Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kulon Progo, Tempat Terbaik untuk Slow Living di Jogja

Nur Anisa Budi Utami oleh Nur Anisa Budi Utami
26 Maret 2026
A A
Kulon Progo, Tempat Terbaik untuk Slow Living di Jogja (Wikimedia Commons)

Kulon Progo, Tempat Terbaik untuk Slow Living di Jogja (Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada fase di hidup saya ketika ada sesuatu yang tak terlihat selalu mengejar. Sampai akhirnya saya kepikiran satu hal sederhana. Gimana kalau saya mengubah ritme hidup. Dan ya, pilihan itu jatuh ke Kulon Progo di Jogja (baca: Daerah Istimewa Yogyakarta) sebagai tempat terbaik untuk slow living.

Bukan karena Kulon Progo itu sempurna, tapi karena justru kesederhanaannya. Saya tidak menemukan banyak distraksi di sana, nggak banyak tuntutan, dan yang paling penting di sini nggak banyak yang maksa buat terus ngebut. Alasan-alasannya mungkin terdengar klise, tapi justru itu yang bikin masuk akal.

ADVERTISEMENT

BACA JUGA: Kulon Progo Sepi, tapi Punya Pesona Tersendiri

Malam yang nggak ke mana-mana, dan itu nggak masalah

Habis Isya, mayoritas jalanan di Kulon Progo sudah sepi. Bukan karena warganya pada menghilang, tapi memang ritmenya begitu. 

Nggak ada klakson saling sahut, apalagi motor ngebut yang bikin refleks nengok kanan-kiri. Yang ada justru suara jangkrik, angin yang lewat pelan, dan suasana yang… yaudah, tenang aja rasanya.

Buat yang biasa hidup di Kota Jogja, ini bisa terasa aneh. Jam segini kok sudah kayak dunia berhenti? Tapi lama-lama bikin sadar, mungkin selama ini yang terlalu bising itu bukan malamnya tapi kebiasaan kita yang nggak bisa diam.

Di Kulon Progo, kamu bisa slow living tanpa ada paksaan untuk tetap produktif. Nggak harus nongkrong, update story, atau harus kelihatan sibuk. Mau duduk di teras sambil ngopi aja sudah cukup rasanya. Dan ritme yang kayak gini terasa lebih penuh daripada sekadar ramai kayak di Jogja.

Di Kulon Progo, hidup nggak rebutan

Penduduk Kulon Progo itu sebetulnya banyak. Namun, kamu nggak bisa membandingkannya dengan Jogja. Khususnya soal ritme, apalagi cita-cita ingin slow living. Dan ini justru bikin semuanya terasa lebih longgar. Nggak perlu berebut jalan. Bahkan hal-hal kecil kayak parkir atau duduk di warung pun terasa lebih santai.

Baca Juga:

Cerita orang Muhammadiyah di tengah kultur NU Tegal yang kental: awalnya syok, lama-lama bisa ambil hikmahnya

3 kebiasan warga Tegal yang dahulu saya anggap aneh, tapi kini malah saya tiru

Di tempat yang nggak terlalu padat, kamu jadi punya ruang. Bukan cuma ruang fisik, tapi juga ruang di kepala. Nggak terlalu banyak distraksi, nggak terlalu banyak tekanan sosial yang bikin kamu harus selalu ikut arus.

Memang, kadang terasa sepi. Tapi sepi yang kali ini beda, bukan sepi yang kosong kayak di Jogja, tapi sepi yang bikin kamu ngasih jeda.

Nggak ada macet, nggak ada drama kayak di Kota Jogja

Kalau di Kota Jogja, macet itu sudah kayak ritual harian. Di Kulon Progo, macet hampir jadi cerita fiksi. Perjalanan 15 menit ya benar-benar 15 menit. Nggak ada plot twist di tengah jalan.

Hal sesederhana ini ternyata berpengaruh besar. Kamu jadi nggak terburu-buru. Nggak perlu berangkat kepagian cuma buat jaga-jaga. Bahkan kalau telat sedikit, rasanya dunia masih baik-baik saja.

ADVERTISEMENT

Semakin ke sini, saya semakin menyadari. Mungkin selama ini yang bikin capek bukan aktivitasnya, tapi perjalanan menuju ke sana.

Biaya hidup yang masih masuk akal, cocok untuk slow living

Soal biaya hidup di Kulon Progo, ini salah satu alasan kenapa banyak orang mulai melirik Kulon Progo untuk slow living. Harga makan, jauh lebih murah ketimbang kota. Untuk tempat tinggal, juga belum sampai level “mimpi buruk tanggal tua”.

