Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Nasib Anarko: Sudah Jatuh Tertimpa Tangga pula

Rizki Muhammad Iqbal oleh Rizki Muhammad Iqbal
19 Oktober 2020
A A
Nasib Anarko: Sudah Jatuh Tertimpa Tangga pula terminal mojok.co

Nasib Anarko: Sudah Jatuh Tertimpa Tangga pula terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Dulu saya pernah menonton film Prancis yang berjudul Les Anarchistes. Film bertema drama-politik ini mengisahkan seorang polisi bernama Jean yang ditugaskan oleh instansinya untuk menyusup ke dalam suatu perkumpulan anarkis.

Tugasnya yakni untuk mengawasi dan membuka tabiat para anarkis ini kepada pihak kepolisian. Namun, Jean justru masuk lebih jauh ke dalam lingkaran anarkis yang membuatnya bimbang dan dilema untuk mengkhianati instansinya atau mengkhianati persahabatan dalam circle anarkis tersebut. Apalagi Jean terlanjur mencintai salah satu anarkis bernama Judith.

Namun, sampai di akhir film tidak ada tanda-tanda kemenangan anarkis untuk sebuah upaya pemberontakan terhadap sistem, kapitalisme, dan orang-orang borjuis. Ini sama dengan para anarkis di dunia nyata yang nasibnya sungguh ironis.

Mungkin cita-cita mereka yang sangat ilusif atau memang sistem yang mereka lawan ini begitu kuat sehingga mereka tidak berdaya. Atau malah ideologi mereka sudah terlalu usang dan terpinggirkan?

Hal ini semakin diperparah ketika stigma kekerasan dan kerusuhan selalu dikaitkan dengan anarkisme. Dalam aksi 13/10 yang digelar oleh Aliansi Nasional Anti Komunis dan gabungan ormas yang berujung rusuh di Jakarta, Kapolda menyebut bahwa anak-anak STM yang terlibat dalam aksi demo merupakan massa anarko/anarkis.

Kemudian Aksi Budaya di Yogyakarta juga mengusung tema “menolak kekerasan dan anarkisme” pascakerusuhan demo di Malioboro yang menuntut pembatalan UU Cipta Kerja. Polisi juga menduga bahwa aktor yang memprovokasi sehingga terjadi kerusuhan merupakan sekelompok anarko.

Saya juga melihat video pada demo kemarin di Jakarta yang menuntut hal serupa. Ada satu video yang menunjukkan seseorang yang berbadan tegap, berotot ala orang-orang gym, dan tas selempang ala abang jago, sedang menumpuk road barrier untuk dibakar.

Namun, saya tidak yakin kalau seorang anarkis menghabiskan uangnya untuk sekadar disiplin tubuh demi proses menuju mitos tubuh ideal dengan bergantung pada pusat kebugaran seperti gym. Boro-boro pergi nge-gym, sohibun anarko saja memilih hidup dalam ketidakmapanan, kok.

Baca Juga:

Vandalisme dan Anarkisme Itu Beda, Jangan Sampai Keliru!

Sebelum Nyinyir, Sebaiknya Kenali Dulu Anarko

Dalam setiap kerusuhan demonstrasi, wacana yang ada selalu mengkambing hitamkan kelompok anarko. Mereka sudah susah, ditambah lagi dengan narasi yang diusung media maupun masyarakat yang belum sepenuhnya memahami anarkisme.

Pihak kepolisian menuduh bahwa aksi demo kemarin ditunggangi oleh kelompok anarko. Bahkan SBY pun juga difitnah mendanai aksi demo. Apakah SBY termasuk ke dalam sohibun anarko?

Saya rasa, wacana anarko sendiri selalu dikonstruksikan oleh media sebagai tokoh jahat atau dalang dari segala kekacauan maupun kerusuhan. Sekiranya hal inilah yang menyebabkan pemahaman sebagian besar orang terkait kelompok anarko sebagai tukang gawe rusuh. Ketika orang mendengar kata anarkis, maka mereka memahami bahwa telah terjadi suatu kerusuhan.

Hal ini hampir mirip ketika orde baru membangun wacana anti-komunis melalui media massa, buku, maupun film yang bertujuan untuk mengokohkan kekuasaan. Padahal mereka hanya ingin menutupi kebiadaban mereka saat membantai setengah juta warga yang tidak bersalah—yang dituduh sebagai simpatisan PKI dan dibunuh tanpa diadili. Kita harus jeli melihat bagaimana wacana dan pengetahuan selalu diproduksi oleh yang berkuasa.

Kita ini seperti hidup di dunia matriks, di mana sistem pengetahuan kita diinstal oleh yang berkuasa. Siapa yang berkuasa? Mereka adalah orang-orang yang memiliki kuasa untuk mengontrol media. Apalagi media pemerintah.

Sebelumnya kita harus memahami anarko terlebih dulu. Anarko atau anarkisme adalah ideologi yang mengusung prinsip masyarakat tanpa kelas. Anarkisme menekankan pentingnya kesadaran kolektif untuk hidup secara bersama-sama, persaudaraan, dan sukarela—dan yang pasti tanpa kepemimpinan, hierarki, struktur birokrasi, dan pemerintahan.

Mereka juga meniadakan kepemilikan pribadi atas properti. Mereka senantiasa melawan penghisapan kapitalisme, otoritas rezim yang sewenang-wenang, sistem yang menindas serta memperjuangkan pembebasan bagi kaum-kaum yang tertindas.

Anarkisme adalah ideologi penuh cinta, mengedepankan kebebasan dan memegang konsep gotong-royong. Mereka juga mengedepankan musyawarah bersama untuk menyelesaikan suatu masalah.

