang cuma obrolan sampingan. Saya ngerti bahwa musyawarah itu penting. Saya juga tidak sedang menyarankan semua keputusan ditentukan satu orang saja supaya cepat. Bukan begitu.
Yang saya pertanyakan cuma satu, apa semua pembahasan memang harus sepanjang itu? Karena menurut saya rapat yang baik tidak harus lama. Rapat yang baik ya rapat yang setelah selesai membuat orang tahu apa yang harus dilakukan.
Saya sadar rapat organisasi punya fungsi sosial. Orang bertemu, ngobrol, bercanda, dan mungkin memang menikmati waktu bersama teman-temannya. Itu sah saja. Cuma kalau memang mau nongkrong, ya monggo nongkrong. Tidak perlu menyamarkannya menjadi rapat empat jam.
Penulis: Azzhafir Nayottama Abdillah
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.