Mengenal Chiapas, Wilayah Merdeka yang Hidup Tanpa Negara – Terminal Mojok

Mengenal Chiapas, Wilayah Merdeka yang Hidup Tanpa Negara

Artikel

Prabu Yudianto

Pernahkah Anda berpikir, ada sebuah wilayah yang berdiri tanpa negara? Bahkan tidak memiliki sistem kenegaraan pada umumnya? Bukan juga persemakmuran ataupun teritori negara lain? Benar-benar wilayah yang dijalankan langsung oleh penghuninya, tanpa investasi dari luar?

Wilayah tersebut bernama Chiapas. Sebuah wilayah yang berada di pegunungan tempat bercokolnya bangsa Maya di selatan Meksiko. Meskipun dianggap sebagai bagian dari negara Meksiko, penduduk Chiapas merasa mereka adalah komunal merdeka tanpa kontrol dari pemerintahan mana pun. Bahkan tanpa menerapkan sistem kenegaraan dalam kehidupan mereka. Semua dilangsungkan dengan demokrasi langsung dari rakyat, tanpa perwakilan seperti DPR di negara kita.

Untuk memahami tentang wilayah yang unik ini, saya membagikan notulensi saya dari diskusi bersama Victoria Alondra. Ia adalah putri dari penduduk asli Chiapas. Diskusi ini terjadi pada tahun 2019 saat blio mengunjungi Indonesia. Berikut adalah notulensi dari diskusi bersama blio.

Victoria Alondra selalu menyebut dirinya “pengungsi diaspora” atau pengungsi yang tersingkir dari tanah airnya. Dia adalah seorang pelajar, aktivis, dan penyair. Ibu dari Victoria adalah masyarakat asli Zapatista yang sudah tinggal lama dan bekerja bersama masyarakat Zapatista. Sejak 2013 Victoria tinggal di Australia, dan pada 2018 Victoria bersama salah satu kawannya hidup bersama dengan masyarakat Zapatista sebagai pengamat terutama masalah HAM.

Victoria telah mendapat izin dari masyarakat Zapatista untuk menyampaikan kabar serta berbagai kisah mengenai masyarakat mereka. Masyarakat Zapatista adalah kelompok masyarakat otonom yang tinggal di wilayah Chiapas, Meksiko.

Masyarakat Zapatista kebanyakan adalah masyarakat pribumi Meksiko (suku Maya), meskipun ada banyak masyarakat lain yang berasal dari luar wilayah Meksiko.

Victoria mengatakan bahwa untuk mengenal masyarakat Zapatista, kita perlu mengenal bagaimana sejarah dari perlawanan Zapatista ini. Biasanya kita menganggap revolusi Meksiko adalah masa kemerdekaan Meksiko dari kolonial Spanyol. Padahal, perlawanan ini sudah dimulai 100 tahun sebelum “tanggal resmi” kemerdekaan. Dan perlawanan ini tidak berhenti setelah merdeka. Emiliano Zapata bersama beberapa revolusioner menolak kemerdekaan ini karena dianggap hanya sebagai pemindahan kekuasaan dari penindas lama ke penindas baru.

Revolusi Meksiko ini bisa dibagi dalam 3 babak. Babak pertama adalah revolusi awal yang dipimpin oleh Emiliano Zapata. Revolusi kedua adalah kelanjutan revolusi Zapata yang lebih besar untuk menolak eksploitasi lahan terutama oleh golongan elit. Revolusi ketiga diinisiasi oleh Flores Magon Bersaudara (Ricardo dan Enrique) dan lebih digalakkan di Meksiko City. Flores Magon bersaudara ini dikenal sebagai anarkis yang menolak kehadiran negara dan segala bentuk otoritas yang bersifat hierarkis.

Pada babak ketiga ini, para revolusioner berkumpul di Meksiko City untuk mencetuskan dokumen perkara agraria. Dokumen ini menentang hukum agraria yang sudah dibuat oleh pemerintahan Meksiko. Mereka menuntut tanah benar-benar dikembalikan pada rakyat tanpa dalih kepemilikan. Pandangan ini menolak model hukum agraria yang sudah ada sebagai model terbaik. Program di dalam dokumen inilah yang pada akhirnya dilanjutkan oleh para Zapatista.

