Kampus di Bangkalan Madura Bakal Jadi “Pabrik” Pengangguran kalau Tidak Serius Berbenah

Kampus-Kampus Bangkalan Madura Bakal Jadi "Pabrik" Pengangguran kalau Tidak Mau Berbenah Mojok.co

Kampus-Kampus Bangkalan Madura Bakal Jadi "Pabrik" Pengangguran kalau Tidak Mau Berbenah (unsplash.com)

Ada banyak kampus di Bangkalan Madura. Namun, pilihan prodinya tidak beragam. Dari ujung barat sampai timur, utara sampai selatan, semua seakan menyediakan prodi yang seragam. Sama semua, kalau nggak Ekonomi Syariah, Hukum Syari’ah, Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Guru Madrasah. Kondisi ini sempat bikin saya bingung ketika mau kuliah. 

Setelah dipikir-pikir lagi, prodi yang seragam itu nggak cukup baik. Bukan saja bagi saya sebagai mahasiswa, tapi juga masa depan Bangkalan Madura. Bayangkan saja, kalau prodi yang seragam ini terus dipertahankan, beberapa tahun ke depan lulusan dengan keterampilan atau keilmuan yang sama akan membeludak. Dampaknya? Saya akan sulit dapat pekerjaan, Bangkalan Madura juga akan dipenuhi oleh pengangguran.

Setelah 5 tahun masa kebingungan memilih kampus berlalu, saya kira kampus-kampus di Bangkalan Madura sudah berubah jadi makin baik. Eh, ternyata malah makin parah!

Baca juga Urus KTP di Bangkalan Madura Ternyata Tidak Menjengkelkan seperti yang Dikira.

Di Bangakalan Madura itu satu kampus buka prodi lalu yang lain mengikuti

Beberapa tahun ke belakang, kampus di Bangkalan Madura banyak sekali yang mulai bertransformasi. Mulai dari mengubah nama kampusnya, sekolah tinggi yang meningkat jadi institut, dan yang paling banyak yakni keberanian mereka untuk membuka prodi baru. Nah, awalnya, saya melihat ini sebagai kabar baik, namun makin kesini kok kaya terasa seperti sebaliknya.

Ya, agaknya perkembangan kampus di Bangkalan Madura dengan membuka prodi baru itu tidak cukup baik. Alasannya, niat mereka sepertinya hanya karena FOMO saja. Coba kalian renungkan, kampus ini buka S1 Manajemen Pendidikan Islam, kampus lainnya juga buka prodi tersebut. Lalu, yang akhir-akhir ini ramai, S1 Hukum Tata Negara (HTN) yang mulai menjamur di kampus-kampus swasta di Bangkalan.

Kalau dihitung, ada 3 kampus yang membuka prodi baru S1 HTN. Untuk ukuran Bangkalan yang penduduknya nggak seberapa, 3 prodi HTN itu sudah kebanyakan.

Pertanyaannya kemudian, lulusannya mau dikemanain semua, pak atau bu?

Jangan fokus memperbanyak mahasiswa, kasian lulusannya

Saya kurang begitu memahami mengapa kampus-kampus di Bangkalan Madura ini FOMO dalam membuka prodi. Apa betul karena kondisi kekacauan negara maka mereka buka prodi HTN. Lalu, apa benar karena sistem pendidikan kita yang problematik maka mereka banyak buka prodi Pendidikan? Itu pertanyaan-pertanyaan kalau saya berpikir positif pada kampus-kampus itu ya. 

Akan tetapi, bisa jadi pula sebaliknya. Kampus-kampus mungkin ingin menggaet mahasuswa sebanyak-banyaknya lewat prodi populer. Dan tentu, alasan dibaliknya adalah pemasukan dan keuntungan. Maksud saya, keresahan kita, warga Bangkalan Madura, pada kondisi negara dan pendidikan malah dijadikan ladang untuk menarik kita. Yang penting, banyak aja dulu yang daftar ke kampusnya. Masalah kualitas? Belakangan.

Sekali lagi, itu kabar buruk ya. Jangan harap setelah lulus, karier kita bakal mulus. Bukan tidak mungkin kita malah kebingungan akan dikemanakan ilmu dan ijazahnya!

Baca juga Bangkalan Madura dan Sampang Memang Bertetangga, tapi Warga Bangkalan Jauh Lebih Sejahtera dan Bahagia.

Masing-masing kampus di Bangkalan harusnya punya keunikan

Saya termasuk orang yang tidak sepakat dengan kampus yang terlalu berorientasi pada keuntungan. Misalnya yang terjadi di Indonesia saat ini, semua kampus berlomba membuka prodi S1 Kedokteran, mulai dari yang kampus pendidikan, keislaman, hingga institut yang terkenal dengan jurusan tekniknya. Apa urgensinya? Ya, untuk menyedot UKT mahasiswanya. Tak ada yang bisa menjamin kualitas lulusannya.

Akhirnya, sekarang seperti tak ada kampus yang benar-benar mewarisi keilmuan di bidangnya. Kampus mana yang jago di bidang sosial, mana yang banyak melahirkan pemikir pendidikan, mana pusat ilmuan saintek. Tidak ada. Semua mencair, bahkan seakan mengejar di bidang saintek saja.

Nah, demikianlah yang saya takutkan terjadi di Bangkalan Madura. Takut pembukaan prodi di kampus hanya untuk menyedot UKT mahasiswa. Seperti kata saya, akhirnya tidak ada kampus di Bangkalan Madura yang memiliki identitas unik. Misalnya nih ya, mana kampus yang paling kuat di bidang tafsir, mana yang Filsafat dan Aqidah, mana yang Ekonomi Syariah mana yang Pendidikan. Semuanya datar-datar saja kelasnya.

Bayangkan kalau mereka punya fokus berbeda-beda, saya percaya pasti mudahlah disorot dunia. Ini lho di Madura pusatnya ilmuwan muslim! Asekkk.

Ya, cukup sudah. Artikel ini hanyalah keresahan saya sebagai warga yang mencintai kabupaten ini. Tentu saja, saya tak berharap kampus-kampus di Bangkalan Madura itu meluluskan pengangguran saja. Maka dari itu, saya harap harus betul-betul ada alasan yang bijak saat kampus di kabupaten ini berniat membuka prodi baru. Takutnya, harapannya hanya halu!

Penulis: Abdur Rohman
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Derita Mahasiswa Asal Madura yang Serius Kuliah di Surabaya, Terjebak Stereotipe dan Kerap Jadi Sasaran Dark Jokes.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version