MOJOK.COSejarah Karl Marx ini harus diingat lho. Terutama buat kaum yang suka ngritik, “Mengkritik kapitalisme kok pakai produk kapitalis.”

Menjadi juru kritik di hadapan netizen +62 mensyaratkan Anda lebih tabah dibanding hujan di bulan Juni.

Anda terjaga semalaman. Jam-jam berharga Anda raib buat menyusun argumentasi penolakan tenaga kerja asing. Kepala Anda mengebul tak henti-henti sebagaimana rokok Anda. Bagaimana caranya menolak mereka tanpa terdengar seperti nasionalis yang lebih banyak mengembuskan sumpah serapah ketimbang napas? Bagaimana menyadarkan orang-orang bahwa kedatangan TKA akan memperbanyak tenaga kerja Indonesia yang dikirim ke luar negeri tanpa perlindungan, menjadi buruh lapisan bawah, serta melemahkan urgensi pemerintah untuk meningkatkan pendidikan?

Jam tujuh pagi, tulisan Anda kirimkan. Matahari sudah menyelinap masuk melalui ventilasi. Anda membaringkan tubuh dengan lega dan letih lantas, tak lama, terlelap. Ketika Anda terbangun, tulisan Anda sudah terbit. Anda senyum-senyum sendiri karena di Twitter tulisan tersebut berseliweran di mana-mana. Seketika, mimik Anda berubah kala menjumpai tanggapan-tanggapannya.

“Bacot aja kritik TKA. Paling penulisnya masih pakai Xiaomi,” tulis akun @dijaaambret.

“Ngomong doang. Laptop yang dipakai penulisnya dirakitnya juga di China,” cuit @presidenterindah.

Percayalah, saya tahu apa isi kepala Anda sekarang. Anda sedang mengabsen satu-per satu penghuni kebun binatang. Anda pun bukan cuma tak tidur satu malam sebenarnya—Anda sudah kehilangan hitungan berapa malam Anda harus bergadang ketika mengenyam ilmu ekonomi bertahun-tahun. Akun-akun dengan avatar comotan dari Google Images itu tak mau tahu.

Dan percayalah, sebagai kolumnis lapak di sisi kiri jalan yang menggunakan Macbook, saya paham dengan perasaan yang dialami tokoh Anda. Saya semata memilih laptop ini karena wejangan kakak saya yang amat masuk akal. Selagi ada tabungan, saya sebaiknya membeli perangkat kerja utama yang tahan banting, efisien, dan bisa digunakan buat waktu yang lama. Selagi bisa, saya ingin energi saya terpakai untuk menulis dan membaca ketimbang marah-marah dengan layar biru atau kerusakan peranti keras komputer saya. Tentu saja, netizen tak mau tahu.

“Ih, laptopnya Macbook,” timpal salah seorang penonton acara diskusi yang melibatkan saya suatu waktu. Sang penonton mengatakannya seakan saya memiliki sesuatu yang nista.

***

Jujur saja, sampai dengan hari ini saya masih tertatih-tatih memahami bagaimana logika oknum-oknum yang baru saya singgung bekerja. Mungkin bagi mereka, pengkritik haruslah pertapa yang tinggal di gunung, puasa empat puluh hari empat puluh malam, tidur di atas batu dan turun ke peradaban cuma di malam bulan purnama.

Saya tidak sarkas. Saya belum memulai sarkasme saya, tepatnya. Saya berbicara dengan frekuensi pikiran mereka belaka. Kritik seperti apa yang mau terbit dalam kurun waktu yang tepat bila penulisnya harus menghindari apa-apa yang dirakit di China—yang, sederhananya, ia harus menulisnya dengan bulu angsa, mengirimkannya ke media via pos atau burung merpati, dan redakturnya harus mengetik naskahnya dari awal?

Baca juga:  Bagaimana Kapitalisme Finansial Bekerja dalam Kasus Jiwasraya

Terdengar konyol? Bagus. Pasalnya, sekarang saya mau mengalihkan moncong senapan saya ke tempat lain. Saya mau bilang, orang-orang yang mengaku progresif pun tak lebih baik ketimbang akun-akun Twitter tak jelas itu ketika mereka mencemooh kritik dengan gaya yang sepadan tak mutunya. Cibiran mereka bagai mantra—sederhana, mudah dihafal, dan meletihkan:

“Mengkritik kapitalisme kok pakai produk kapitalis.”

Siap-siap. Saya mau nge-gas. Apa yang bukan bentukan dari kapitalisme hari ini, mylov? Apa yang tak diproduksi dengan laba sebagai orientasi dan membayar buruh di bawah nilai kerja sesungguhnya? Laptop bermerek “Akan Cepat Rusak” yang hari ini beli, besok sudah diopname di mas-mas jasa servis pun dibuat oleh buruh yang diperkerjakan dua belas jam. Telepon genggam sejutaan yang ngos-ngosan buat kuliah daring Zoom sekalipun, baterainya diproduksi lewat eksploitasi penambang anak.

