Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Sinetron

Pementasan Teater dan Hal-Hal yang Terjadi Setelahnya

Andrian Eksa oleh Andrian Eksa
19 Mei 2019
A A
pementasan teater

pementasan teater

Share on FacebookShare on Twitter

Saya suka menonton teater. Setiap kali ada pementasan di kampus, sebisa mungkin saya tidak melewatkannya. Meskipun lebih sering menonton karena tertarik dengan poster atau isu pementasannya. Tapi, tidak jarang, saya menonton hanya karena ingin menuntaskan rasa penasaran, apa yang terjadi seusai pementasan? Setelah beberapa kali melalukan pengamatan, saya mencatat hal-hal berikut.

Pertama, penonton melakukan diskusi, baik dengan sutradara, pemain-pemainnya, atau sesama penonton. Diskusi ini terkadang dilakukan secara serius dengan duduk melingkar dan dipandu seorang moderator. Di lain kesempatan, ya, dilakukan dengan serampangan saja. Sekadar obrolan-obrolan warung kopi.

ADVERTISEMENT

Diskusi tersebut, baik serius maupun serampangan, membahas perihal pementasan yang baru saja usai, secara gagasan dan teknis. Bahkan sampai pada kesepakatan kerja sama untuk proyek atau pementasan selanjutnya. Sayangnya, diskusi ini menjadi hal paling jarang dijumpai. Terlebih pada pementasan-pementasan di kampus saya. Pementasan yang notabene hanya sebagai syarat sah gugurnya kewajiban mata kuliah 2 sks.

Kedua, penonton menulis ulasan pementasan. Hal kedua ini pun masih sedikit kita temukan. Jarang ada penonton yang kemudian menuliskan pendapatnya tentang sebuah pementasan. Kalau ulasan film, mungkin semakin membaik dari hari ke hari. Tapi, tidak dengan teater. Penonton teater biasanya hanya selesai pada sebuah unggahan foto.

Meskipun jarang, bukan berarti tidak ada. Saya masih menemukannya. Sesekali saja, karena memang pertunjukkan teater seolah tidak lebih menarik dari film. Pertunjukkan teater sangat berbeda dengan film. Adegan-adegannya langsung dan tanpa editing apa pun. Nasib sebuah pementasan teater bisa dibilang, terkadang untung-untungan. Seharusnya, hal ini menjadi salah satu daya tarik teater.

Kalau film bisa diputar berulang-ulang dan hasilnya sama, pementasan teater tidak akan bisa. Setiap kelompok teater tidak akan pernah bisa memberikan pementasan yang sama dari naskah yang sama sekalipun. Bahkan, dari latihan satu ke latihan lainnya, bisa berbeda.

Bagi kelompok teater, setiap naskah akan mengalami perkembangan dan penyesuaiannya pada tempat dan waktu yang berbeda. Seharusnya, daya tarik ini menjadi alasan untuk dituliskan.

Ketiga, penonton ikut serta dalam euforia. Kalau bagian ini sih saya yakin tidak pernah luput dalam pementasan apa pun. Terkadang malah ada yang sengaja datang hanya untuk ikut dalam euforia ini. Orang-orang tersebut, tidak serius menonton. Benar-benar hanya menunggu pementasan selesai dan dipersilakan naik ke atas panggung. Betapa menyebalkannya~

Baca Juga:

Saya Meninggalkan Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru

4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang “Kalah” dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar

Kamu pasti pernah berada di posisi saya. Duduk di antara orang-orang yang sembrono itu. Ketika pementasan sedang berlangsung, mereka sibuk sendiri dengan handphone-nya. Cekrek sana, cekrek sini, dan diunggah dengan caption sesuka hati. Menunjukkan pada dunia maya bahwa mereka sedang menunggu waktu untuk nimbrung dan bereuforia.

Itu sih masih sepele. Palingan fokus kita teralihkan sebentar. Tapi, kalau sudah berhubungan dengan orang-orang yang lebih tidak serius lagi, matilah diri saya ini. Sudah diniatkan mencari hiburan. Datang lebih awal agar kebagian tiket dan memilih tempat duduk yang nyaman. Lha kok pas pementasan, orang-orang kiri-kanan seenak jidatnya berisik tanpa rasa kasihan. Mbok ya kasihani saya yang menonton seorang diri seperti ini.

Saya masih berterima ketika berisik itu ada sangkut pautnya dengan pementasan yang berlangsung. Tapi, dasar sial, saya selalu mendengarkan berisik yang tidak berhubungan. Nggosipin si inilah, si itulah, astaga… ini dan itu saja tidak ada lo di gedung pertunjukkan ini. Ditahan sebentar saja bisa, nggak, sih?

