Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Kalau Ada Orang Bilang Wajah Saya Selera Bule, Itu Pujian Apa Hinaan Ya?

Era Yusnita oleh Era Yusnita
31 Oktober 2019
A A
Kalau Ada Orang Bilang Wajah Saya Selera Bule, Itu Pujian Apa Hinaan Ya?
Share on FacebookShare on Twitter

Pada suatu hari setelah jogging pagi, tiba-tiba saya merasakan tatapan penuh selidik dari teman saya. Saat saya tanya kenapa dia memandang wajah saya sampai segitunya, dia bilang kulit saya eksotis: selera bule. Saya heran sebab waktu itu wajah saya penuh keringat karena kepanasan dan sudah tertempel asap-asap knalpot kendaraan ibukota.

Oh iya, bule yang diomongin di sini merujuk pada orang kulit putih. Sementara eksotis diidentikkan dengan kulit kecokelatan. Saya paham maksud dia karena memang saya sudah sering dengar komentar beberapa orang Indonesia yang bilang kalau bule suka orang-orang Indonesia yang kulitnya sawo matang, kayak Anggun, Farah Quinn, Shanty, sama Indah Kalalo. Tapi kalau dibanding mereka, saya hanya remahan rengginang. Jadi, saya nggak nganggep diri sendiri selera bule. Lagian nggak ada bule yang ngomong gitu ke saya. Hahaha.

Nah, selain dikatain selera bule, saya dulu juga diejek saudara kalau muka saya kayak “bibi bibi”. Sebab, raut muka saya katanya melas dan buluk. Ibu saya juga waktu lihat berita tentang Cinta Laura di TV tiba-tiba tanya apa dulu ibu Cinta jadi TKW jadi bisa ketemu bapaknya Cinta yang orang bule Jerman? Padahal, mah, ibu Cinta lawyer. Ada suatu kepercayaan bahwa bule memang suka perempuan yang punya “muka pembokat”. Saya jadi mikir, ketika orang bilang saya selera bule, apakah maksud mereka saya punya wajah… anu.

Dulu disebut punya wajah kayak “bibi bibi” memang mengesalkan buat saya. Tapi semakin saya dewasa, saya tidak terlalu ambil pusing karena toh bukan masalah jika disamakan dengan pekerja domestik karena mereka pekerja keras. Salut loh, sama mereka. Kalau saya pikir-pikir, anggapan orang bahwa bule suka muka pembantu masuk akal juga, terutama kalau dilihat dari segi pengetahuannya. Pahlawan devisa kita yang kerja di luar negeri pasti menguasai beberapa bahasa asing. Jadi mungkin karena alasan inilah ada beberapa mantan TKW yang menikah sama orang luar.

Selain itu, saya juga nggak masalah kalau dikatain item. Kan saya orang Indonesia, tinggal di Asia Tenggara. Tentu saja, melanin di kulit emang lebih banyak buat melindungi diri dari paparan sinar matahari. Jadi, cukup syukuri saja pemberian Tuhan….

Perspektif orang Indonesia secara general yang menganggap gen bule itu superior, dikatain jadi selera mereka, memang bisa dianggap sebagai pujian. Tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya ada hinaan terselubung. Sebab pada dasarnya, masih ada beberapa orang Indonesia yang menganggap pembantu dan pengasuh itu pekerjaan rendahan, kulit putih itu lebih cantik daripada kulit gelap, apalagi kalau ditambahin embel-embel “nanti bisa memperbaiki keturunan”. Hello…emang ada yang salah dengan orang Indonesia? Kok sampai butuh bule buat “memperbaiki keturunan?”

Saya akui anak-anak blasteran ini emang cakep banget kalau menurut standar kecantikan Indonesia. Putih, tinggi, hidung mancung, dan pasti banyak yang nawarin jadi model atau bintang TV. Ya bolehlah mengangumi orang-orang ini. Tapi ya, jangan minder-minder banget gitu lo.

