Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Media Sosial

Menikmati Revolusi Perkelahian Berkat Media Sosial

Hanif Amin oleh Hanif Amin
6 Mei 2019
A A
Pengalaman Jadi Buzzer Produk di Twitter dan Memahami Polanya terminal mojok.co

Pengalaman Jadi Buzzer Produk di Twitter dan Memahami Polanya terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Perkelahian apapun bentuknya (adu mulut ataupun adu pukul) adalah hiburan paling menyenangkan yang bisa saya dapat. Kecuali, ya, jika yang terlibat di dalamnya adalah saya sendiri.

Salah satu bentuk perkelahian paling berkualitas adalah adu jotos anak sekolah dari SD sampai SMA. Ia liar, nyata, bebas, dan (pada beberapa kasus istimewa) eksperimental.

Omong-omong soal eksperimental, saya pernah menyaksikan seorang bocah SD yang di tengah adu jotos merapalkan mantra ala dukun lalu mempraktikkan kuda-kuda aneh yang hanya bisa disaksikan di sinetron silat. Sambil menangis, tentu saja.

Belum lagi SMP dan SMA. Di hutan rimba satu ini seni perkelahian fisik mencapai puncak kemurniannya. Mulut sudah bukan senjata lagi. Waktu SD misalnya, saya masih bisa membuat teman yang badannya besar menangis dengan menghina ayah atau ibunya. Cobalah trik tadi di SMP atau SMA dan salah satu skenario buruk yang bisa terjadi adalah wajahmu dibenturkan ke meja penuh coretan tip-ex sampai tidak bisa bernapas (pengalaman nyata sebagai saksi mata).

Pada bentuk paling gelap dan tidak layak-tayang, perkelahian bisa merenggut nyawa. Tawuran, saling balas dendam, perang, dan seterusnya. Tentu yang merenggut nyawa sebaiknya ditayangkan di film-film saja. Tapi apa boleh buat, sejarah sepertinya tidak pandang bulu dalam menentukan subjek humor bagi umat manusia.

Tapi mari lupakan perkelahian fisik karena ia terlalu hardcore bagi kebanyakan orang. Sekarang kita berpindah ke media sosial, tempat suci yang merevolusi cara manusia berkelahi.

Bayangkan dunia ketika manusia masih tinggal di gua. Perkelahian masih berada pada tingkat yang paling dasar : berebut makanan. Kita berjalan puluhan atau ratusan ribu tahun dan berjumpa dengan dua bocah SMA yang saling pukul karena salah seorang diantara keduanya mencampuri “ibumu” dan “kontol” piiip *sensor* dalam satu kalimat.

Eh, belum jauh berjalan, kita dapat lagi penemuan ketika sekumpulan orang berkelahi karena Tuhan yang mereka percaya berbeda-beda.

Baca Juga:

4 Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Medsos X, dari Titip Menfess sampai Jasa Spam Tagih Utang

Drama Cina: Ending Gitu-gitu Aja, tapi Saya Nggak Pernah Skip Menontonnya

Kasus-kasus tadi adalah kabar baik bagi para penikmat perkelahian, tentunya. Karena bahan berkelahi antar orang sudah makin bervariasi. Apakah bahannya bodoh dan konyol, ya itu soal lain.

Tapi kemudian media sosial datang dan dengan gagah ia berkata, “belum, belum cukup, tuan-tuan sekalian! “ Dan benar, perkelahian umat manusia memang belum cukup banyak dan variatif rupanya.

Maka meledaklah rimba perkelahian baru yang luar biasa seru melalui media sosial. Saya kira yang dilakukan media sosial cukup sederhana. Pertama, kumpulkan orang-orang goblok, bebal, dan banyak bacot dalam jumlah besar. Lalu taruh sedikit saja orang pintar dan/atau berkepala dingin.

Tentu siapapun (mau pintar atau goblok) juga akan pikir-pikir dulu sebelum kena pukul. Jadi ubahlah arena perkelahian dari adu jotos menjadi silat lidah (lebih tepatnya, silat jempol). Sialnya, banyak juga orang yang takut saling hina-menghina, jadi lakukan sedikit lagi modifikasi : beri orang-orang ini kebebasan untuk menyembunyikan identitas. Dan voila! Berkelahilah mereka.

Berdasar pengamatan saya (yang amat terbatas dan terbuka buat masukan), variasi paling umum dari perkelahian media sosial ada 2 :

1. Orang goblok berkelahi dengan orang goblok. Ini yang paling seru dan indah karena seringkali batasan-batasan logika dan nalar bisa ditembus.

2. Orang pintar “digebuki” orang goblok (kasihan, tapi kalau orang pintar dicampur dengan sesamanya biasanya mereka tidak berkelahi)

Dengan media sosial, silat lidah mencapai standar yang sama sekali baru. Sekarang orang-orang tak perlu malu menghina orang lain sambil mengemukakan pandangan kebodohannya dengan bangga. Toh, identitas mereka tidak ketahuan dan kalaupun ketahuan dampaknya (sepertinya) tidak akan signifikan bagi kesehatan jasmani dan rohani (kecuali orang yang anda hina sejenis Deddy Corbuzier).

Belum lagi jika orang goblok berhasil membuat kanal sendiri untuk berkumpul. Wah, makin mantap itu. Ilmuwan sekelas Isaac Newton pun bisa ditolol-tololkan. Atau kalau mau yang lebih segar topiknya bisa diganti dengan mendiskusikan bermacam simbol jahanam di atas rupiah.

