Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Kasus Brigadir J: Ditertawakan Rakyat, Makin Menjatuhkan Martabat Polisi

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
10 Agustus 2022
A A
Kasus Brigadir J: Ditertawakan Rakyat, Makin Menjatuhkan Martabat Polisi

Kasus Brigadir J: Ditertawakan Rakyat, Makin Menjatuhkan Martabat Polisi (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Perjalanan kasus pembunuhan Brigadir J mencapai fase plot twist. Kini Bharada E dan Irjen Sambo kini ditetapkan sebagai tersangka. Skenario pelecehan seksual oleh Brigadir J kini berganti dugaan pembunuhan berencana. Sepertinya, Eichiro Oda boleh juga mengikuti kasus ini. Lumayan, jadi inspirasi serial One Piece besok.

Masyarakat Indonesia sendiri terus mengikuti kasus polisi vs polisi ini. Meskipun kadang terpaksa seperti saya ini. Lha wong buka medsos sebentar langsung nemu berita kasus ini. Mau tidak mau saya dan banyak orang lain ikut menyimak.

Tapi, yang saya lihat bukan proses hukum dari pembunuhan Brigadir J ini. Saya mengamati bagaimana respons masyarakat melalui media sosial. Apa yang saya lihat cukup menarik. Di tengah tuntutan penyelesaian kasus ini, ada tawa meledek merendahkan. Bahkan meminta media massa menghentikan pemberitaan kasus ini.

Dari apa yang saya lihat, boleh saya simpulkan bahwa balada kasus pembunuhan Brigadir J sudah sampai titik jenuh. Seperti sinetron yang sampai ribuan episode. Rakyat Indonesia mulai memandang kasus ini sebagai lelucon. Dan bersama dengan itu, memandang kepolisian yang terhormat sebagai panggung komedi.

Beberapa terbitan akun Facebook media dipenuhi emoticon tawa. Secara tidak langsung, banyak orang yang menertawakan kasus ini. Padahal ada nyawa yang melayang, dan ada konspirasi di baliknya. Tapi bagi banyak orang, kasus ini sudah kehilangan harga diri.

Beberapa komentar juga mulai sinis kepada kasus ini. Memang masih banyak yang meminta pengusutan tuntas terbunuhnya Brigadir J. Tapi sisanya meminta Polri untuk fokus pada kasus lain. Misal menangkap beberapa koruptor yang masih kabur

Saya sih maklum. Lha wong penyelesaian kasus ini tidak berdampak langsung pada masyarakat. Bagi mereka, kasus pembunuhan Brigadir J kini sekelas drama misteri. Bahkan diusulkan untuk diangkat menjadi drama series.

Rakyat tidak percaya dengan teori pelecehan seksual. Di mata rakyat, sejak awal kasus ini adalah pembunuhan berencana. Terbukti dari banyaknya simpati rakyat kepada Brigadir J. Dan plot twist kemarin menyempurnakan rasa skeptis rakyat kepada instansi penegak hukum Indonesia ini.

Baca Juga:

Saya Meninggalkan Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru

4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang “Kalah” dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar

Dari respons masyarakat, harusnya polisi mulai ketar-ketir. Tingkat kepercayaan masyarakat makin turun, dan berpotensi menjadi hilangnya kehormatan instansi kepolisian. Rakyat tidak lagi memandang polisi sebagai instrumen penegak hukum yang adil. Lha wong di antara mereka malah tembak-tembakan sampai menghilangkan nyawa.

Mungkin tinggal senapan dan hukum yang bisa memberi sedikit rasa segan rakyat pada polisi. Tapi ketika kepercayaan ini makin runtuh, lalu apa lagi yang dihormati dari polisi? Lihat saja beberapa daerah “hitam” di mana kehadiran polisi tidak dihormati lagi. Baik daerah krisis agraria, sampai pelosok negeri yang tidak terjangkau aparat. Apa yang terjadi jika fenomena ini lebih merata?

Yang saya takutkan adalah, dari kasus Brigadir J ini, rakyat berpikir social unrest akan jadi jawaban. Ketika masyarakat tidak percaya pada penegak hukum, setiap orang menjadi penegak hukumnya sendiri. Tidak ada hukum yang menjadi pegangan bersama.

