Kesamaan Ilmu Pengetahuan dan Teori Konspirasi yang Tidak Pernah Kamu Pikirkan Sebelumnya

Featured

Rizky Adhyaksa

Ilmu pengetahuan kembali ditantang oleh musuh abadinya untuk menyodorkan penjelasan. Yap, musuh abadi yang saya maksud adalah Teori Konspirasi. Saya mengatakan musuh abadi, karena sepanjang sejarah manusia, teori konspirasi selalu berhasil menyajikan penjelasan alternatif. Penjelasan tersebut sangat mudah untuk dipahami ketimbang penjelasan para ahli dan pemerintah yang kelewat ndakik.

Rabu malam lalu, digelar sebuah perhelatan debat publik di Instagram antara Tirta Mandira Hudhi, seorang Dokter cum influencer melawan Jerinx, seorang Musisi kawakan plus pengamat elit global.

Sebelum drama debat ini digelar saja, kita sudah dapat merasakan aroma polarisasi kehidupan sosial kita. Satu pihak mencemooh pihak lain. Tidak beda jauh dengan polarisasi pada masa pilpres. So which side are you on?

Di tulisan ini, saya tidak sedang mencoba membela salah satu pihak. Saya bahkan tidak melihat debatnya tadi malam. Saya ingin mengajak jamaah mojokiyah untuk melihat ilmu pengetahuan dan teori konspirasi dari sudut pandang yang berbeda, syukur-syukur turut memadamkan bara api yang tidak diperlukan pada masa pandemi ini.

Apa yang sama dari teori konspirasi dan ilmu pengetahuan

Secara mendasar, teori konspirasi dan ilmu pengetahuan memiliki kemiripan: skeptisisme. Keduanya bermula pandangan yang skeptis terhadap bagaimana dunia bekerja, meskipun penjelasan yang dihasilkan dapat berbeda. Tujuan utama dari keduanya pun sama, yakni memahami dunia yang kita hidupi secara lebih baik.

Memahami dunia di sekitar kita merupakan upaya kita untuk bertahan hidup, membuat kita merasa aman, dan membuat kita merasa berdaya (powerful). Dengan memahami dunia, kita merasa terlindungi oleh kepastian. Sebaliknya, manusia benci ketidakpastian.

Mau bukti? Coba jawab pertanyaan ini, kapan anda akan mati? Apa yang terjadi setelah anda mati?

Seketika pada saat membaca ini, otak purba Anda aktif dan memberikan sinyal ketidaknyamanan mungkin juga ketakutan. Ini semua terjadi karena anda tidak dapat menjawab dengan pasti pertanyaan-pertanyaan diatas.

Di masa pandemi COVID-19 topik seputar masa depan sangat ramai diperbincangkan, bahkan dituntut jawaban. Bagaimana dampak pandemi terhadap ekonomi? Bagaimana dampak pandemi terhadap demokrasi dan pergantian pemimpin? Berapa lama lagi kita harus ngandang di rumah? Bagaimana kelanjutan hubungan LDRku? Ini semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang belum ada jawaban pastinya.

Baca Juga:  Bangsa Kita Pernah Bercinta Dengan Langit, Lalu Sekarang Bagaimana?

Ilmu pengetahuan dan teori konspirasi hadir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Tidak serta-merta benar jawaban yang diajukan. Temuan dari hasil penelitian dapat saja salah jika ditemukan bukti baru. Penjelasan teori konspirasi hanya sebatas penjelasan dan bukan kebenaran, selama ia belum dibuktikan dengan metode yang logis. Meskipun demikian keduanya dapat memainkan peran yang mulia.

Bahkan cara menjelaskannya juga mirip loh…

Mari kita uji dengan mengajukan beberapa pertanyaan: Apa yang menyebabkan ketimpangan sosio-ekonomi? Mengapa negara seringkali gagal menjamin kesejahteraan dan pemerataan? Mengapa harga sembako naik? Apa yang membuat Rihanna, Jay-Z, dan Beyonce terkenal?

