Jangan Naik Gunung, Bahaya!

Sebenarnya sih rencana naik gunung ini sudah sejak dulu sebelum kami lulus sekolah, untuk merayakan kelulusan. Tapi ya namanya orang baru lulus, missqueen.

Artikel

Avatar

Malam itu saya janjian dengan kawan saya, di salah satu warkop langganan kami untuk merencanakan pendakian. Sebenarnya sih rencana naik gunung ini sudah sejak dulu sebelum kami lulus sekolah, untuk merayakan kelulusan. Tapi yang namanya orang baru lulus—ya tau sendirilah, auto missqueen akhirnya kami undur setelah lebaran. Nah, untuk merayakan kami memilih pendakian saja ketimbang coret-coret baju, masa yang katanya generasi milenial merayakan kelulusan gayanya masih kolonial. hihihi

Baru saja duduk ternyata orang disebelah kami juga sedang merencanakan hal yang sama. Kami nguping soal apa yang mereka perbincangkan dan juga penasaran se-pro apakah mereka soal pendakian. Ya ternyata sama aja dengan kami-kami ini. Di tengah perbincangan mereka ada yang menarik bagi saya dan sudah menjadi persepsi banyak orang, kira-kira begini yang mereka katakan.

“Pendakian itu hobi mahal, Bro”, “sebenarnya pendakian itu hobi yang murah sih”, “kok aku jadi takut ya sekarang, banyak yang hilang soalnya”, “insyaAllah kita aman-aman saja”, saya kira tidak salah dengan apa yang mereka katakan.

“Pendakian itu hobi mahal”, boleh saja, karena alat-alat yang dimiliki serba sultan, ya pokoknya hypebestnya pendaki lah. Misalnya, dari yang dipakai mulai ujung kepala sampai kaki itu brand ternama dan mihil bingit, tas carriernya dari paris, sepatunya dari Italia, kau bilang demi gengsi semua serba luar negeri. Eh eh, jangan sambil nyanyi ya. Fyi, untuk pendakian ke puncak Carstensz Pyramid saja budgetnya Sampai 55 juta loh. Ya kali orang yang serba pas-pasan kayak saya 55 juta cuma buat muncak aja, megang uang 2 juta aja hanya beberapa jam gara-gara buat bayar SPP sekolah.

Kembali ke laptop, eh soal alat mahal. Nggak kok semua itu bukan demi gengsi, tapi kenyamanan dan kualitas dari barang tersebut. Misalnya carier atau tas. Nah, disetiap tas kan ada backsystemnya kan ya. Kalau backsystemnya nggak nyaman itu juga bakal jadi masalah, padahal pendakian saja sudah melelahkan apalagi kalau carriernya nggak nyaman dipunggung, sudah pasti deh dua kali lipat itu lelahnya. Fyi, kamu yang nggak tau backsystem, ini adalah bagian tas yang nempel dipunggung, dan harus benar-benar sesuai punggung. Kalau backsystemnya nyaman rasanya itu kayak dipeluk kekasihmu. wkwkwk

Baca Juga:  Di Medsos, Emak-emak Norak Lebih Menyebalkan daripada Cabe-cabean Kesepian

“Pendakian itu murah” mungkin gunung yang didaki tidak terlalu jauh dari rumahnya, alatnya rental, bisa jadi modal minjem temennya. hehe. Biaya transportasi cukup beli bensin 2 liter untuk pulang-pergi. Eh mas ato mba kalo alatnya masih minjem, ini bukannya pelit loh ya. Tapi, mbok ya plisss dong, alat itu dijaga jangan sembarang kalo makai. Yang punya aja di eman-eman kalo makai masa kamu yang modal minjem makainya ngawur. Kan badjingan.

Sebenarnya soal bahaya atau nggak, itu hal yang lumrah. Dimanapun tempat kalau nggak hati-hati ya bakal jadi bahaya buat kita, tapi kalo kita hati-hati ya mestinya bakal baik-baik saja kok. Terlebih dalam setiap tindakan dan bisa menghormati tempat tersebut, saya yakin bakal aman-aman saja.

Di setiap gunung ada pantangan dan setiap tempat punya aturan masing-masing. Coba deh, kamu yang baru mau melakukan pendakian, cari mentor dulu, tanya-tanya ke temennmu yang sudah pernah, minimal cari info lewat media, atau ngajak orang yang sudah kompeten, biar kalo terjadi sesuatu nggak bikin repot, dan nggak ngasal aja.

Untuk yang alat masih minjem atau fisiknya kurang kuat, kalau memang hobi pendakian kumpulin uang buat beli alat, biar punya alat sendiri minimal rental lah. Dan jangan lupa olahraga sebelum tracking, biar kalo foto-foto digunung kerennya lebih maksimal. Ya masa, alat masih minjem terus waktu tracking nangis, mau nyerah. Eh pas lagi foto gayanya amit-amit.

Saya hanya sebatas hobi saja, tidak se-kompeten orang-orang, yang bisa navigasi, PPGD, dan sebagainya. Tetapi setiap pendakian prinsip saya, saya harus ditemani orang yang profesional dan memiliki jam terbang tinggi sehingga tahu apa yang harus dilakukan ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Pertama kali saya mendaki muncul pertanyaan pada diri saya, “sebenarnya apa sih yang dicari seseorang ketika pergi ke gunung?” Akhirnya saya punya jawaban “gunung itu tempat menyepi, menyendiri dan introspeksi, serta untuk menguji ketabahan hati seseorang” maka tidak heran jika kebanyakan yang melakukan pendakian adalah orang-orang yang aktivitasnya di Kota dan penuh keruwetan.

Baca Juga:  Kampung PNS dan Pudarnya Pesona Merantau

Pas ramainya pemberitaan seorang pendaki hilang saya baru saja selesai pendakian lalu amblas pulang. Sesampai rumah baru saja naruh tas Ibu saya langsung bilang, “wes Iki terakhir, sesok ojo neh. Mosok raroh akeh sing ilang no gunung” (sudah, ini terakhir, besok jangan lagi, masa nggak tahu banyak yang hilang di gunung).

Saya hanya bisa diam sambil manggut-manggut karena yang beliau katakan memang benar, akhir ini banyak sekali yang hilang di gunung. Tapi kalau melihat dari setiap musim pendakian ya memang ada saja kejadian, cuman yang membedakan adalah pemberitaannya, sampai seviral manakah.

Contoh saja pada bulan Desember 2018 di gunung Arjuno dan Lawu, survivor Faiqus Syamsi dan Alvi mereka dikabarkan hilang saat pendakian dan tidak ditemukan. Menurut kabar terakhir Faiqus Syamsi sudah ditemukan namun hanya tinggal tulang belulangnya. Dan ada yang masih hangat, baru saja bulan Juni 2019 survivor Thoriq yang hilang di gunung Piramid dan ditemukan dalam keadaan utuh namun sudah meninggal. Dan masih banyak lagi.

Mari kita doakan yang terbaik saja untuk mereka. Tanpa harus mengatakan bahwa mereka hilang gara-gara disembunyikan jin, disesatkan atau apalah. Kita semua tidak tahu soal apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Pada akhirnya apa yang kita katakan adalah sok tau tanpa mau mencari tau terlebih dulu.

---
545 kali dilihat

23

Komentar

Comments are closed.