Percayalah, saya mengecam eksploitasi-eksploitasi bejat di atas. Namun, bila ada yang  mendambakan kritik terhadap praktik kapitalisme dihasilkan dengan teknologi-teknologi yang dalam produksinya buruhnya mendapatkan keadilan sempurna—“teknologi nonkapitalis”, insan-insan pemimpi ini bakal bilang—harapan ini ialah harapan yang absurd. Kapan insan-insan pemimpi bersangkutan membayangkan kritik dapat dicetuskan? Tiga puluh empat puluh tahun lagi? Itu pun tidak janji—tak mungkin bila perubahan iklim keburu bikin kita semua ambyar, sumber daya habis dikeruk, dan kolonisasi planet lain cuma mimpi basah pengerek nilai saham Elon Musk.

Dan saya semakin jengkel ketika memikirkan cibiran di atas diucapkan oleh orang-orang yang getol mengutip pikiran-pikiran njelimet obrolan lapak sebelah di makalah kuliah serta komentarnya dalam diskusi kelas. Kalian belajar apa sampai-sampai menganggap kapitalisme seperti sekolah lawan tawuran SMA kalian alih-alih kerangka berproduksi? Bahwa semua atribut yang lekat dengannya harus dijauhi dan kebanggaan akan didapat ketika memamerkan identitas yang berkebalikan dengan kubu lawan?

Izinkan saya menyinggung sepintas idola nomor satu kalian: Karl Marx. Benar, idola nomor satu kalian itu berkepala batu. Benar, Marx menyengsarakan hidupnya sendiri serta keluarganya karena tidak mau mengompromikan pendirian teoretis dan politiknya (dan, saya yakin, kalian merayakan sikapnya yang terkesan sadomasokistis ini). Tapi, ia pun menerima santunan dari sahabatnya yang namanya seperti malaikat untuk menyambung hidup. Tambang uang sahabatnya itu ialah pabrik tekstil keluarganya. Pabrik tekstil keluarga itu menambang uang dengan mengeksploitasi buruh-buruh mereka.

Baca juga:  5 Ciri Anak Baru di Kaum Kiri alias Kiri Snobs

Hanya itulah cara agar Marx tak perlu memberi makan keluarganya dengan batu.

***

Saya tak mengatakan semua boleh dikompromikan. Seseorang tidak berhak berbicara perihal kesejahteraan petani Kendeng, katakanlah, bila ia digaji oleh Heidelberg Cement buat merebut ruang hidup mereka. Namun, ada situasi seperti yang diceritakan Yang Mulia Windu Jusuf di mana kaum progresif bakal tampak dungu bila keputusan-keputusannya dipijakkan pada pertimbangan centil ketimbang substansial.

Frank Capra ialah sutradara Amerika berhaluan politik kanan mentok, tulis Yang Mulia Windu. Capra memuja kapitalisme dan sosok-sosok fasis. Tapi, para penulis skenario kiri tak sungkan bekerja sama dengannya. Ia terbukti paten dalam membesut film melodrama menye-menye dan mau bekerja secara profesional. Berkat kolaborasi ini, lahirlah film-film apik “progresif, prorakyat miskin, dan bau-bau antikorporat”.

Bisakah Anda membayangkan betapa meruginya para penulis skenario ini bila mereka menentang keterlibatan Capra dalam proyek mereka? Bisa? Kini, Anda seharusnya dapat membayangkan betapa banalnya mantra “mengkritik kapitalisme kok pakai produk kapitalis”. Betapa tak ada yang dapat dicapai dengan pernyataan ini selain perasaan superioritas moral pengucapnya.

Saya tak tahu apakah Anda pernah mendengar nama Shofwan Al-Banna. Shofwan adalah sarjana Hubungan Internasional dan dikenal sebagai aktivis di lingkungan Tarbiyah. Ia gigih dalam membela Palestina, dan dalam menyuarakan kritiknya ia tak ragu mengambil inspirasi dari Marx atau teori Hubungan Internasional Marxian (dengan fasih, tidak seperti beberapa bapak tentara yang pernah populer di media sosial). Saya dengar, pendiriannya ini mengundang pandangan miring dari lingkungannya. Tentu saja. Di sejumlah kelompok muslim tertentu, Marx adalah subjek kebencian tanpa pandang bulu. Komunisme tidak padan dengan Islam dan itu final.

Orang-orangan kiri, saya yakin, menganggap opini miring terhadap Shofwan tak masuk akal. Shofwan memberdayakan teori Marxian sebagai perkakas buat mendedah bagaimana penindasan terhadap satu umat dilanggengkan. Apa salahnya? “Dasar picik! Puritan!” saya membayangkan satu dari antara mereka, Awkarno katakanlah namanya, berkomentar. Percayalah, mereka lebih perlu berkaca ketimbang mengadili para pengadil Shofwan.

Orang-orang belakangan gemar menggunakan ungkapan “sekadar mengingatkan” secara ironis. Saya ingin menggunakannya secara ironis terhadap para penggunanya yang ironis ini. Hanya dengan menjadi awardee permanen beasiswa Yayasan Friedrich Engels, Marx tak perlu menjadi kasir commuter line dan dapat khusyuk mengerjakan karya-karyanya. Saya tak perlu lagi mengejakan satu per satu dampak dari tulisannya.

Maaf, sekadar mengingatkan.

BACA JUGA Kalau Semua Buku Kiri Disita, Gimana Nasib Mahasiswa Sosial Politik, Pak? dan tulisan Geger Riyanto lainnya.