Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

KA Prameks, Juru Selamat Warga Purworejo dari Rutinitas Motoran ke Jogja yang Melelahkan

Riko Prihandoyo oleh Riko Prihandoyo
23 Maret 2026
A A
Menyetel Konten Dakwah itu Baik tapi Tidak dengan Suara Keras di Dalam Prameks kereta prameks

Menyetel Konten Dakwah Memang Baik, tapi Tidak dengan Suara Keras di Dalam Prameks (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

KA Prameks menyelamatkan warga Purworejo agar tetap aman, nyaman, dan yang jelas, tetap waras saat sampai di Jogja

Ada momen dalam hidup ketika naik motor dari Purworejo ke Yogyakarta tidak lagi terasa seperti perjalanan, tapi lebih mirip bentuk lain dari menyiksa diri secara sukarela. Awalnya saya juga tidak merasa begitu. Naik motor ya sudah, dijalani saja. Sampai suatu hari, di tengah panas dan angin yang rasanya punya niat jahat, saya mulai sadar: ini bukan soal kuat atau tidak, tapi soal mau terus-terusan capek atau tidak.

Coba saja Anda menaruh diri di sepatu yang sedang saya kenakan, setengah perjalanan saja sudah cukup untuk bikin Anda paham maksud saya. Truk lewat seenaknya, debu yang sudah mulai akrab dengan wajah, dan badan mulai mempertanyakan keputusan yang diambil pagi itu. Di situ saya akhirnya paham, ada batasnya jadi manusia yang “kuat”.

Di titik itu, saya mulai melirik alternatif lain: KA Prameks. Dan anehnya, justru dari situ saya menemukan sesuatu yang selama ini saya cari.

Tidak lama setelah itu, saya berdiri di Stasiun Jenar. Niatnya sederhana: parkir motor, naik KA Prameks, duduk tenang, sampai Jogja tanpa drama. Tapi yang justru menarik perhatian saya bukan keretanya, melainkan parkiran motornya yang rame.

Motor berjejer rapi, jumlahnya tidak sedikit. Saya langsung merasa seperti orang yang telat sadar. Ternyata banyak yang sudah lebih dulu menemukan cara hidup yang lebih waras.

Itu berarti satu hal: banyak orang Purworejo yang ke Yogyakarta, tapi tidak ingin sampai sana dalam kondisi setengah stres, makanya mereka naik kereta. Dan kalau dipikir-pikir, itu sangat masuk akal.

BACA JUGA: Kereta Prameks Nggak Ramah untuk Lansia, Harus Jalan Sangat Jauh dan Penumpangnya Masih Kurang Kesadaran!

Baca Juga:

4 kebiasaan warga Jogja yang biasanya menular ke pendatang

Darurat ruang terbuka hijau, warlok Kota Jogja harus mampir daerah tetangga untuk sekadar duduk-duduk di taman

KA Prameks penyelamat warga Purworejo

Sebenarnya, menggunakan motor ke Jogja itu bukan suatu hal yang amat menyiksa. Naik motor ke Jogja itu, dalam kondisi lancar, bisa makan waktu sekitar 1 sampai 1,5 jam. Itu pun kalau semuanya berjalan sesuai harapan: jalan tidak terlalu padat, cuaca tidak terlalu kejam, dan kita sendiri tidak sedang dalam kondisi mental yang rapuh.

Masalahnya, realitas jarang seideal itu. Sedikit saja meleset, perjalanan bisa terasa dua kali lebih panjang dan dua kali lebih melelahkan.

Sementara itu, KA Prameks datang tanpa banyak pretensi. Tarifnya Rp8.000, tapi yang dibeli sebenarnya bukan sekadar perjalanan, melainkan ketenangan. Kereta ini berhenti di beberapa titik seperti Stasiun Wojo dan Stasiun Wates sebelum akhirnya sampai Jogja. Jalurnya sederhana, tapi efeknya cukup signifikan: kita tidak perlu ikut drama jalanan. Tidak ada debu, asap knalpot yang membuatmu jerawatan, dan baunya merusak parfum mediokermu.

Di dalam kereta, suasananya cenderung jujur. Ada yang langsung tidur tanpa basa-basi, ada yang sibuk dengan HP, dan ada juga yang duduk dekat jendela sambil mencoba terlihat reflektif. Padahal, seringnya isi kepala tetap sederhana: nanti makan apa, pulang jam berapa, atau hidup ini mau dibawa ke mana yang biasanya tidak pernah benar-benar terjawab.

