Wahai Netizen, Kok Kalian Gitu Sih Sama Cinta Laura?

Artikel

Nuraini Dewi

JANGAN DEMO pleaseKasihan orang2 mau kerja dan mencari nafkah terganggu! (emot love)” ujar Cinta Laura di cuitan Twitternya. Cuitan itu juga dibarengi dengan unggahan foto dirinya sedang berpose mengenakan dress berwarna merah muda. Namun kini nampaknya tweet itu sudah hilang dari peredaran.

Memang—jujur saja—cuitan Cinta Laura itu membuat saya sedikit kesal. Taaapiiii, kalau ditelisik lagi, nggak ada salahnya juga sih Cinta Laura menyuarakan pendapatnya. Tapi tetap saja, sepertinya pendapat tersebut tidak bisa diterima oleh netizen yang sudah terlanjur lelah dengan kelakuan pemerintah. Masalah datang seakan tiada henti yang membuat masyarakat geram dan keadaan yang masih panas belakangan ini. Berbagai macam kritik dan komentar pun dilontarkan kepada Cinta Laura, kebanyakan sih berupa hujatan netizen yang diterima Mbak Cinta.

Di dalam tulisan ini, saya tidak sedang mencoba membela Cinta Laura. Akan tetapi, sepertinya ada yang salah dengan segala komentar dan argumen para netizen di sini. Jika dilihat dari banyaknya cuitan dan komentar warga Twitter mengenai Cinta Laura, tidak jarang dari mereka yang akhirnya mengungkapkan amarah lewat ujaran kebencian kepada Cinta. Seperti cuitan salah satu warga Twitter yang berbunyi seperti ini; “Cinta Laura is such a typical white girl” atau juga seperti ini; “Can Cinta Laura stfu (shut the f*ck up) and go back to Germany? Nobody needs your white privileged ass here”.

Tidak cukup sampai di situ, nitizen Twitter juga menyerang pribadi Cinta Laura. Seperti sabda salah satu netizen bernama di Twitter ini; “Cinta Laura has white privilege & upper-class privilege. What makes her so brave think she knows how the protesters feel & has the right to tell them what to do? This singlehandedly proved that academic achievements don’t mean you have brain cells lmao I’ve had enough”. Kalian cari saja di kolom pencarian Twitter dengan nama Cinta Laura. Kedua cuitan tersebut pasti ada—kalau belum dihapus tapi yhaaa~ hehe

Belum lama kita semua berduka masalah rasisme Papua, Belum rampung kasus kita soal Papua, lalu kenapa kalian malah mengulangi kasus yang sama? Tidakkah kalian belajar wahai netizen yang budiman? Rasisme itu bisa terjadi pada siapapun! Rasis itu haram hukumnya untuk dilakukan oleh manusia.

Baca Juga:  Mencari Falsafah Hidup dari Film Anime

Cuitan kalian itu karena kesal Cinta Laura tidak menyetujui adanya aksi demo kan? Lalu apa kalian lupa bahwa pada isi tujuh tuntutan aksi mahasiswa, ada Papua di dalamnya. Kalian pikir peristiwa Papua ini dipicu oleh masalah apa? Kalau perlu diingatkan lagi, masalah Papua itu dipicu oleh masalah rasisme seperti yang baru saja kalian lakukan.

Lagi pula, memang tidak seharusnya sebuah argumen atau pendapat itu dibalas dengan cara menyerang pribadi penuturnya. Itu namanya sesat pikir yang bisa kita sebut sebagai Ad Hominem. Yaitu ketika seseorang menyerang secara pribadi atau personal daripada berfokus pada gagasan yang disampaikan oleh penuturnya. Apa yang dilontarkan oleh netizen kepada Cinta Laura jelas sekali merupakan perilaku sesat pikir Ad Hominem ini. Mulai dari menyerang ras hingga tingkat pendidikan. Sayangnya, perlakuan seperti ini marak sekali terjadi dan dilakukan (baik secara sadar ataupun tidak) oleh netizen Indonesia.

Kita seringkali menemukan perdebatan tak berujung di media sosial. Sungguh sulit rasanya menemukan perdebatan yang mencerahkan pikiran ini. Mayoritas malah bikin makin pusying karena perdebatan yang sarat akan aktivitas sesat pikir tadi.

Cinta Laura berusaha menyanggah argumen yang sebelumnya dengan membuat pernyataan bahwa demo yang dilakukan di Indonesia selalu berujung anarkis, maka harus dicari jalan lain yang lebih baik dibanding demo. Memang seperti itulah yang seharusnya dilakukan. Argumen harus dibalas dengan argumen yang relevan, bukan malah menyerang identitas pribadinya atau membandingkan diri penuturnya dengan pribadi lain. Dalam hal ini Cinta Laura dibandingkan dengan selebgram Awkarin. Hal ini jelas tidak relevan dengan gagasan atau argumen yang Cinta lontarkan.

Fenomena sesat pikir Ad Hominem ini seringkali disandingkan atau disamakan dengan ujaran kebencian. Banyak orang dari berbagai kalangan seringkali melabeli orang lain dengan cara Ad Hominem ini. Perilaku sesat pikir itu tentu saja meresahkan karena dapat menimbulkan berbagai permasalahan sosial. Seperti rasisme tadi misalnya.

Baca Juga:  Belajar Ikhlas dari Berbenah ala Marie Kondo

Maka dari itu, mari kita belajar lagi untuk berpikir sebelum berbicara, bukan berbicara dulu baru berpikir. Mari kita belajar lagi soal cara berargumen yang baik dan benar. Agar kita tidak menjadi bagian dari permasalahan, tapi menjadi bagian dari solusi.

Mari lebih berusaha lagi untuk saling mencintai dan menghargai, agar supaya dua dunia ini (dunia nyata dan dunia ghaib maya) menjadi ruang diskusi yang sehat, menjadi ruang yang nyaman untuk siapa saja. Bukan cuma untuk kaum yang sedang jatuh cinta~ (*)

BACA JUGA Kalau Aksi Mahasiswa Jadi Revolusi, The Revolution Will Be Cute As Hell! atau tulisan Nuraini Dewi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
15


Komentar

Comments are closed.