Saya sedikit lega ketika pementasan usai dan penonton bertepuk tangan. Akhirnya, penderitaan saya berakhir sampai di sini. Orang-orang tersebut kemudian naik ke panggung dan memberikan hadiah berupa buket bunga atau hal-hal serupa dengan sebuah catatan, selamat, ya, atas pentasnya.

Keempat, tidak lain adalah penonton yang mengabadikan momen. Bagian keempat yang sengaja saya tuliskan paling akhir ini bersangkutan dengan bagian-bagian sebelumnya. Selama pementasan, sesekali orang-orang akan mengambil gambar atau kalau benar-benar serius akan mencatat beberapa hal.

Setelah itu, bahan-bahan tersebut digunakan untuk modal diskusi atau menulis sebuah ulasan. Kalaupun tidak sampai pada dua hal tersebut, pengabadian momen ini berkait dengan bagian ketiga. Orang-orang yang sudah menunggu untuk euforia, tidak mungkin melewatkan rutinitas foto bersama. Jelas dong, ya~

Foto-foto tersebut kemudian diseleksi untuk diunggah. Lengkap dengan caption yang tidak ada bedanya dengan kartu ucapan dalam buket bunga yang mereka berikan. Ya itu tadi, selamat ya atas pentasnya!

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2021 oleh

Tags: DramaPementasanTeater
Andrian Eksa

Andrian Eksa

Kelahiran Boyolali, 15 Desember. Saat ini menjadi seorang guru Bahasa Indonesia yang memilih tidak hanya sekadar mengajarkan kata, tapi juga merawatnya. Menyukai isu-isu terdekat di sekitarnya.

ArtikelTerkait

Saya Berpaling dari Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru Mojok.co

Saya Meninggalkan Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru

18 Januari 2026
Pengalaman Jadi Komdis Ospek, Panitia (Sok) Sangar yang Suka Bikin Drama

Pengalaman Jadi Komdis Ospek, Panitia (Sok) Sangar yang Suka Bikin Drama

9 Agustus 2024
Rekomendasi Drama Thailand Bergenre Thriller dengan Latar Sekolahan

Rekomendasi Drama Thailand Bergenre Thriller, Nggak Kalah Seru dari Drama Korea

3 Agustus 2023
Drama-drama yang Saya Nantikan di Masterchef Indonesia Musim Delapan terminal mojok.co

Drama-drama yang Saya Nantikan di MasterChef Indonesia Musim Delapan

28 Juni 2021
3 Hal yang Membuat Saya sebagai Penonton Kagum dengan Produksi Drama Korea Selatan selain Pemeran dan Alur Ceritanya

3 Hal yang Membuat Saya sebagai Penonton Kagum dengan Produksi Drama Korea Selatan selain Pemeran dan Alur Ceritanya

1 Januari 2024
Drama Akhirnya Berakhir, Ferdy Sambo Divonis Mati!

Drama Akhirnya Berakhir, Ferdy Sambo Divonis Mati!

13 Februari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tips membeli mobil bekas dari saya yang pernah jadi korban (Unsplash)

WAJIB IKUTI tips membeli mobil bekas ini biar kamu nggak jadi mangsa empuk para penipu

28 Juli 2026
Kerja di Bekasi nggak bikin cepat kaya, justru bikin saya capek dan kangen kampung halaman

Kerja di Bekasi nggak bikin cepat kaya, justru bikin saya capek dan kangen kampung halaman

2 Agustus 2026
Honda Vario 150 keyless, motor sialan yang berhasil bikin saya malu di hadapan bos Mojok.co

Honda Vario 150 keyless, motor sialan yang berhasil bikin saya malu di hadapan bos

28 Juli 2026
Penebang pohon keliling, profesi yang kerap dianggap sepele, dibayar murah, padahal taruhannya nyawa

Penebang pohon keliling, profesi yang kerap dianggap sepele, dibayar murah, padahal taruhannya nyawa

2 Agustus 2026
Kebumen yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Kini Diam-Diam "Naik Kelas" Jadi Makin Diperhitungkan Mojok.co

Waktunya Kebumen berhenti jual diri sebagai “kota yang murah”, harus mulai berani punya harga diri!

27 Juli 2026
4 Saran dari Warlok Jogja untuk Para Pendatang Biar Cepet Betah (Unsplash)

4 kebiasaan warga Jogja yang biasanya menular ke pendatang

28 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.