Kalo Kampung Saya Ga Lagi Dilokdon, Pengen Rasanya Lari ke Jalan Ketawa Keras-keras Baca Berita Ini

Featured

Saleh Abdullah

Anarkisme kembali diperbincangkan. Hanya saja, apa pun kasusnya, perbincangan tentang Anarkisme selalu dimulai dengan asumsi stigmatik atau bahkan kutukan dan sumpah serapah. Anarkisme di negara +62 ini sering diidentikkan dengan vandalisme dan kriminalisme. Kali ini, Anarkisme disematkan pada aksi-aksi menyebar teror, lewat tulisan-tulisan di dinding-dinding, di antaranya berbunyi, “Sudah krisis saatnya membakar.”

Setelah menangkap 5 orang yang dicurigai sebagai para pelaku aksi corat-coret itu, polisi langsung menebar dugaan bahwa mereka adalah kelompok anarko yang akan melakukan aksi-aksi vandalisme di Pulau Jawa pada 18 April! Bukan main dah ah. Lima remaja, yang nggak jelas apa sudah akil balig atau belum, dianggap akan membuat rusuh kota-kota besar di pulau pusat kekuasaan negeri ini.

“Kelompok ini sangat berbahaya dan kita bersyukur kasus ini bisa terungkap sehingga rencana mereka tidak bisa terlaksana,” kata Kapolda Metro Jaya.

Siapa kelima anak muda ini sehingga dianggap akan bisa membuat rusuh Pulau Jawa?
Dan kalau benar tingkat kebahayaan gerakan mereka memang mengancam Pulau Jawa sebagai pusat kekuasaan negeri ini, apakah tidak berke-lebay-an kalau penangkapan mereka bisa begitu saja meredam rencana besar itu?
Semudah dan sesimpel itukah?
Bagaimana kalau ternyata gerakan mereka benar-benar begitu rapih terorganisir dari barat sampai ke timur Pulau Jawa, dengan semua sel-sel aktif di setiap kota di Jawa?
Dan mereka punya dukungan dana dan personil yang kuat?

Kalau tingkat kebahayaan mereka seperti yang ada di imaji Pak Kapolda itu benar adanya, itu berarti gerakan mereka terstruktur berlapis, dan rencana-rencana gerakan mereka tak mungkin bisa diredam begitu saja hanya dengan menangkap kelima pentolannya, kan? Rasanya kok nganu sekali ya, Pak. Kecuali gerakan mereka bermetamorfosa atau menunggangi gerakan virus corona. Bakal hancur lebur kita semua.

Lah, ngelawannya aja cuma modal cat pilok, masa iya bisa bikin rusuh Pulau Jawa sih, Pak? Hanya logika virus corona mungkin yang bisa memahami tingkat kebahayaan mereka itu.

Belum reda keanehan itu, dalam hitungan hari, muncul lagi berita yang lebih gawat lagi kocaknya. Polisi mengklaim sudah menangkap seseorang yang mendaku diri sebagai ketua anarko sindikalis Indonesia bernama Pius Laut Labungan. Yang bisa dianggap merusak seluruh tatanan akademik, si ketua berambut jambul kayak jengger ayam jago itu ditangkap setelah ketauan ngembat helm polisi (emang mau dijual ke mana tu helm polisi dan siapa yang mau beli? Kecuali si jambul ayam kleptomania kambuhan). Oh ya, kata berita, si Pius ditangkap pas lagi sakaw habis nyimeng (kalo dibilang sakaw gara-gara diserang corona, bakal lebih kocak nih). Better late than never, belakangan polisi ragu dan curiga si Pius punya gejala gangguan jiwa. Kalo kampung saya tidak lagi dilokdon, pengen rasanya lari ke jalan ketawa keras-keras baca berita ini.

Baca Juga:  Asal Tahu Saja, Kehadiran dr. Reisa Broto adalah Pertanda Buruk

Ketua anarko sindikalis Indonesia yang akan membuat Pulau Jawa rusuh ditangkap gara-gara nimpe helm polisi. Lagi sakaw pulak. Seluruh gerakan anarkis sedunia bakal halu nggak kelar-kelar kalo tahu cerita ini, Pak…. Kira-kira napah kalo mau bikin berita.

Seperti biasa, juga mungkin karena sudah kelamaan lokdon di rumah masing-masing, berita soal serangan pilok dan tertangkapnya si jambul ayam jago itu ditelan mentah-mentah dan diributin warga planet grup WA. Begitu dahsyatnya serangan Covid-19. Hatta, yang belum terindikasi kena pun bisa jadi berkurang tingkat kewarasannya.

Anarko sialan! Lagi wabah gini, malah nambah-nambahin masalah. Basmi! Anarkisme itu kembangan dari Komunisme, hajar!

