Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kota Kreatif, Pembangunan Terbaik, dan Kebohongan Lain tentang Kota Pekalongan yang Harus Diluruskan

Muhammad Arsyad oleh Muhammad Arsyad
31 Agustus 2022
A A
Betapa Sulitnya Meromantisasi Kota Pekalongan Terminal Mojok

Betapa Sulitnya Meromantisasi Kota Pekalongan (Mamamstock/Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kota Pekalongan katanya religius, pembangunannya terbaik, kreatif. Benarkah?

Beberapa hari lalu, artikel-artikel yang menguak kebohongan kota-kota di Indonesia muncul di Terminal Mojok. Kebanyakan dari artikel itu mengulas kebohongan di kota-kota besar. Jogja, Surabaya, Semarang, sampai yang terakhir saya baca, Kota Bandung.

Nah, karena belum ada yang berani menguak kebohongan Kota Pekalongan, maka kali ini saya akan membahasnya. Tentu pertama-tama saya akui dulu, bahwa kota ini memang bukan termasuk kota besar.

Sekalipun barangkali, oleh penduduknya sendiri dianggap kota besar. Namun, tiada mengapa. Membanggakan kota sendiri toh sebuah tindakan yang bisa jadi berbuah pahala. Karena bukan kota besar, saya rasa kebohongan-kebohongan tentang Kota Pekalongan nggak banyak yang tahu.

Tepat di titik itulah, saya rasa perlu menuliskan ini. Deretan kebohongan dan fakta sesungguhnya di lapangan tentang Kota Pekalongan. Sedikit banyak diketahui oleh penduduknya sendiri, dan ironisnya kebohongan itu acap kali disebarkan oleh penduduknya sendiri.

#1 Religius

Religiusitas bukan hanya perkara individu. Namun, sebuah kota bisa disebut religius. Kota Pekalongan memang nggak dapat julukan Kota Santri. Karena itu adalah julukan Kabupaten Pekalongan, tetangganya.

Namun, entah mengapa Kota Pekalongan juga kecipratan religiusitasnya. Kota Pekalongan, sepertinya sudah kadung disebut kota yang religius. Faktornya bisa cukup banyak.

Salah satunya, karena kami punya sebuah tempat yang, konon disebut “wisata religi”, yaitu Makam Habib Ahmad Sapuro. Namun, keberadaan “wisata religi” tentu saja belum cukup untuk menyebut Kota Pekalongan sangat religius.

Baca Juga:

Kecamatan Kalitengah Adalah Daerah Paling Ikhlas di Lamongan: Kebanjiran Dua Bulan dan Masih Mau Menyambut Bupatinya

Orang Pantura Adalah Orang Paling Tabah, Mereka Paling Kuat Menghadapi Kesengsaraan karena Banjir

Betul suara adzan terdengar bertalu-talu di kota ini. Suara orang bersholawat juga terus terdengar, terutama ketika memasuki Bulan Maulid. Namun, jelas bukan hanya Kota Pekalongan yang punya atmosfer semacam itu. Kota lain pun, saya rasa, punya nuansa yang sama religiusnya.

Namun, orang-orangnya sebenarnya tidak religius-religius amat. Beberapa kali kasus kekerasan seksual terjadi. Itu baru satu kasus.

Beberapa kali saya menemukan kasus pembunuhan di Kota Pekalongan. Saat saya magang di salah satu media lokal, Polres Pekalongan Kota nggak sekali dua kali melakukan konferensi pers. Ada saja kejahatan yang terjadi.

Data dari BPS menunjukkan, ada 123 laporan kasus kejahatan di Kota Pekalongan sepanjang tahun 2021. Angka itu bahkan lebih banyak dari Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Kabupaten Jepara, dan Kabupaten Banjarnegara.

Selain menunjukkan kota yang ternyata nggak religius-religius amat, data itu memperlihatkan bahwa warganya ternyata nggak ramah-ramah banget. Jadi jangan terkecoh kalau ada yang bilang warga Kota Pekalongan itu ramah.

