Kenapa sih Orang Nggak Pakai Cincin Kawin, kok Rumah Tangganya Dicap Bermasalah? – Terminal Mojok

Kenapa sih Orang Nggak Pakai Cincin Kawin, kok Rumah Tangganya Dicap Bermasalah?

Artikel

Saya tuh suka gemes kalau baca berita tentang artis atau pas kebetulan nonton infotainment di TV. Gimana, ya? Sudah sering kali beritanya nggak bermutu, model comot Instastory si seleb pula! Apalagi kalau pembawa acaranya sok asyik dan sok nyinyir. Bikin males.

Ribet amat. Tinggal skip saja kan beres.

Wait. Ini bukan sekedar soal skap-skip doang. Tapi ini soal bagaimana media informasi kita memberikan ruang bagi berita-berita nggak bermutu itu untuk tumbuh subur. Alasannya menyesuaikan selera pasar lah, rating lah. Ya sudah, gitu saja terus. Mbulet.

Nah, ngomong-ngomong soal berita nggak bermutu yang ada di acara infotainment, salah satu berita nggak mutu yang pernah saya tonton adalah isu keretakan rumah tangga salah satu seleb. Penyebabnya sederhana: cincin kawin sudah nggak melingkar lagi di jari manis mereka.

What??? Sejak kapan beres atau nggak beresnya rumah tangga dilihat dari eksistensi cincin kawin? Kok dangkal, ya? Kalau memang kondisi rumah tangga dilihat dari cincin kawinnya, maka rumah tangga saya adalah rumah tangga yang sedang berada di ujung tanduk. Cincin kawin itu sudah lebih dari 6 tahun nggak lagi melingkar di jari manis saya.

Ya. Saya memang nggak lagi pakai cincin kawin. Sudah sejak lama cincin itu saya simpan. Tapi bukan berarti rumah tangga saya sedang diterpa badai. Ngarang. Satu-satunya alasan saya melepas cincin kawin itu adalah karena… sudah nggak muat lagi, Bund. Berat badan saya memang naik sejak melahirkan baby dua kali. Bayangkan, dari semula 44 kg, sekarang jadi 54 kg. Jadi, dengan berat badan yang sekarang ini, cincin kawin sudah nggak muat lagi. Saya nggak punya pilihan lain selain melepasnya.

Baca Juga:  Pacar yang Abusive Itu Pantasnya Ditinggalin Bukan Malah Dinikahi

Lain lagi dengan cerita salah satu kawan saya. Namanya Dwi, perempuan. Dia juga termasuk orang yang melepas cincin kawinnya. Bedanya, cincin itu dilepas karena belakangan dia tahu kalau ternyata dia alergi tembaga. Kulitnya bakal terasa gatal kalau pakai perhiasan, termasuk cincin kawin. Tapi, meski kami berdua nggak lagi pakai cincin kawin, alhamdulillah, keluarga kami baik-baik saja.

Maksud saya gini, bisa nggak sih media itu nggak memberitakan sesuatu yang hanya bermodalkan asumsi saja? Nggak pakai cincin kawin, dianggap ada masalah di rumah tangga. Hapus foto pasangan di Instagram, dikira lagi berantem. Datang kondangan nggak bareng, dicurigai lagi nggak akur. Aduh, aduh… Please, deh. Atau jangan-jangan, kalau nggak kayak gitu, nggak ada yang bisa diberitakan, ya? Kasihan…

Siapa yang kasihan?

Ya semuanya. Medianya kasihan karena segitunya cari berita. Penontonnya kasihan karena disuguhi berita nggak bermutu, dan tentu saja artisnya juga kasihan. Coba bayangkan kalian jadi artis. Bagaimana rasanya jika rumah tangga kalian yang adem ayem, tiba-tiba diberitakan nggak harmonis? Hanya gara-gara cincin kawin itu kalian lepas. Kesel apa kesel? Ya kesel, lah! Sudah gitu biasanya nanti ada salah satu kerabat yang termakan gosip. Bolak-balik telepon buat konfirmasi. Sampai datang ke rumah segala untuk memastikan.

Akhirnya, rumah tangga yang tadinya adem ayem jadi sedikit tergundang. Haish, ribet dah urusan jadinya. Kalau sudah begitu, siapa yang tanggung jawab? Media yang menyiarkan? Penonton yang kepo? Ya nggak ada lah! Ibarat kata, mereka yang memantikkan api, kita yang kebakar. Sadis.

Baca Juga:  Gajah Mati Berdiri di India, Kodok Diledakin pakai Petasan, Kucing dan Kura-kura Dikeroyok sampai Ajal

Oke, sebutlah hal tersebut sebagai bagian dari risiko jadi seorang artis. Harus rela kehidupan pribadinya dimata-matai dan jadi konsumsi publik. Tapi nggak gitu banget juga kali. Masa gara-gara nggak pakai cincin kawin, terus dikira rumah tangganya diambang perceraian. Situ sehat?

BACA JUGA Dear Ria Ricis: Jika Mau Pergi, Pergi Saja. Tak Usah Pamit Apalagi Balik Lagi, Please! dan artikel Dyan Arfiana Ayu Puspita lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.