Yang menarik, murah di sini bukan berarti asal-asalan. Justru karena biayanya masih manusiawi, kamu punya ruang buat menikmati slow living tanpa rasa bersalah. Mau ngopi, silakan. Mau jajan, gas. Nggak ada drama saldo yang langsung drop.

BACA JUGA: 4 Rekomendasi Kuliner Kulon Progo yang Wajib Diketahui Wisatawan

Slow living, tapi bukan slow motion

Banyak yang salah paham. Slow living itu bukan berarti hidup tanpa arah atau kerja seadanya. Ini bukan soal rebahan seharian sambil berharap hidup berubah sendiri.

Slow living lebih ke soal ritme. Di Kulon Progo, kamu tetap kerja, punya target, dan bisa mengejar mimpi. Tapi kamu nggak dipaksa untuk selalu ngebut. Nggak semua hal harus dikejar dalam satu waktu.

Di Kulon Progo, ritme itu terasa lebih manusiawi. Kamu bisa produktif tanpa harus terlihat sibuk. Bisa berkembang tanpa harus kehilangan napas.

Memang, pilihan hiburan di sini nggak sebanyak Kota Jogja. Tempat nongkrong juga nggak tiap sudut ada. Tapi justru di situ letak menariknya.

Karena nggak banyak pilihan, saya jadi lebih sadar yang benar-benar saya butuhkan. Nongkrong bukan lagi soal tempat paling hits, tapi soal siapa yang kamu ajak dan obrolan apa yang terjadi.

Kulon Progo memang bukan tempat untuk semua orang. Kalau kamu tipe yang butuh keramaian, butuh hiruk-pikuk biar merasa hidup, mungkin akan cepat bosan. Tapi kalau kamu lagi capek sama ritme yang terlalu cepat dan ingin slow living, ini tempat terbaik di se-antero Jogja.

Penulis: Nur Anisa Budi Utami

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Kulon Progo Cocok untuk Orang Mumet karena Ada 6 Tempat Ajaib Ini

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Maret 2026 oleh

Tags: biaya hidup di kulon progoJogjakulon progoslow livingYogyakarta
Nur Anisa Budi Utami

Nur Anisa Budi Utami

Guru TK yang tinggal di Kulon Progo. Suka menulis, ngopi, dan jalan-jalan.

ArtikelTerkait

Gudeg Jogja Pinggir Jalan Lebih Enak Dibanding yang Terkenal (Unsplash)

Nyatanya, Gudeg Jogja Terkenal dan Mahal Itu Kalah Enak Dibandingkan Gudeg Emperan Pinggir Jalan

4 Januari 2025
Warung Madura Dianggap Menjajah Jogja, Guyonan Paling Lucu Abad Ini

Warung Madura Dianggap Menjajah Jogja, Guyonan Paling Lucu Abad Ini

6 Maret 2023
Membayangkan Stasiun Tugu Jogja Lenyap, Kira-kira Apa yang akan Terjadi? Mojok.co

Membayangkan Stasiun Tugu Jogja Lenyap, Kira-kira Apa yang Akan Terjadi?

25 Februari 2025
Culture Shock Orang Jogja Saat Merantau ke Surabaya

Culture Shock Orang Jogja Saat Merantau ke Surabaya: Salah Saya Apa kok Dipisuhi Cak Cuk Terus?

5 September 2023
Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi? (Unsplash)

Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi?

20 Juli 2026
Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju langsung dicap nakal (Unsplash)

Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju sedikit saja langsung dicap nakal

15 Agustus 2026
5 hal berkesan selama jadi peneliti lapangan yang bikin saya bersyukur telah memilih pekerjaan ini (Mojok.co)

5 hal berkesan selama jadi peneliti lapangan yang bikin saya bersyukur telah memilih pekerjaan ini 

16 Agustus 2026
Mahasiswa Pendidikan Informatika adalah mahasiswa paling patut dikasihani karena hidupnya sudah susah sejak dini

Mahasiswa Pendidikan Informatika adalah mahasiswa paling patut dikasihani karena hidupnya sudah susah sejak dini

14 Agustus 2026
Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan Terminal

Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan

15 Agustus 2026
Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

10 Agustus 2026
Derita orang Bojonegoro yang selalu jadi bahan bullying ketika nongkrong gara-gara bahasa yang dianggap aneh boso jonegoroan

Derita orang Bojonegoro yang selalu jadi bahan bullying ketika nongkrong gara-gara bahasa yang dianggap aneh

11 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.