Begitu sampai di Stasiun Tugu Yogyakarta, saya turun tanpa perasaan capek yang berlebihan. Tidak ada emosi yang tersisa di jalan, tidak ada energi yang habis untuk hal-hal yang sebenarnya bisa dihindari.

Dan di situ saya akhirnya paham kenapa penitipan motor di Jenar bisa seramai itu.

Ini perkara tetap waras

Naik KA Prameks, bagi warga Purworejo, bukan soal malas. Ini soal pilihan yang lebih rasional. Bahwa tidak semua perjalanan harus ditempuh dengan cara paling melelahkan hanya demi terlihat kuat. Yang penting sampai Jogja dengan aman, selamat, tepat waktu, dan lebih penting, waras.

Jadi kalau masih ada yang setia naik motor setiap hari dari Purworejo ke Jogja, itu pilihan. Mungkin dia masih menikmati dramanya. Tapi buat yang pernah berdiri di parkiran Stasiun Jenar dan melihat kenyataan itu, satu hal jadi jelas: kewarasan ternyata juga bisa diparkir lalu dibawa naik kereta menuju Jogja.

Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Prameks, Kereta Api Andalan Warga Jogja-Solo yang Berulang Kali Revolusi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 Maret 2026 oleh

Tags: Jogjajurusan KA PrameksKA PrameksPurworejorute KA Prameksstasiun jenar purworejoStasiun Tugu Yogyakarta
Riko Prihandoyo

Riko Prihandoyo

Bekerja membantu usaha orang lain sambil menempuh pendidikan di Universitas Terbuka. Menulis ketika suasana hati memberi ruang, sembari terus belajar menyemangati diri sendiri.

ArtikelTerkait

Kasta Helm di Jogja: BMC dan GM Mutlak Dimiliki Gondes Bantul, Cargloss Dipakai Warga Sleman

Kasta Helm di Jogja: BMC dan GM Mutlak Dimiliki Gondes Bantul, Cargloss Dipakai Warga Sleman

20 Maret 2025
Danais Jogja Triliunan, tapi Mbah-mbah di Jogja Tetap Tidur di Trotoar

Danais Triliunan, tapi Mbah-mbah di Jogja Tetap Tidur di Trotoar

12 September 2025
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Purwokerto, Purwakarta, Purworejo- Dilema karena Sebuah Nama (Unsplash.com)

Purwokerto, Purwakarta, Purworejo: Dilema karena Sebuah Nama

8 Agustus 2022
4 Alasan Saya Malas Belanja ke Transmart Maguwo Jogja yang Pernah Dipuja-puja Warga mojok.co

4 Alasan Saya Malas Belanja ke Transmart Maguwo Jogja yang Pernah Dipuja-puja Warga

5 Juli 2024
7 Tahun Kuliah di UNY Berakhir Jadi Tertawaan dan Beban (Unsplash)

Saya Sempat Menyesal dan Malu setelah 7 Tahun Kuliah di UNY, Berakhir Jadi Beban Keluarga dan Ditertawakan Banyak Orang

25 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

QRIS Dianggap sebagai Puncak Peradaban Kaum Mager, tapi Sukses Bikin Pedagang Kecil Bingung

Membayangkan Indonesia masa kini tanpa QRIS, transaksi akan benar-benar ribet

29 Juli 2026
Benteng Engelenburg sudah lenyap, tapi jasanya menandai hari jadi Klaten pada 28 Juli akan selalu diingat Mojok.co

Benteng Engelenburg sudah lenyap, tapi perannya untuk hari jadi Klaten akan selalu diingat

28 Juli 2026
Perempatan Jetis, Perempatan Paling Berpendidikan di Jogja Sejak Masa Kolonial

Perempatan Jetis Jogja adalah anomali, perempatan paling berpendidikan sekaligus meresahkan di Jogja

29 Juli 2026
Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali Mojok.co

Jatim Park memang bukan tempat wisata termurah, tapi Jatim Park jelas adalah tempat wisata terbaik, paling worth it, dan masih affordable, kok

30 Juli 2026
Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

30 Juli 2026
Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

31 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.