#2 Kota Kreatif Dunia

Saya cukup terkejut ketika UNESCO menyebut Kota Pekalongan menjadi salah satu kota kreatif dunia. Tentu sebagai organisasi level dunia yang kredibel, UNESCO punya kriteria khusus untuk nekat menyebut demikian.

Setelah saya mencari tahu, Kota Pekalongan memang oleh UNESCO masuk dalam kota kreatif dunia bidang kerajinan dan seni budaya tahun 2014. Itu karena batik. Sebuah kerajinan lokal yang mampu membuat warga lokal, entah laki-laki atau perempuan bisa berdaya. Bisa mencari nafkah dari sana.

Namun, saya rasa soal batik pun masih banyak sekali kekurangan. Limbah, kesejahteraan pekerja, bahkan soal karya batik itu sendiri. Soal orisinalitas terutama. Sangat sulit untuk melihat karya batik yang orisinil.

Setiap pengusaha, akan cenderung membuat batik dengan motif yang sudah dibuat. Padahal setiap motif punya penciptanya sendiri. Nah, kalau soal motif saja tidak kreatif, dan cenderung membatik dengan motif yang sudah dibikin orang, apa itu layak disebut kreatif?

Itu baru soal batik. Jika kita menariknya ke spektrum yang lebih luas, tentu Pekalongan sangat nggak kreatif. Soal wisata, misalnya. Kota Pekalongan sangat tidak kreatif. Alih-alih menyesuaikan dengan kondisi kota yang kerap diselimuti rob, pembangunan wisata di Kota Pekalongan justru “meniru” kota-kota besar. Yang begini, kreatif?

#3 Pembangunan Daerah Terbaik

Ini adalah kebohongan yang nggak masuk akal. Jika kalian mencari di Google dengan kata kunci “penghargaan Kota Pekalongan”, kalian akan menjumpai bahwa kota ini mendapat predikat kota terbaik Penghargaan Pembangunan Daerah tahun 2022 di Provinsi Jawa Tengah.

Ini jelas ra mashok. Pembangunan daerah terbaik? What? Itu yang ngasih penghargaan nggak salah, nih?

Sampai hari ini saya sulit untuk menemukan pembangunan yang konon terbaik itu. Di mana ada yang tahu? Hei warga Kota Pekalongan, ada yang tahu nggak pembangunan sukses itu yang mana?

Jika yang diambil contoh adalah wisata air, itu sangat nggak masuk. Wong itu bukan sepenuhnya proyek Pemkot. Lagi pula, andai pembangunan di Kota Pekalongan baik, nggak ada jalan-jalan yang berlubang dan tergenang air.

Nggak ada tuh pembangunan wisata yang lebih didahulukan dari pada aksesnya. Ini logika ngaco sih. Belum lambatnya pembangunan Pasar Banjarsari yang terbakar. Belum alun-alun yang, lagi-lagi harus direnovasi.

Belum daerah-daerah yang masih rob. Belum ini. Belum itu. Weslah banyak banget pokoknya yang belum. Begitu kok disebut terbaik. Hadeh.

#4 Kaline Kotor Tandane Masyarakat Makmur Rejekine, Kaline Resik Tandane Rejekine Seret

Ini adalah kebohongan, yang bahkan tak jarang diucapkan sendiri oleh wali kota. Dari periode ke periode. Kalimat “Kaline kotor tandane masyarakat makmur rejekine, kaline resik tandane rejekine seret” atau yang berarti “Sungainya kotor pertanda rezeki masyarakatnya makmur, sungainya bersih pertanda rezeki masyarakatnya seret” sering diucapkan.

Hah?

Wali kota maupun jajaran Pemkot sering mengucapkan itu. Apalagi ketika dikritik soal sungai di Kota Pekalongan yang nggak pernah bersih. Dan lucunya, pernyataan itu disepakati banyak orang.

Benar bahwa sungai yang keruh pertanda aktivitas batik tetap berjalan. Masyarakat Kota Pekalongan yang kebanyakan adalah buruh batik sedang bekerja. Sanggan atau pesanan mereka sedang banyak.

Perusahaan sedang memproduksi batik. Hal itu berbeda ketika sungainya bersih. Karena sungai bersih bisa menjadi pertanda sepinya aktivitas membatik. Ketika pandemi sedang mengamuk, saya sudah membuktikannya bahwa sungai di Kota Pekalongan sedikit lebih bersih. Mungkin karena aktivitas membatik yang sedikit.

