Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Jenis Orang Tua Saat Menghadapi Kenakalan Anaknya

Ima Triharti Lestari oleh Ima Triharti Lestari
26 Mei 2021
A A
Jenis-jenis Orang Tua Saat Menghadapi Kenakalan Anaknya terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai mantan guru dan kini jadi istri seorang guru, sudah khatam rasanya saya berinteraksi dengan para orang tua murid dengan kelakuannya yang ajaib. Sering saya harus memanggil beberapa wali murid untuk membahas perilaku anaknya yang terkadang bertingkah kelewat batas. Dari berbagai pengalaman tersebut, saya dapat mengklasifikasikan orang tua murid ke dalam tiga spesies.

Pertama, orang tua yang selalu membela anaknya. Jenis pertama ini mau dapat laporan apa pun soal anaknya—meskipun anaknya sudah jelas-jelas bersalah, misalnya ketahuan mencuri atau memukul temannya sampai babak belur— akan tetap mati-matian membela anaknya.

ADVERTISEMENT

Membela anak memang menjadi fitrah setiap orang tua. Justru kalau ada orang tua yang nggak membela anaknya, maka akan jadi pertanyaan apakah si anak benar anak kandungnya atau cuma anak pungutnya? Tapi, kalau si anak sudah kelewatan dan bapak ibunya tetap membela, maka itu bukan lagi namanya sayang, melainankan menghancurkan. Orang tua model anak sentris gini nggak akan pernah bisa memerbaiki mental dan pola pikir si anak, kecuali Tuhan berkehendak lain.

Anggapan anak selalu benar biasanya muncul lantaran orang tuanya sendiri pernah melakukan hal tersebut di masa lampau dan menganggap apa yang ia lakukan juga benar. Anaknya dipanggil karena ketahuan merokok, dibela. Ya jelas dibela, lha wong bapaknya sendiri juga merokok sejak remaja! Kalau sudah ketemu orang tua model begini, mending diam saja jangan melawan. Satu-satunya jalan yang bisa sekolah lakukan adalah memberi hukuman atau skorsing. Meski nggak akan membuat si anak atau orang tuanya jera, setidaknya membuat orang-orang sekitarnya aman dari tingkah lakunya untuk beberapa hari.

Jadi ketika beberapa waktu lalu viral kisah seorang bocah yang berniat mencuri uang milik tetangganya namun berujung pembakaran kasur gara-gara nggak menemukan uang yang dicuri dan si ayah tetap ngotot membela anaknya, saya nggak heran. Sudah sering saya menemukan kasus seperti itu. Saya sudah menduga bahwa hal semacam itu pasti sudah pernah ia lakukan sebelumnya. Ternyata benar, itu kali kedua ia membakar kasur tetangganya lantaran nggak menemukan uang yang ia cari. Percayalah, suatu saat nanti si anak akan berulah kembali dan bapak ibunya tetap akan membela anaknya. Kecuali si anak membakar kasur sekaligus rumah orang tuanya sendiri, baru orang tuanya akan jera.

Kedua, orang tua yang selalu menyalahkan orang lain atau apa pun di sekitarnya atas kenakalan anaknya. Tipe seperti ini sebenarnya mengakui bahwa anaknya melakukan kesalahan. Mereka akan menyalahkan dan memarahi si anak atas kenakalan yang diperbuat. Tetapi, mereka juga akan mencari dalang atau penyebab lain yang mereka anggap bertanggung jawab atas perilaku anaknya. Biasanya penyebab ini dapat dipecah lagi menjadi dua: makhluk yang nampak seperti orang-orang di sekeliling si anak (selain dirinya tentunya) serta makhluk astral yang tak kasat mata.