Inferiority complex ini sangat disayangkan. Saya sedih karena masih ada orang-orang Indonesia yang menganggap dirinya sendiri rendah. 74 tahun Indonesia merdeka ternyata kita masih belum benar-benar bisa memerdekakan diri dari pola pikir warisan kolonial Belanda. Waktu itu pemerintah kolonial Belanda melakukan segregasi masyarakat Hindia Belanda dengan menjadikan orang keturunan Eropa kulit putih sebagai masyarakat kelas atas, sementara pribumi di tingkat yang paling bawah.

Baca Juga:

Terogong, Daerah Kecil di Jakarta Selatan yang Dihuni para Bule. Jalan-jalan di Terogong bak Berada di Luar Negeri!

Sisi Gelap Eropa Menghapus Perasaan Inferior terhadap Bule, Ternyata Mereka Nggak Sesempurna Itu

Akibat mentalitas “memperbaiki keturunan” ini, takutnya entar ada bule yang besar kepala terus nanti kepolosan kita dimanfaatin sama bule-bule yang niatnya nggak baik. Kalau nfgak percaya, cek atuh di forum-forum expat di internet. Katanya, orang Indonesia terobsesi sama bule, jadi gampang didapetinnya.

Oleh karena itu bagi saya, dikatain sebagai selera bule, biasa aja sih. Maksudnya, nggak ada feadahnya buat saya karena mencari pasangan hidup yang penting baik kepribadiannya dan asal dapat hidup berbahagia. Nggak peduli dari negara mana. Buat orang-orang yang menganggap itu pujian, ya monggo. Boleh-boleh saja. Akan tetapi, tetap berbanggalah dan cintailah diri sendiri. Bukan karena kehadiran bule terus kita baru bisa menganggap diri kita bernilai.

BACA JUGA Asal-Usul Kata Bule Konon Dimulai dari Bule Itu Sendiri atau tulisan Era Yusnita lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 1 April 2022 oleh

Tags: buleInferiority complexmemperbaiki keturunan
Era Yusnita

Era Yusnita

A tiny girl with big apetite for new knowledge, she believes that knowledge is immortal and benefical for spiritual and material gain. Writing is the best way to communicate her ideas.

ArtikelTerkait

Kisah Cewek Selandia Baru Kecantol Lelaki Badui sigit susanto terminal mojok.co

Kisah Cewek Selandia Baru Kecantol Lelaki Badui

21 Agustus 2021
Bermesraan di Ruang Publik

Bermesraan di Ruang Publik: Wajar atau Nggak Tahu Malu?

3 Oktober 2019
4 Makanan Khas Jawa Timur yang Sebaiknya Nggak Buru-buru Ditawarkan pada Teman Bulemu terminal mojok

4 Makanan Khas Jawa Timur yang Sebaiknya Nggak Buru-buru Ditawarkan pada Teman Bulemu

23 November 2021
Terogong, Daerah Kecil di Jakarta Selatan yang Dihuni para Bule. Jalan-jalan di Terogong bak Berada di Luar Negeri!

Terogong, Daerah Kecil di Jakarta Selatan yang Dihuni para Bule. Jalan-jalan di Terogong bak Berada di Luar Negeri!

9 Juli 2024
Saat yang Tepat Buat Berhenti Overproud dan Memuja Bule terminal mojok.co

Saat yang Tepat buat Berhenti Overproud dan Memuja Bule

23 Januari 2021
Cewek Indonesia Impiannya Menikah dengan Bule Apa Nggak Pernah Pikir Panjang? terminal mojok.co

Cewek Indonesia yang Impiannya Menikah dengan Bule Apa Nggak Pernah Pikir Panjang?

24 Februari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Ciri Angkringan yang Sudah Pasti Enak (Wikimedia Commons)

4 Ciri Angkringan yang Sudah Pasti Enak, Daya Tarik Penjual juga Nggak Kalah Penting

28 April 2026
Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir Mojok.co

Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir

25 April 2026
Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

26 April 2026
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co

Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya

25 April 2026
Kebumen Itu Cantiknya Keterlaluan, tapi Nggak Bisa Jual Diri (Unsplash)

Kebumen, Kabupaten yang Cantiknya Keterlaluan tapi Nggak Bisa Menjual Dirinya Sendiri

27 April 2026
Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama Mojok.co

Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama

29 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas
  • Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”
  • Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan
  • KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa
  • Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta
  • Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.