Sedikit lebih bersih.

Namun belakangan saya sadar. Kalimat itu hanya pepesan kosong. Kredo itu benar-benar kebohongan yang harus segera dilenyapkan. Sungai-sungai di Kota Pekalongan tetap kotor. Bahkan bertambah keruh, tapi kita lihat, mana ada buruh batik yang sejahtera?

Rezeki buruh batik juga tidak akan selancar pengusahanya. Mereka digaji sangat jauh dari UMR. Kalau mau gaji lebih, harus lemburan. Sementara, pekerjaannya sangat melelahkan. Harus bergulat dengan uap malam batik yang dipanaskan. Harus bergulat dengan risiko kecelakaan kerja, dan masih banyak lagi.

Akhirul kalam, dengan menulis kebohongan-kebohongan tadi, saya nggak ada maksud untuk menjelekkan Kota Pekalongan. Saya juga lahir dari sini. Nggak mungkin juga saya menjelekkan kota kelahiran saya yang, memang sudah jelek itu.

Penulis: Muhammad Arsyad
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Panduan Membedakan Kota dan Kabupaten Pekalongan biar Nggak Salah Lagi!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 31 Agustus 2022 oleh

Tags: banjirpekalonganrob
Muhammad Arsyad

Muhammad Arsyad

Warga pesisir Kota Pekalongan, penggemar Manchester United meski jarang menonton pertandingan. Gemar membaca buku, dan bisa disapa di Instagram @moeharsyadd.

ArtikelTerkait

Kota Bandung Dibilang Mirip Gotham City? Lah, Bagusan Gotham Jauh!

Kota Bandung Dibilang Mirip Gotham City? Lah, Bagusan Gotham Jauh!

10 Januari 2023
Kota Malang

Selamat Ulang Tahun Kota Malang, Jangan Jadi Kota yang Problematik

1 April 2023
Alun-Alun Pekalongan: Tempat Terbaik untuk Belanja Baju Lebaran, tapi Syarat dan Ketentuan Berlaku

Orang Pekalongan yang Pulang dari Merantau Sering Bikin Komentar yang Nyebelin, kayak Nggak Kenal Kotanya Sama Sekali!

9 Januari 2026
Nestapa Perantau di Kota Malang, Tiap Hari Cemas karena Banjir yang Kian Ganas Mojok.co

Nestapa Perantau di Kota Malang, Tiap Hari Cemas karena Banjir yang Kian Ganas

13 Desember 2025
Rekomendasi Warung Sego Megono Pekalongan yang Low Budget untuk Menu Sarapan terminal mojok

Rekomendasi Warung Sego Megono Pekalongan yang Low Budget untuk Menu Sarapan

8 Juli 2021
venesia water seven pekalongan

Water Seven dan Pekalongan Itu Sama, Sama-sama Hampir Tenggelam

14 Desember 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pulang ke Lembata NTT Setelah Lama Merantau di Jawa, Kaget karena Kampung Halaman Banyak Berubah Mojok.co

Momen Pulang ke Lembata NTT Setelah Sekian Lama Merantau di Jawa Diliputi Rasa Kaget, Kampung Halaman Banyak Berubah

25 Februari 2026
Menyelami Makna VUCA Melalui Petualangan Dunia One Piece

Menyelami Makna VUCA Melalui Petualangan Dunia One Piece

24 Februari 2026
Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

26 Februari 2026
Realitas Mahasiswa UNNES Gunungpati: Ganti Kampas Rem yang Mengacaukan Keuangan, Bukan Kebutuhan Kampus Mojok.co

Rajin Ganti Kampas Rem, Kebiasaan Baru yang (Terpaksa) Tumbuh Pas Jadi Mahasiswa UNNES Gunungpati

20 Februari 2026
Alasan Vespa Matic Dibenci Tukang Servis Motor Mojok.co

Alasan Vespa Matic Dibenci Tukang Servis Motor

23 Februari 2026
Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

25 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur
  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT
  • Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi
  • Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.