Seminggu belakangan tiba-tiba lini masa saya penuh dengan tulisan, postingan, cercaan tentang bintang Wonder Woman Gal Gadot.

“Gal Gadot zionis, tak pantas memerankan Wonder Woman.”

“Gal Gadot bukan role model feminis. Dia pendukung IDF yang membantai anak-anak dan perempuan.”

“Gal Gadot poster girl Israel. Pantas diboikot!”

Wonder Woman banyak dipuji sebagai film superhero dengan perspektif feminis, dan laku keras. Kesuksesan film ini segera menarik perhatian publik terhadap Gal Gadot, si pemeran utama, yang berasal dari Israel—negara yang mewajibkan warga negaranya ikut wajib militer.

Masalah baru muncul ketika pemerintah Lebanon memboikot peredaran film tersebut. Kemudian, muncul tulisan-tulisan seperti “Wonder Woman Is Your Zionist, White Feminist Hero”, “Gal Gadot isn’t Wonder Woman”, dll.

Pertanyaan saya terkait boikot dan gugatan ini itu kepada Gal Gadot sederhana saja: betulkah Gal Gadot mempropagandakan Zionisme dan militerisme Israel dalam Wonder Woman? Apakah sebagai pemeran utama Gal Gadot memiliki kontrol yang besar di lokasi syuting? Kalau Anda bilang iya dan iya, mungkin Anda sedang bermasalah dengan fakta—baiknya lupakan saja tulisan ini.

Begini, Bung dan Nona, saya tidak sedang bilang, “Udah liat aja filmnya, nggak usah ditarik ke politik.” Jelas tidak. Buat saya soalnya bukan kita harus politically correct saat nonton film atau tidak, tapi meletakkan political correctness di tempat yang tepat tanpa harus menjadi puritan politik.

Sikap politik seorang seniman tidak melulu seiring dengan karyanya. Karya relatif punya otonomi sendiri, dan hubungan karya dengan penciptanya bisa sangat kompleks. Lagi pula, sebuah karya tak mesti lahir dari kegundahan personal. Karya bisa saja pesanan (yang tak perlu baper saat mengerjakannya), atau dikerjakan dalam tekanan. Karena kesulitan ekonomi, misalnya, seorang komikus, jauh sebelum ternama, mengarang komik porno (ada lho, kasusnya); atau gara-gara ditodong pistol, seorang sutradara menggarap film propaganda pemerintah (kabarnya kita juga pernah punya kejadian begini).

Memang bukan berita baru jika ada seniman dan sastrawan yang karyanya bagus tapi sikap politiknya bermasalah. Tapi, buat saya, pertanyaan yang lebih penting: kalaupun pilihan politik kreatornya brengsek, apakah karyanya juga niscaya brengsek dan nirfaedah buat keberlangsungan manusia?

Lihatlah Frank Capra. Sutradara Amerika ini luar biasa Kanan (jika bukan menjurus fasis), memuja kapitalisme, Mussolini, dan diktator Spanyol Franco. Tapi, ndilalah film-filmnya progresif, prorakyat miskin, dan bau-bau antikorporat. Ternyata di balik kesuksesan film-film Capra, ada penulis-penulis skenario sayap Kiri (yang salah satunya bahkan dituduh komunis).

Lantas apakah orang-orang Kiri ini merasa najis bekerja sama dengan Capra? Hubungan mereka profesional semata; mereka dipekerjakan sesuai sistem studio Hollywood pada masa itu. Di luar itu, mereka paham, untuk menyutradarai melodrama menye-menye, Capra adalah jagonya.

Baca juga:  Kepada Abdul Somad Kita Sebaiknya juga Adil

Nah, cobalah Anda cari aktivis Kiri zaman itu yang memboikot film seperti It’s a Wonderful Life (1946) dengan argumen, “Capra tidak merepresentasikan kelas pekerja.”

Saya jadi teringat Louis-Ferdinand Céline, sastrawan Kanan tahun 1930-an yang mendukung rezim boneka fasis Vichy di Prancis Selatan pada Perang Dunia II. Anda boleh bilang apa pun tentang Céline: bangsat, rasis, misoginis, dll. Karyanya? Silakan baca Perjalanan ke Ujung Malam (1932), yang saking vulgarnya membicarakan perang dengan bahasa jorok, malah dibenci orang-orang fasis.

Siapa yang diuntungkan oleh penerbitan novel Céline? Kominis-kominis Prancis, kendati beda kubu, mengooptasi Perjalanan ke Ujung Malam sebagai propaganda anti-militerisme. Sukses? Ya sukses, sampai akhirnya Prancis diserbu Jerman pada 1940.

Kembali ke Gal Gadot.

Di akun Instagramnya dia menulis, yang kemudian dihapus, dukungan terhadap operasi militer IDF (angkatan bersenjata Israel) di Gaza. “I am sending my love and prayers to my fellow Israeli citizens. Especially to all the boys and girls who are risking their lives protecting my country against the horrific acts conducted by Hamas, who are hiding like cowards behind women and children…We shall overcome!!! Shabbat Shalom!