Begitu komentar-komentar di beberapa WAG yang saya ikuti. Lengkap dengan foto-foto aksi corat-coret pilok, termasuk foto si jambul ayam jago itu yang telanjang baju dan gambar huruf A, ikon kaum anarkis, memenuhi tubuh bagian depannya. Ada juga video pendek testimoninya yang berpotensi membuat matahari tenggelam lebih cepat.

Padahal sejarah telah mencatat dengan baik kontribusi para pemikir anarkis di dunia, kendati sebagai kekuatan politik, saat ini gerakan anarkis mungkin sudah tidak signifikan. Tapi jangan pernah sepelekan dampak-dampaknya. Telusurilah dari mana muasal pemikiran tentang sistem kenegaraan federalis. Dan yang terutama dan relevan hingga hari ini, dari mana sejarah pemikiran perlunya buruh berserikat.

Secara etimologis, terma anarki berasal dari bahasa Yunani, archon yang berarti leader, pemimpin, rules. Kata archon ditemui pada masa tirani di Athena, pada 404 SM. Kata itu kemudian diserap bahasa Prancis menjadi anarchie yang bisa jadi juga dari serapan langsung bahasa Latin sebelumnya, anarchia. Hanya, pada kata serapan Perancis dan Latin itu, archon sudah mendapat tambahan “an” yang berarti without. Maka kita kenal kemudian terma/wacana anarchy dalam bahasa Inggris, yang secara literer sesuai etimologinya, berarti rulerless, anti kekuasaan memusat, tanpa aturan.

Literatur mencatat bahwa Anarkisme mulai digagas (falsafahnya) dan dijadikan platform gerakan, untuk melawan kekuatan-kekuatan tiran, menindas, dan mengintervensi hak-hak asasi warganya secara kolektif atau individual. Mereka melawan kekuatan-kekuatan destruktif negara totaliter, kapitalis, fasis, anti-demokrasi dan hak asasi manusia. Adalah Pierre-Joseph Proudhon (1809-1865), filsuf pemikiran politik Perancis, yang mungkin “agak” moderat memunculkan formula order without power. Sehingga fungsi negara hanya dibatasi pada pelayanan dan administrasi, bukan sebagai penguasa. Karena ketika sebuah negara berkuasa, ia akan menciptakan angkatan bersenjata, membatasi hak-hak warganya, dan bila perlu melakukan penaklukan ke negara-negara lain.

Baca Juga:  Bagaimana Meme Mempertontonkan Inkompetensi Polisi dalam Isu Anarkisme

Anarkisme kemudian berkembang dengan beragam varian dan para filsuf/pemikirnya. Ada Libertarian Laozi di Tiongkok, yang bahkan sudah lebih jauh merumuskan pemikiran-pemikirannya sebelum munculnya Anarkisme Eropa, pada abad-abad sebelum Masehi. Lalu ada lagi varian lain seperti Collectivist Anarchism (Mikhail Bakunin). Anarcho Communism (Peter Kropotkin), Green Anarchism (Henry David Thoreau) yang lebih concern pada persoalan-persoalan ekologi, Anarcho Feminism (Emma Goldman), dan masih banyak lainnya. Perhatikan juga lirik lagu Imagine-nya John Lennon: “… Imagine there’s no countries…” dst. Apa bukan anarkis itu?

Setiap pasal pada Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) klop dengan banyak pemikiran dasar Anarkisme karena prinsip-prinsip di dalam DUHAM jelas-jelas ingin membatasi peran sewenang-sewenang negara. Undang-undang Otonomi Daerah dan Undang-Undang Desa yang mempunyai, di antaranya, dua asas penting, asas rekognisi dan asas subsidiaritas, adalah pengakuan atas hak asal-usul komunitas di tingkat desa dan hak kewenangan berskala lokal untuk memutuskan sendiri kepentingan masyarakat desa. Esensi-esensi pemikiran seperti ini begitu familiar di dalam pemikiran-pemikiran para filsuf anarkis.

Masa, dengan bobot pemikiran yang pengaruhnya mendunia itu, mau direduksi ke gerakan nyemprot pilok, apalagi ke seorang ketuanya yang tukang nimpe helm? Ngeklaim sebagai ketua anarko sindikalis Indonesia. Ckckck. Emang dia buruh apaan? Buruh tukang jual helm hasil nimpe? Yang bener aja, ah! Kriminil kayak gitu mah dilokdon total aja!

Sumber gambar: Peringatan 100 tahun gerakan anarkisme di Australia, 1 Mei 1986 (kiri); poster diskusi “Bakunin dan Anarkisme” di Australia, 1975 (kanan). Keduanya dari Wikimedia Commons.

BACA JUGA Tidak Ikut Menjerat Gus Dur, tapi Saya Pernah Terlibat Dalam Penculikan Gus Dur dan tulisan Saleh Abdullah lainnya. Follow Facebook Saleh Abdullah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
9


Komentar

Comments are closed.