Seoran aktivis kiri yang sudah khatam semua seri Das Kapital, akan menjawab semua pertanyaan tersebut dengan berbagai penjelasan seputar “kapitalisme” yang tak pernah lelah dalam menciptakan “ketimpangan.” Seorang ekonom liberal akan menjawab dengan berbagai penjalasan seputar mekanisme “pasar.” Bahkan seorang ilmuan syaraf manusia (neuro-scientist) akan menjawab dengan berbagai penejalasan seputar “otak manusia” yang beragam. Keberagaman otak manusia ini menjelaskan mengapa sebagaian orang kaya, sukses, dan terkenal ketimbang yang lainnya.

Ketiga penjelasan di atas seakan berputar pada satu konsep tertentu: kapitalisme, pasar, dan otak manusia. Konsep tersebut menjadi landasan untuk menghasilkan berbagai penjelasan lanjutan.

Sementara teori konspirasi akan menyajikan narasi seputar “elit global” yang selama berabad-abad mencoba untuk menguasai seluruh umat manusia. Wabah, pemerintahan dunia, perang, industri musik, kartun, teknologi semuanya merupakan upaya untuk menguasai umat manusia. Ilmu pengetahuan dan teori konspirasi memiliki satu asumsi dasar yang menjadi jangkar dalam semua penjelasannya. Mirip kan?

Tidak ada yang salah dari semua penejelasan ini, hanya saja belum dibuktikan (unproven). Ya tentu saja tuduhan terberat ada di sisi teori konspirasi yang selama ini dianggap tidak berdasar. Karl Marx menamakan sistem ekonomi yang mana seseorang menjual tenaganya kepada orang lain dengan nama kapitalisme. Adam Smith mengenal sistem distribusi masyarakat berupa jual-beli dengan sebutan pasar. Kapitalisme dan pasar dapat kita temui di mana saja, sehingga telah menggugurkan beban pembuktiannya (burden of proof).

Baca Juga:  Penelitian Saya Tentang Alasan Kenapa Orang Mematikan Centang Biru WhatsApp Mereka

Tidak semua teori konspirasi itu salah

Ada juga loh teori konspirasi yang ternyata benar. Salah satunya adalah konspirasi pemerintah AS untuk mengontrol pikiran warga negaranya. Awalnya dia hanya teori konspirasi, tetapi setelah CIA merilis dokumen dari proyek tersebut kepada publik, teori tersebut dinyatakan konspirasi sungguhan. Skandal Edward Snowden juga membuktikan teori konspirasi tentang upaya pemerintah memata-matai warga negaranya.

Teori konspirasi seringkali tidak memiliki cara untuk menyajikan bukti yang kuat guna mendukung argumennya. Siapa elit global? Apakah Elit Global benar-benar ada? Apakah Bill Gates bagian dari elit global? Apakah bumi itu seperti koin? Apakah WHO antek Bill Gates? Apakah COVID-19 akal-akalan perusahaan farmasi agar mendapatkan untung? Apakah angka kematian COVID-19 dibesar-besarkan?

Elit global mungkin saja ada, dia hanya perlu dibuktikan. WHO mungkin saja antek Bill Gates, kita tanya saja Bill Gates dan WHO. Bumi mungkin saja datar. Perusahaan farmasi mungkin saja bisa mendapatkan untung dari penjualan vaksin, tapi hal ini tidak membuktikan apa pun terkait COVID-19 sebagai sebuah rekayasa biologis bahkan rekayasa realitas. Angka kematian dari COVID-19 mungkin saja lebih besar dari realitasnya, bisa juga lebih kecil, inilah yang disebut dengan margin error.

Saya justru mendukung para Conspiracy Theorist untuk membuktikan semua penjelasannya. Jika berhasil, justru akan memberikan “pencerahan” bagi umat manusia. Lagi pula tidak semua hal dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan. Bahkan teori-teori yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan berupaya untuk “membantah dan membatalkan” klaim yang satu dengan yang lain. Conspiracy Theories is just another part of our life.

Jadi, semangat Om Deddy, Jerinx, dan Young Lex buktikan kalau kita selama ini dibodohi!

BACA JUGA Ingin Mendaftar Kartu Prakerja tapi Bimbang atau tulisan Rizky Adhyaksa lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
12


Komentar

Comments are closed.