Orang tua yang memarahi kasir Indomaret gara-gara anaknya top up game online seharga 800 ribu jelas masuk kategori pertama. Orang-orang ini satu komplotan dengan para orang tua yang senang marah-marah ke guru bila nilai anaknya jelek atau si anak melakukan kesalahan. Mereka sadar si anak melakukan kesalahan besar, tapi mereka melampiaskan rasa kesal dan kecewanya pada orang-orang di sekitar si anak. Mereka menganggap si anak seharusnya dapat dihalangi melakukan perbuatan buruk bila si guru, kasir Indomaret, atau teman-temannya mencegah si anak melakukan perbuatan tersebut. Jangan coba-coba menyalahkan balik si orang tua karena mereka dapat bertindak lebih ganas kepada para korbannya. Percayalah, saya sendiri sudah pernah merasakannya.

Mereka jelas nggak memahami bahwa tanggung jawab pendidikan anak 60%-nya berada di tangan orang tua. Mereka nggak akan pernah mau mencoba instropeksi atau berpikir bisa jadi anaknya berperilaku seperti itu karena kesalahan pola asuh mereka. Mereka menganggap tanggung jawab terbesar pendidikan anaknya berada pada guru-gurunya di sekolah dan lingkungan tempat anaknya berinteraksi sehari-hari. Makanya bila si anak nakal, maka itu pasti disebabkan oleh orang lain, bukan murni karena kesalahan anaknya. Sama seperti spesies pertama, sulit untuk mengubah perangai mereka.

Baca Juga:

Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Itu Jahat dan Nirempati

Di Balik Cap Manja, Anak Bungsu Sebenarnya Dilema antara Kejar Cita-cita atau Jaga Ortu karena Kakak-kakak Sudah Berumah Tangga 

Sedikit lebih baik dari sebelumnya, ada orang tua yang nggak mau menyalahkan siapa-siapa atas kenakalan anaknya. Di saat mereka nggak menemukan jawaban dan penyebab yang logis dari kenakalan anaknya, maka mereka beralih ke tindakan mistis. Tindakan seperti ini jelas dapat mengurangi jumlah korban dari orang yang nggak bersalah seperti kasir Indomaret, namun justru dapat membuat si anak itu sendiri yang jadi korbannya.

Saat anaknya rewel terus-terusan, maka dianggap ada jin yang menempel pada anaknya. Jika hanya dibacakan ayat Qur’an tentu tak mengapa, tapi jika sampai dibawa ke dukun dan si anak harus mengikuti ritual macam-macam, tentu kasihan anak tersebut. Saya sendiri pernah menjadi salah satu korbannya. Waktu kecil, saya pernah dibawa ke orang pintar gara-gara selalu menangis setiap menjelang dini hari. Orang tersebut mengunyah sesuatu seperti kemenyan dan kemudian meletakkannya pada ubun-ubun saya yang masih kecil.

Bahkan saat itu saya yang masih kecil sempat keceplosan mengucapkan “Hiyeeekkk”, lantaran begitu menjijikkannya hal tersebut. Hingga seminggu kemudian bau kemenyan atau apa pun itu tak mau hilang dari kepala saya meskipun sesampainya di rumah ibu langsung mengeramasi rambut saya. Sejak itu, bapak dan ibu saya tak pernah lagi membawa saya ke orang pintar. Untung saja ritualnya hanya membuat rambut bau, nggak sampai menghilangkan nyawa seperti kasus baru-baru ini.

Dari situ saya belajar pentingnya setiap orang tua untuk belajar ilmu parenting sebelum menikah. Bahkan, akan lebih baik jika setiap pasangan yang akan menikah mendapat pembekalan tentang ilmu mengasuh anak. Bagi yang nggak lolos akan ditunda pernikahannya atau dilarang sementara memiliki anak. Memang nggak menjamin seratus persen, tapi lebih baik daripada membiarkan pasangan yang nggak paham sama sekali mendidik anak untuk memiliki momongan. Akhirnya bukannya mendapat generasi yang baik, malah merugikan orang sekitar.

