Tulisan Terminal Mojok Kulon Progo, Tempat Terbaik untuk Slow Living di Jogja sangat enak dibaca. Narasinya yang rapi membuat Kulon Progo terdengar adem dan cocok jadi tempat pelarian ideal dari hidup yang terlalu ribut. Seolah-olah daerah ini sempurna untuk slow living.
Namun, catatannya satu, tulisan di atas terasa ditulis dari “luar pagar”. Sebagai orang yang telah bertahun-tahun hidup di Kulon Progo, saya kurang setuju. Kulon Progo memang tenang, ritmenya pelan, dan hidup terasa tidak terburu-buru. Tapi, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Hidup yang pelan di sini sering kali bukan pilihan, melainkan keadaan. Ritme hidup yang lambat sering dianggap kelebihan, seolah identik dengan damai. Padahal, dari dalam, pelan kadang hanya berarti tidak banyak opsi. Pilihan kerja terbatas, kesempatan tidak selalu datang, dan banyak orang menjalani hidup bukan karena ingin menikmati proses, tapi karena memang tidak ada banyak alternatif.
Jadi, ketika hidup terasa tidak terburu-buru, itu bukan selalu karena semua orang sepakat untuk melambat. Bisa jadi karena memang tidak ada yang bisa dikejar. Ini yang sering luput dari narasi tulisan sebelumnya.
Baca halaman selanjutnya: Slow living …



















