Naik PO Handoyo kelas eksekutif benar-benar bikin kapok.
Umumnya, ketika mendengar bus eksekutif, kursi empuk dan perjalanan nyaman yang terlintas di kepala. Langsung terbayang perjalanan panjang yang hangat dan menyenangkan. Tapi, teman saya justru merasakan yang sebaliknya.
Pengalaman itu dia rasakan ketika arus balik Lebaran naik PO Handoyo ke Bogor. Teman saya sengaja memilih bus eksekutif dan membayar mahal dengan ekspektasi tinggi, yaitu kenyamanan. Dia berharap dapat kursi lega, tempat duduk yang empuk, dan fasilitas pendukung lainnya yang lengkap. Tujuannya agar perjalanan yang dilaluinya jadi lebih manusiawi dan tidak dihantui kecemasan.
Kita sama-sama tahu, PO Handoyo bukanlah pemain kemarin sore. Bus ini seharusnya cukup berpengalaman untuk menyediakan fasilitas dan kenyamanan sesuai standar eksekutif. Tapi, kenyatannya tidak demikan.
Bare minimum bus kelas eksekutif pun belum
Dalam banyak promo PO Handoyo diperlihatkan pengalaman banyak penumpang yang diklaim merasakan kenyamanan. Mulai dari bantal dan selimut yang bersih dan wangi, hingga layanan makanannya yang enak dan higienis.
Baca juga Orang Waras Pilih Toyota Agya Dibanding Honda Brio, Lebih Keren dan Bebas Julukan Aneh-aneh.
Namun, seperti yang saya sebutkan di awal, apa yang dirasakannya ternyata jauh dari ekspektasi. Bahkan, sekadar memenuhi bare minimum untuk sebuah bus kelas eksekutif pun tidak.
Bayangkan saja, perjalanan belum berlangsung lama, tapi muncul semacam letupan di bagian dalam bus yang bikin teman saya bertanya-tanya. Entah itu bagian mesin, suspensi, atau komponen lain, yang jelas pengalaman ini langsung menciptakan rasa tidak aman.
Bus yang digunakan jelas tipe yang sudah tua sehingga ketika bus melaju menghantam lubang-lubang kecil, guncangannya begitu terasa. Setiap melewati jalan yang tidak rata, bagian bus berbunyi “gedubrak, gedebuk”, seperti ada bagian yang mau lepas. Semua kondisi itu alih-alih membuat teman saya duduk santai menikmati perjalanan, justru membuatnya dipaksa beradaptasi dengan kondisi bertahan dan bersabar.
Fasilitas lain tidak kalah buruk
Fasilitas lainnya pun tidak kalah mengecewakan. PO Handoyo yang dinaiki teman tidak menyediakan selimut, bantal, bahkan muncul bau pesing yang bikin duduk terasa beneran tidak nyaman. Tentu ini sangat berbanding terbalik dengan citra bus eksekutif yang selama ini ada di pikirannya.
Semua jadi kombinasi yang makin membuat teman saya kapok karena harus ditambah dengan supir busnya yang bagi teman saya terasa sedikit ugal-ugalan sehingga bikin was-was dan trauma penumpang yang ada di dalam.
Aspek krusial lain yang bikin teman saya makin geleng-geleng adalah soal makanannya. Untuk kelas eksekutif, teman saya mendapat paket makanan yang memprihatinkan. Bayangkan dengan biaya Rp600.000 (harga fase mudik Lebaran), dia hanya diberi menu makan nasi, tempe, dan sayur sop yang terdiri dari kol dan daun bawang.
Baca juga Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar.
Tentu ini jadi ketimpangan tersendiri antara harga tiket yang dibandrol dan label eksekutifnya dengan fasilitas makan yang diperoleh. Tentu ketika teman saya membayar lebih untuk kelas atas yang diharapkan adalah mendapatkan fasilitas yang layak. Masak nasi sayur sop.
Meski begitu, teman saya tetap memuji PO bus ini soal ketepatan waktu. Bus berangkat dan tiba sesuai jadwal. Setidaknya ini jadi poin positif dan sejalan dengan reputasi Handoyo yang konon memang gak terlalu molor kalau soal waktu. Tapi persoalannya, apakah itu setimpal jika pengalaman yang diterima penumpangnya justru adalah siksaan?
Jadi pertimbangan naik PO Handoyo
PO Handoyo bukanlah pemain baru. Dia adalah Perusahaan otobus lama asal Magelang yang rutenya sudah menjalar dari Jawa hingga Sumatera, dengan inovasi armada yang diklaim terus diperbarui dari waktu ke waktu. Beberapa ulasan dari penumpang pun memberikan kesan positif. Mereka memuji kursinya yang nyaman dan ketepatan waktunya. Ini jadi indikasi kalau kualitas pelayanan sebuah PO bus sangat bergantung pada unit bus dan krunya.
Inilah yang perlu diperhatikan. Ketika ada yang bilang bagus, tapi di lain sisi ada yang mendapatkan pengalaman yang tidak menyenangkan, maka kualitas layanannya dianggap tidak konsisten. Akhirnya penumpang seperti berjudi dengan nasib. Hari ini bisa nyaman, bisa jadi besok apes, dan berujung trauma. Teman saya akhirnya menjadi enggan untuk menggunakan bus lagi.
Tentu pengalaman teman saya naik PO Handoyo kelas eksekutif ini menjadi gambaran tentang gap antara citra yang dibangun dengan realita yang dialami penumpang. Dan, tentu saja, ini tentang konsistensi layanan. Label eksekutif yang ditawarkan seharusnya menjadi standar memberikan pelayanan yang manusiawi. Sebab, sejatinya, dalam menempuh perjalanan jauh, kemewahan bukanlah hal yang utama, tapi rasa aman, nyaman, dan dihargai sebagai penumpang.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