Pada tahun 1979, lahirlah kelompok FLN (Fuerzas de Liberacion Nacional). FLN adalah kelompok perlawanan marxis-urban dan antikekerasan. Urban di sini dimaksudkan sebagai masyarakat non-pribumi Meksiko (bukan keturunan suku asli). FLN ini menjadi cikal bakal lahirnya EZLN (Ejercito Zapatista de Liberación Nacional) yang kita kenal sebagai Zapatista. FLN ini dipimpin oleh sebelas orang.

Pada masa pergerakan FLN ini, mereka berhasil mencuri 3 hulu ledak nuklir dari pemerintah AS. Tiga hulu ledak ini disembunyikan di 3 tempat, salah satunya di Chiapas. FLN juga mulai melakukan edukasi pada masyarakat asli Meksiko untuk melawan penjajah (pemerintahan Meksiko). Pada masa inilah, Subcomandante Marcos datang ke Chiapas. Marcos sendiri bukanlah nama asli, melainkan penghormatan kepada salah satu martir dari FLN pada saat pencurian hulu ledak nuklir ini.

Pada awalnya Marcos dan kelompoknya berpikir untuk memantik perlawanan oleh penduduk asli Meksiko. Kenyataannya, para penduduk asli ini sudah melakukan perlawanan lebih dari 500 tahun sebelum mereka datang. Kenyataan ini membuat Marcos sadar, bahwa bukanlah FLN yang mengedukasi para penduduk asli, melainkan FLN yang harus belajar dari penduduk asli untuk melawan penjajah. Dari 1973-1983, Marcos mempelajari budaya asli dari bangsa Maya, termasuk lima bahasa mereka. Dia lebih memilih belajar budaya asli daripada memaksakan budaya luar untuk dianut masyarakat. Pada akhir masa belajar Marcos dan kelompoknya, EZLN lahir.

Awalnya, EZLN ini beranggotakan 4 orang pria dan 3 orang wanita. Tugas anggota ini adalah menjadi perekrut awal. Masing-masing merekrut 1-2 orang dan yang sudah direkrut akan melanjutkan perekrutan pada 1-2 orang lain. Dalam organisasi mereka, ada prinsip-prinsip utama: tanpa kekerasan, tanpa minuman keras, tanpa bergosip/bergunjing, dan tanpa hubungan dengan pemerintah. Pada saat itu para anggota ini adalah para budak industri. Meskipun mereka terkekang, mereka berusaha mengorganisir perlawanan.

Pada malam hari, mereka berkumpul di tengah hutan untuk membicarakan tujuan baik jangka pendek dan jangka panjang. Tujuan mereka adalah: bebaskan semua budak dan rebut kembali tanah mereka. Pada akhir ’80-an, mereka telah berhasil bebas dari perbudakan. Dan mereka mulai membahas tujuan jangka panjang mereka.

Untuk mempersiapkan tujuan ini, mereka merancang dua prinsip baru: RMZ dan ARZ. RMZ adalah hukum revolusi perempuan yang didasari “karena kami lelah melihat anak-anak kecil terbunuh, kami membangun gerakan bersenjata tanpa kekerasan”.

Prinsip utama mereka adalah penolakan pada minuman keras, yang didasarkan “ketika kami diperkosa, kalian (para pria) sedang mabuk-mabukan. Dan ketika kami pulang ke rumah, kalian memperkosa kami kembali saat mabuk”. Prinsip anti miras ini masih menjadi salah satu prinsip masyarakat Zapatista. Hukum kedua adalah ARZ yang berfokus pada agraria dan masyarakat.

Prinsip agraria mereka adalah menolak jual beli tanah, menolak pajak tanah, menolak penggunaan pestisida dan segala bahan kimia perusak tanah, menolak subsidi pemerintah, pelestarian bumi, dan layanan pendidikan serta kesehatan universal. Hebatnya, dalam 10 tahun perekrutan dan konsolidasi, jumlah anggota mereka meningkat pesat dan mereka berhasil bebas dari alkohol.

Sumber gambar: Subcomandante Marcos, Wikimedia Commons

BACA JUGA Karl Marx Tu Awardee Permanen Beasiswa Friedrich Engels Lho, Maaf Sekadar Mengingatkan dan tulisan Dimas Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
21


Komentar

Comments are closed.