Ketiga, orang tua bijaksana, enak untuk diajak bekerja sama, dan mengetahui betul tanggung jawabnya pada si anak. Saya pernah memanggil seorang wali murid untuk menginfokan perilaku anaknya, dengan legowo si bapak menangis dan mengakui bahwa semua perilaku anaknya adalah akibat kesalahan pola asuh dirinya dan istrinya. Saya jadi ikut menangis melihatnya. Tapi saya percaya mereka mampu mengubah perilaku anaknya menjadi lebih baik. Senakal apa pun seorang anak, bila ia memiliki orang tua yang sadar dan peduli, maka lebih besar kemungkinan baginya untuk dapat berubah dibanding mereka yang memiliki orang tua yang selalu membela si anak atau menyalahkan orang sekitarnya.

Sayangnya, spesies terakhir ini jumlahnya sangat sedikit dan tertutupi dengan banyaknya populasi orang tua jenis pertama dan kedua. Lebih mengkhawatirkan sebab orang tua jenis pertama dan kedua pun selalu menganggap dirinya masuk ke golongan terakhir ini.

BACA JUGA Kalau Lagi Dibonceng Vespa, Sebaiknya Cewek Jangan Ngelakuin 5 Hal ini atau tulisan Ima Triharti Lestari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 16 November 2021 oleh

Tags: Anakhubungan orang tua dan anakHubungan TerminalOrang Tua
Ima Triharti Lestari

Ima Triharti Lestari

Ibu rumah tangga yang hobi menulis, humoris, puitis tapi tidak romantis

ArtikelTerkait

Dear, Orang Tua_ Please Banget, Jangan Bonceng Anak Naik Motor dengan Posisi Berdiri. Bahaya! terminal mojok

Dear, Orang Tua: Please Banget, Jangan Bonceng Anak Naik Motor dengan Posisi Berdiri, Bahaya!

13 September 2021
Perlengkapan MPASI yang Nggak Perlu-perlu Amat Dibeli Orang Tua Terminal Mojok

Perlengkapan MPASI yang Nggak Perlu-perlu Amat Dibeli Orang Tua

17 Januari 2023
panti jompo orang tua mojok

Menitipkan Orang Tua di Panti Jompo Bukan Berarti Durhaka

24 Juni 2021
Waktu Buat Nagih-Nagih, Giliran Anaknya Lahir Kabur

Waktu Buat Nagih-Nagih, Giliran Anak Lahir Kabur

5 Desember 2019
Mengambil Sisi Positif Saat Menjalani Long Distance Marriage. Nggak Selamanya Menderita, kok terminal mojok

Mengambil Sisi Positif Saat Menjalani Long Distance Marriage. Nggak Selamanya Menderita, kok

5 Juni 2021
anakku

Untukmu, Anakku di Masa Depan

26 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

UIN SAIZU, Kampus Ngapak Terbaik di Purwokerto PAI UIN Saizu

Hal-hal yang Membuat Saya Sedikit Menyesal Masuk Prodi PAI UIN Saizu, meski Tidak Sampai Ingin Pindah Kampus

23 Juni 2026
Jalanan Surabaya yang "Liar" Bikin Jiper Pengendara Tertib, Terlalu Banyak Pemotor yang Melanggar Lalu Lintas Mojok

Jalanan Surabaya yang “Liar” Bikin Jiper Pengendara Tertib, Terlalu Banyak Pemotor yang Melanggar Lalu Lintas

24 Juni 2026
5 UMKM Klaten yang Sukses Berdampak dan Menginspirasi Anak Muda

5 UMKM Klaten yang Sukses Berdampak dan Menginspirasi Anak Muda

24 Juni 2026
Dianggap Nggak Kompeten, Pengalaman Pahit Ibu Rumah Tangga yang Career Gap dan Ingin Kembali ke Dunia Kerja Mojok.co

Dianggap Nggak Kompeten, Pengalaman Pahit Ibu Rumah Tangga yang Career Gap dan Ingin Kembali ke Dunia Kerja

25 Juni 2026
Honda BeAT, Motor Terbaik untuk Menemani Mahasiswa UNNES Menjalani Hidup pertamax pertalite

6 Motor yang Dikira Harus Pakai Pertamax tapi Ternyata Masih Aman dan Memang Bisa Pakai Pertalite  

28 Juni 2026
Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini  Terminal

Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini 

29 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.