Bahkan saya kira perkumpulan dan silat jempol dialektika antara orang goblok tadi berhasil menciptakan haluan yang segar bagi filsafat absurd. Bagaimana tidak? Kegoblokan thesis absurd mereka yang seringkali dihantam dengan antithesis yang tak kalah absurd berhasil menciptakan sitesis yang luar biasa bernas. Sitesis mereka, seperti kata saya tadi : Indah. Menembus batas logika dan nalar.

Dan jangan lupa, mereka ini revolusioner, bung! Dialektika mereka bahkan berhasil mengguncangkan teori bumi bulat yang begitu mapan selama ratusan tahun. Dajjal pun berhasil diungkap keberadaannya. Apalagi yang kelas teri seperti keadaan ekonomi dan politik suatu negara.

Soal variasi topik dalam bersilat lidah, media sosial juga berhasil melahirkan cabang-cabang baru. Tentu hal-hal old school seperti agama, bentuk muka, ras, dan haluan politik tetap laku. Hanya saja kini tingkat makian dan hinaannya bertambah pedas, beragam, dan absurd.

Mulai dari paha artis, hantu komunis di warung makan, etika selfie untuk orang berwajah jelek, hukum mencampur babi dan kurma, asah otak menentukan batas pelecehan seksual, cara bersih-bersih yang benar di restoran cepat saji, hak menjadi murtad, cara jadi touris guide, cara ngebacot yang benar bagi musisi, sampai kemampuan mengoper seorang pemain sepakbola.

Rupanya rangkaian balas-membalas hinaan, dialektika, dan kegoblokan di media sosial terlalu reaktif dalam menghadapi isu demi isu. Sehingga hasilnya adalah pelebaran topik/cabang berkelahi. Luar biasa, kawan-kawan! Luar biasa!

Kini saya, anda, dan kaum penonton perkelahian lain tidak perlu capek-capek pergi ke lapangan melihat 12 bocah berkelahi sehabis bermain bola atau membuka TV menonton debat kusir atau menyaksikan gulat bebas. Belilah kuota internet dan smartphone, akses media sosial jenis apapun dan ikuti insting anda dalam mencium bau-bau pertikaian.

Arena pertikaian favorit saya sih Twitter. Soalnya mau segoblok dan seabsurd apapun, rangkaian hina-menghina disini akan terlihat intelek. Kolom komentar Youtube dan Instagram juga bisa jadi opsi bagi anda yang lebih suka melihat balapan moral dan etika ketimbang intelektualitas (dan kegoblokan).

Kalau dari para pembaca ada yang ingin meramaikan ekosistem perkelahian media sosial, tentu saya persilahkan. Kabar baiknya, anda tidak perlu takut mengalami cedera fisik. Paling parah ya jempol terkilir karena kelewat bersemangat.
Hidup kegoblokan media sosial!

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2021 oleh

Tags: Media SosialPerkelahianRevolusi
Hanif Amin

Hanif Amin

Manusia biasa, menulis juga di mesintinta.wordpress.com.

ArtikelTerkait

Jerome Polin Tanya di Twitter, Netizen Ngamuk. Kalian Ini Kenapa, Sih Terminal Mojok

Jerome Polin Tanya di Twitter, Netizen Ngamuk. Kalian Ini Kenapa, Sih?

27 Januari 2022
RUU PDP dan Penggunaan Media Sosial untuk Anak di Bawah Umur yang Perlu Dibatasi terminal mojok.co

RUU PDP dan Penggunaan Media Sosial untuk Anak di Bawah Umur yang Perlu Dibatasi

22 Januari 2021
Mengukur Kecerdasan Seseorang kok Dilihat dari Hafal Nama Ibu Kota? Kalian Sehat?

Mengukur Kecerdasan Seseorang kok Dilihat dari Hafal Nama Ibu Kota? Kalian Sehat?

9 April 2024
Auto Base

Auto Base dan Kecenderungan Bersembunyi di Balik Akun Anonim

24 Oktober 2019
20 Istilah yang Harus Diketahui KOL Specialist

20 Istilah yang Harus Diketahui KOL Specialist

22 September 2023
instagram anak-anak

Bikinin Akun Instagram Pribadi Buat Anak-Anak: Apa Nggak Berlebihan?

28 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Keloran Selatan Bantul, Ujian Terberat Pengendara Bermata Minus seperti Saya

Bantul Selatan: Surga Tersembunyi buat Pekerja yang Malas Tua di Jalan dan Ogah Akrab sama Lampu Merah

12 Mei 2026
Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

14 Mei 2026
Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit Mojok.co

Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit

18 Mei 2026
4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu Mojok.co

4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu

12 Mei 2026
5 Kelebihan Kos LV yang Jarang Disadari, Nyatanya Nggak Seburuk yang Diceritakan Orang kos campur

Pengalaman Hidup di Kos Campur: Sebenarnya Tidak Seburuk Itu, tapi Sebaiknya Memang Jangan Pernah Coba-coba Tinggal

13 Mei 2026
Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama pengajian berbayar

Maaf Saya Berubah Pikiran, Konsep Pengajian Berbayar Memang Lebih Masuk Akal dan Layak untuk Diikuti

16 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.