Sudah, sudah. Saya tidak sampai hati melanjutkan skenario di atas. Toh saya yakin pihak kepolisian sudah mengamati situasi ini. Toh mereka punya cyber police yang dikhawatirkan menghapus kebebasan berpendapat bisa menjaga kestabilan sosial serta keamanan melalui medsos.

Tapi ketika rakyat tidak percaya pada polisi, mereka tidak segan. Ketika rakyat tidak segan, mereka tidak mengacuhkan. Ketika polisi tidak diacuhkan, lalu apa fungsi hukum? Jika hukum tidak memiliki instrumen untuk menegakkan, apa fungsi negara?

Jangan permainkan logika rakyat. Plot twist kasus Brigadir J tidak dinilai sebagai integritas polisi. Tapi, dinilai mempermainkan logika berpikir rakyat dengan skenario sekelas FTV. Pasangan yang dipermainkan hatinya saja minta putus. Masak mau diputus sama rakyat karena mempermainkan logika?

Menurunnya kepercayaan rakyat kepada penegak hukum memang bukan rahasia. Dan saya yakin, mereka—para penegak hukum—tahu betul akan perkara ini. Yang mereka perlu lakukan hanya satu: bekerja dengan sepenuh hati dan membuktikan bahwa memang mereka layak dipercaya. Namun, jika masih ada kasus-kasus seperti ini, saya amat ragu mereka akan kembali dipercaya.

Bahkan, saya ragu, mereka peduli dengan penilaian kita. Atau lebih buruk, saya ragu mereka peduli dengan rakyat.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sensitif, Motif Penembakan Brigadir J Belum Diungkap

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 10 Agustus 2022 oleh

Tags: brigadir JDramakepercayaan rakyatMedia Sosialpolisi
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

aborsi dan negara yang ikut campur urusan privat

Polisi Larang Aborsi dan Negara yang Hobi Ikut Campur Hal Privat

29 November 2021
Bukan TikTok Atau X, Platform Media Sosial Paling Toxic Adalah LinkedIn

Bukan TikTok Atau X, Platform Media Sosial Paling Toxic Adalah LinkedIn

7 Agustus 2024
Pengalaman Jadi Buzzer Produk di Twitter dan Memahami Polanya terminal mojok.co

Menikmati Revolusi Perkelahian Berkat Media Sosial

6 Mei 2019
facebook

Menjadi Orang yang Berbeda di Facebook, Twitter, dan Instagram

21 Agustus 2019
Jangan Biarkan Pengguna Quora Makin Banyak dan Ramai, Nanti Toksik terminal mojok.co

Jangan Biarkan Pengguna Quora Makin Banyak dan Ramai, Nanti Toksik

6 November 2020
pementasan teater

Pementasan Teater dan Hal-Hal yang Terjadi Setelahnya

19 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Motor Supra, Motor Super yang Bikin Honda Jaya di Mata Rakyat (Sutrisno Gallery/Shutterstock.com)

Tanpa Motor Supra, Honda Tidak Akan Menjadi Brand Motor Terbaik yang Pernah Ada di Indonesia

16 Januari 2026
KA Sri Tanjung, Penyelamat Mahasiswa Jogja Asal Banyuwangi (Wikimedia)

Pengalaman Naik Kereta Sri Tanjung Surabaya-Jogja: Kursi Tegaknya Menyiksa Fisik, Penumpangnya Menyiksa Psikis

13 Januari 2026
Belanja Furnitur Mending di IKEA Atau Informa? Ini Dia Jawabannya

Belanja Furnitur Mending di IKEA Atau Informa? Ini Dia Jawabannya

18 Januari 2026
Pengendara Jogja Jarang Klakson Bukan Berarti Mereka Beradab di Jalan dan Layak Jadi Teladan  Mojok.co

Pengendara Jogja Jarang Klakson Bukan Berarti Mereka Beradab di Jalan dan Layak Jadi Teladan 

19 Januari 2026
5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo Mojok.co

5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo

15 Januari 2026
Publikasi Artikel: Saya yang Begadang, Dosen yang Dapat Nama publikasi jurnal

Publikasi Jurnal Kadang Jadi Perbudakan Gaya Baru: Mahasiswa yang Nulis, tapi Dosen yang Dapat Nama, Logikanya di Mana?

19 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.