Tokoh yang pertama kali melabeli dirinya sebagai anarkis adalah Proudhon. Kemudian tokoh yang tidak asing bagi para anarko lainnya adalah Bakunin.

Kalian bisa mencari bukunya di toko buku terdekat. Kalau malas, kalian bisa search namanya di Google. Mencari gambar Anya Geraldine di Google saja mudah, apalagi hanya mencari identitas Proudhon atau Bakunin. Hehehe.

Terlepas dari itu, dalam aksi demonstrasi kemarin, memang sekiranya ada orang-orang yang sengaja menyusup ke dalam barisan demonstran dan memprovokasi sehingga terjadi kerusuhan. Dari kerusuhan itu media selalu membangun wacana bahwa anarkisme sama dengan tindakan kerusuhan.

Kemudian polisi yang menangkap sekelompok pemuda, entah itu pelajar, mahasiswa, pekerja ataupun pengangguran, menudingnya sebagai sohibun anarko. Dari sini dapat dilihat logika yang membangun konsep “musuh bersama”.

Terkadang memang ada orang-orang yang mengusung simbol anarkisme sebagai bentuk perlawanan, tapi belum memahami substansi anarkisme itu sendiri. Nanti jika terjadi kekacauan jatuhnya malah digoreng sama media dan jadi kambing hitam atas aksi kerusuhan yang ada.

Jika saya boleh suuzan, saya akan berpikiran lain. Bisa saja pihak yang berkuasa sengaja mendanai sekelompok orang untuk menyusup ke dalam barisan demonstran dan sengaja melakukan provokasi. Tentunya hal ini bertujuan untuk mengaburkan substansi perjuangan yang akhirnya menyebabkan masyarakat menjadi antipati terhadap para demonstran.

Jika kerusuhan selalu dikaitkan dengan anarkis, apakah kita boleh menyebut bahwa peristiwa reformasi ditunggangi oleh para anarkis? Atau pelajar STM yang sering tawuran itu adalah sekumpulan anarko?

Sudahlah. Para anarkis ini sudah susah. Cita-cita ideologi anarkisme sendiri terlalu ilusif dan sulit untuk diwujudkan di dalam negeri ini. Apalagi mereka selalu dituduh sebagai biang keladi pada setiap kerusuhan. Dasar nasib para sohibun anarko, sudah jatuh tertimpa tangga pula!

BACA JUGA Kalo Kampung Saya Ga Lagi Dilokdon, Pengen Rasanya Lari ke Jalan Ketawa Keras-keras Baca Berita Ini dan tulisan Rizki Muhammad Iqbal lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2020 oleh

Tags: anarkismeanarko
Rizki Muhammad Iqbal

Rizki Muhammad Iqbal

Suka selonjoran sambil makan gorengan.

ArtikelTerkait

mengenal chiapas meksiko wilayah tanpa negara subcomandante marcos mojok.co

Mengenal Chiapas, Wilayah Merdeka yang Hidup Tanpa Negara

9 Agustus 2020
Nasib Anarko: Sudah Jatuh Tertimpa Tangga pula terminal mojok.co

5 Usulan untuk Pemerintah Perihal Membimbing Anarko

23 Desember 2020
chiapas mengenal zapatista masyarakat tanpa negara di meksiko mojok.co

Mengenal Chiapas, Wilayah Merdeka yang Hidup Tanpa Negara (2)

18 Agustus 2020
Vandalisme dan Anarkisme Itu Beda, Jangan Sampai Keliru!

Vandalisme dan Anarkisme Itu Beda, Jangan Sampai Keliru!

10 Juni 2022
meme anarkisme

Bagaimana Meme Mempertontonkan Inkompetensi Polisi dalam Isu Anarkisme

28 April 2020
Nasib Anarko: Sudah Jatuh Tertimpa Tangga pula terminal mojok.co

Sebelum Nyinyir, Sebaiknya Kenali Dulu Anarko

27 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Harga Plastik Naik Bikin Kebiasaan Bawa Wadah Sendiri Diapresiasi Pedagang Pasar, padahal Dulu Sempat Dianggap Aneh

Harga Plastik Naik Bikin Kebiasaan Bawa Wadah Sendiri Diapresiasi Pedagang Pasar, padahal Dulu Sempat Dianggap Aneh

21 April 2026
6 Tanda Penjual Nasi Ayam Semarang yang Harus Dikunjungi Lebih dari Sekali karena Rasanya Tidak Mengecewakan Mojok.co

6 Ciri Penjual Nasi Ayam Semarang yang Harus Dikunjungi Lebih dari Sekali karena Rasanya Tidak Mengecewakan

22 April 2026
Gaji ke-13 PNS: Tradisi Musiman yang Dirayakan dengan Sepatu Baru dan Kecemasan Baru

4 Tempat Ngutang Favorit PNS untuk Kebutuhan Hidup dan Membuat Diri Mereka Terlihat Kaya

25 April 2026
4 Menu Janji Jiwa yang Perlu Dihindari biar Nggak Rugi, Saya Aja Kapok Pesan Lagi

Kopi Janji Jiwa Mungkin Sudah Bukan di Posisi Teratas Kopi Kekinian, tapi Menyebutnya Air Comberan Jelas Adalah Penghinaan

24 April 2026
Kebumen Itu Cantiknya Keterlaluan, tapi Nggak Bisa Jual Diri (Unsplash)

Kebumen, Kabupaten yang Cantiknya Keterlaluan tapi Nggak Bisa Menjual Dirinya Sendiri

27 April 2026
4 Ciri Angkringan yang Sudah Pasti Enak (Wikimedia Commons)

4 Ciri Angkringan yang Sudah Pasti Enak, Daya Tarik Penjual juga Nggak Kalah Penting

28 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau
  • Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido
  • Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman
  • Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka
  • 4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun
  • UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.