Mungkin kita sering bertanya “Memang masih ada orang baik di dunia ini?” Saya pun begitu. Sampai suatu saat saya sadar, saya menemukan satu tempat aneh yang bisa menjawab pertanyaan itu: Trans Jogja.
Saat SMP, saya adalah pengguna harian Trans Jogja. Setiap hari sepulang sekolah saya selalu naik bus berwarna biru dan hijau itu. Sampai SMA, walau tidak seintens dulu, saya masih setia.
Banyak kejadian yang saya alami di Trans Jogja. Mulai dari remnya yang bermasalah (blong) di tengah jalan sampai harus melaju dengan sangat pelan (benar-benar pelan untuk ukuran bus).
Saya juga pernah ditinggal sopir sebentar untuk membeli bubur kacang ijo, nasi padang, sampai gorengan. Pernah juga saya menaiki bus dan merasa hari itu sangat “sejuk” yang ternyata pintu Trans Jogja hampir copot sampai angin bisa masuk ke dalam bus.
BACA JUGA: Tips Naik Trans Jogja Biar Aman Sentosa dan Nyaman Sampai Tujuan
Trans Jogja isinya orang baik
Terlepas dari segala hal aneh yang saya alami, menaiki Trans Jogja selama kurang lebih 5 tahun memperlihatkan sesuatu yang lebih sederhana. Kebaikan-kebaikan kecil yang ada di dalamnya.
Hal receh pertama yang saya sadari, dan sejujurnya sangat remeh, adalah ketika saat itu saya baru kali kedua atau ketiga naik. Saat itu saya hendak turun ketika seseorang di depan saya mengucapkan “Terima kasih, Pak” kepada bapak sopir. Saya ikut-ikutan.
Ajaibnya, kebiasaan itu terbawa sampai sekarang. Kedengarannya sepele, tapi di kemudian hari saya sadar bahwa 4 kata ajaib: terima kasih, maaf, tolong, permisi, justru sering dilupakan oleh orang-orang
Hal lain yang saya ingat adalah ketika datang ke Halte Bandara Adisutjipto dan ingin membuat kartu khusus pelajar. Saat itu, kartunya tidak tersedia sehingga saya diminta meninggalkan nomor telepon.
Jujur, setelah itu saya lupa dan saya tidak menaruh harapan bahwa pihak Trans Jogja akan menghubungi. Tapi, beberapa waktu kemudian, petugas benar-benar menghubungi saya. Ketika saya datang untuk mengambil, beliau benar-benar sudah menyendirikan kartu yang saya pesan agar tidak diambil orang lain.
Belajar mengalah demi orang lain
Selebihnya, kebaikan yang paling sering terjadi adalah yang paling sederhana, yaitu melihat orang-orang yang lebih muda mengalah dan memilih memberikan tempat duduknya ke lansia (bahkan walau bukan di kursi prioritas). Terlebih jalur yang saya naiki banyak berisi pedagang dan lansia.
Sehingga, pemandangan ini kerap saya lihat hampir setiap menaiki Trans Jogja. Bahkan kadang ada dua orang yang ingin memberikan kursinya bersamaan ketika melihat seorang lansia naik ke dalam bus. Seperti rebutan tapi pada hal yang jarang diperebutkan, yaitu memberi bantuan.
Hal lain yang bikin saya kagum adalah keramahan orang Jogja. Di bus, saya sering melihat ada orang-orang yang mengobrol dengan sangat akrab sampai saya pikir “Ah memang mereka menaiki bus bersama.”
Tapi, setelah saya perhatikan, ternyata mereka dua orang asing yang kebetulan naik Trans Jogja yang sama. Mereka bisa akrab dalam hitungan menit. Walaupun saya yakin ketika mereka bertemu lagi mereka tidak akan ingat bahwa mereka pernah mengobrol bersama di bus tapi justru di situ saya dibuat kagum dengan bagaimana supelnya orang-orang.
Tak jarang juga saya melihat bagaimana orang-orang saling membantu untuk menunjukkan arah. Terlebih bagi para pendatang, pasti mereka bingung harus turun di mana, naik rute apa, jadi para warlok dengan senang hati menjelaskan kepada mereka tentang rute Trans Jogja. Tentu dengan senyum dan keramahannya.
BACA JUGA: Asa di Kota Wisata
Satu hal penting yang saya pelajari di dalam Trans Jogja
Ternyata, kita tidak butuh banyak hal untuk menemukan atau bahkan menjadi orang baik di dunia. Kita hanya butuh ruang kecil, tempat di mana kita tidak punya banyak pilihan selain peduli.
Mungkin di luar Trans Jogja, dunia terlalu luas sehingga kita tidak punya pilihan untuk pura-pura tidak melihat, tidak tahu, atau tidak mau tahu. Akan tetapi, di dalam ruang sekecil bus umum, kita seperti diperlihatkan banyak orang yang lelah, orang yang butuh, dan orang yang perlu dibantu.
Dan mungkin, kita bukan kekurangan orang baik. Orang baik itu sebenarnya cukup banyak. Kita hanya terlalu sering punya jarak untuk tidak peduli.
Penulis: Keysha Rizky Fadilla
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Penumpang Trans Jogja Pantas Dapat Penghargaan sebagai Orang Paling Sabar Se-Jogja
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