Dia tidak bersusah payah mengelaborasi kalimatnya yang terdengar polos itu. Tak ada argumen intelektual yang membenarkan operasi IDF dalam postingannya. Apakah hanya Gal Gadot seorang diri yang mengambil sikap itu? Tentu tidak. Yang dikatakannya adalah pandangan khas orang awam yang termakan propaganda militeristik pemerintah Israel.

Jutaan warga Israel mengambil sikap yang sama, dan mereka adalah orang biasa yang tak selalu mendapat informasi yang benar tentang konflik Israel—Palestina. Tak sedikit pula dari orang-orang ini yang bersimpati dengan kemalangan penduduk Palestina, tapi sekaligus yakin seratus persen pemerintahnya berusaha berdamai dengan penduduk Palestina, dan ketika pecah konflik antara IDF dan Hamas, mereka bela yang pertama tanpa tedeng aling-aling.

Tapi apakah pendukung IDF sudah pasti zionis? Zionisme itu sendiri juga perlu diluruskan.

Bahwa Yahudi dan Zionisme adalah dua entitas berbeda, itu fakta yang jelas. Bahwa beberapa jenis Zionisme tak selalu sejalan, itu yang belum cukup terang bagi kita di sini. Ada penganut Zionisme Kultural yang di awal abad ke-20 mendukung kembalinya orang-orang Yahudi ke Palestina, dan santai-santai saja hidup berdampingan dengan orang Arab, tanpa pernah menuntut (bahkan beberapa menolak) pendirian negara baru yang berlandaskan etnisitas seperti Israel. Ada juga yang mengatakan mendirikan negara baru itu penting untuk melestarikan keadiluhungan budaya leluhur dan menjaga keselamatan bangsa Yahudi—itu namanya Zionisme Politik, yang sejak 1950-an dominan di Israel.

Baca juga:  Israel Peringati 70 Tahun Deklarasi Sebagai Negara Hari Ini

Lalu, ada banyak intelektual dunia pada dekade 1950 sampai ‘60-an yang tidak masuk dua kubu di atas tapi mendukung berdirinya Israel.

Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir (yang membela kemerdekaan Aljazair) dan Michel Foucault (yang mendukung Revolusi Iran) adalah contoh pembela Israel pada zamannya. Pasalnya, mereka bersolidaritas dengan orang Yahudi Eropa yang nyaris punah selama Holocaust (1933—1945). Dan sialnya, Israel pun mengeksploitasi narasi Holocaust untuk politik ekspansionisnya. Seandainya mereka menyaksikan Israel yang makin agresif serobot tanah dan tak lagi sedemokratis Israel era Ben Gurion, saya nggak yakin mereka akan tetap dukung Israel.

Gimana, sudah cukup alasan untuk memboikot karya-karya tiga raksasa intelektual Prancis itu?

Mau yang lebih rumit lagi?

Orang yang sepakat dengan Zionisme Politik pun belum tentu mengamini kebrutalan IDF dan pendudukan Tepi Barat, yang menurut mereka akan merugikan warga Israel sendiri. Steven Levitsky (sarjana ilmu politik Harvard) dan Glen Weyl (sarjana ekonomi dan hukum Universitas Chicago), misalnya, pada Oktober 2015 menyatakan dukungan atas gerakan BDS (boycott, divestment, sanction), sebuah kampanye global menentang pencaplokan lahan dan pendudukan Israel atas Palestina yang berlangsung masif sejak 1967. Dua Yahudi Amerika yang mengaku zionis ini menyatakan tidak akan mendukung pemerintah Israel jika mereka tak serius dalam proses-proses perdamaian demi terciptanya negara Palestina yang berdaulat atau—dan ini bagian yang paling tricky—“memberikan kewarganegaraan yang sepenuhnya demokratis kepada orang-orang Palestina yang tinggal di satu negara”. Pendeknya, mereka membayangkan kemungkinan bahwa Israel dan Palestina bisa hidup berdampingan atau melebur dalam satu negara yang mana orang Yahudi dan Arab hidup setara.

Tapi mengeluarkan pernyataan seperti itu di negeri Levitsky dan Weyl pun bukan hal mudah; sekecil apa pun simpati terhadap warga Palestina dan kecaman atas IDF, bisa membuat mereka diserang dengan tuduhan antisemit yang sanksi sosialnya sangat berat.

Pandangan hitam putih atas konflik Israel—Palestina, dan penghakiman moral pada Gal Gadot, tidak akan membantu siapa-siapa, kecuali mungkin memuaskan perasaan self-righteous. Atau jangan-jangan kita jadi puritan politik karena sejak awal tak punya agenda politik yang koheren dan masuk akal, sehingga hal yang paling jauh bisa kita lakukan adalah sekadar mempolitisasi sentimen-sentimen sok benar seperti yang tertuju pada Gal Gadot.

Komentar
Add Friend
No more articles