Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Apakah Saya Akan Mengizinkan Anak Saya Ikut Kegiatan Pecinta Alam?

Nursyifa Afati Muftizasari oleh Nursyifa Afati Muftizasari
14 Desember 2019
A A
Apakah Saya Akan Mengizinkan Anak Saya Ikut Kegiatan Pecinta Alam?
Share on FacebookShare on Twitter

Suatu hari, saya bercakap dengan teman saya terkait demo mahasiswa. Kami berdua, kelompok mahasiswa yang tidak ikut aksi kala itu. Sebuah percakapan ringan membuat saya bertanya, “Kalau kita ikut demo, apakah suatu saat kita akan mengizinkan anak kita juga ikut demo?”

Terjadi diskusi cukup panjang setelah pertanyaan itu. Baik-buruknya demo, kami masukkan dalam diskusi. Kami berdua mulai menempatkan posisi sebagai calon orang tua, yang pastinya harus bertanggung jawab terhadap anak kami.

Kami mendapat berbagai kesimpulan subjektif. Hingga akhirnya, saya jadi melanjutkan pertanyaan, “Besok, aku mengizinkan anakku ikut Pecinta Alam nggak ya?”

Tidak seheboh pertanyaan tadi. Kali ini diskusi tidak banyak terjadi, karena mungkin hanya saya yang paham bagaimana sebuah organisasi Pecinta Alam berjalan.

Tidak banyak diskusi. Tapi pertanyaan tersebut membuat saya jadi banyak bertanya. Saya anggota Pecinta Alam, jika suatu saat anak saya ingin mengikuti jejak saya, apakah akan saya izinkan? Saya paham cukup banyak hal-hal di dalam Pecinta Alam, baik dan buruknya, apakah itu bisa meyakinkan saya untuk memberi izin?

Saya mendapat berbagai hal positif dari kegiatan ini, baik dari segi ilmu kepecintaalaman maupun dari segi keorganisasian. Jika harus menjawab apakah Pecinta Alam adalah organisasi yang baik atau buruk untuk generasi muda, maka dengan yakin saya akan menjawab “baik”.

Namun ternyata, semakin dewasa saya jadi semakin bisa berempati dengan perasaan orang tua, terutama perasaan ibu (karena saya perempuan). Menjadi anggota Pecinta Alam tak lantas membuat saya langsung menjawab “iya” untuk pertanyaan tersebut. Di balik semua sisi baik dari Pecinta Alam, saya pun paham betapa banyak risiko dalam kegiatan di organisasi sejenis itu.

Saya anggota Pecinta Alam. Lima, sepuluh, dan berpuluh tahun ke depan, cerita tentang sepak terjang saya di dunia kepecintaalaman tak akan hilang dengan mudah. Suatu hari, anak saya mungkin memiliki perhatian pada dunia kepecintaalaman, entah itu ketertarikan atau justru sikap sentimental. Mau atau tak mau, siap atau tak siap, jika memang sudah saatnya, saya harus mengambil sikap, untuk menanggapi sikap dari anak saya.

Baca Juga:

Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi?

Dear Mahasiswa Baru, Tidak Semua Organisasi Layak untuk Diikuti, Banyak yang Akhirnya Cuma Bikin Kalian Depresi

Saya anggota di dua organisasi Pecinta Alam, di tingkat SMA dan tingkat universitas. Saya menjadi bagian dari dua organisasi tersebut. Saya paham cara main mereka. Saya bisa menarik persamaan dan perbedaan keduanya.

Saya pun sering berbincang dengan anak Pecinta Alam lain, tingkat SMA maupun universitas. Meski sedikit, saya punya gambaran terhadap organisasi mereka. Selain itu, tak jarang saya mencari informasi melalui media sosial tentang Pecinta Alam lain.

Saya punya sekian pengalaman dan referensi untuk jenis organisasi ini. Sehingga ada beberapa kesimpulan yang saya ambil dari semua itu, meski tetap subjektif.

Seperti yang saya sebutkan tadi, semakin dewasa, saya semakin punya rasa empati pada perasaan orang tua. Jika dulu saya banyak mengeluh tentang berbagai aturan (baik dari keluarga saya maupun keluarga teman-teman saya), kini saya mulai paham mengapa semua itu diperlukan. Jika dulu saya banyak protes terhadap larangan, kini saya mulai paham betapa semua larangan tersebut merupakan bentuk kepedulian orang tua terhadap anaknya.

Saya tidak pernah dilarang untuk berkegiatan di alam. Dua kali meminta izin ikut Pecinta Alam, selalu langsung diizinkan, selama saya bisa jaga diri. Semisal saya dilarang, dengan sikap saya yang cukup keras, mungkin saya akan menentang larangan tersebut.

Suatu hari nanti, jika anak saya meminta izin untuk hal yang sama, sejujurnya saya tidak bisa menjamin akan memberinya izin, dan saya pun tidak menjamin dia akan menurut jika saya larang (mengingat sikap keras kepala dari saya juga pasti sekian persen menurun ke dia).

Berbagai adegan perdebatan soal izin, mulai terlintas di pikiran saya. Mulai dari titik serunya, hingga titik menjengkelkannya. Punya anak yang banyak ide dan banyak protes, memiliki sisi positif dan negatif, yang harus ditanggapi dengan kebijaksanaan orang tua.

Kadang, kegiatan ini harus bertaruh nyawa. Kadang, satu dan lain hal membuat kami harus berhadapan dengan maut. Sebaik apa pun standar operasional dari sebuah organisasi Pecinta Alam, tetap saja… alam sering kali terlalu keras untuk manusia.

Saya berani untuk mengambil risiko tersebut atas seizin orang tua, tapi apakah saya akan ikhlas jika anak saya mengambil risiko yang sama? Sebuah pertanyaan berat, meski status saya masih “calon orang tua”.

Untuk saat ini, saya tidak bisa mengklaim sampai tahap melarang atau mengizinkan. Saya hanya bisa mengklaim bahwa saya tidak bisa ikhlas sepenuhnya. Sekian persen, saya anggap dia lebih baik melakukan kegiatan yang tidak berbahaya. Banyak kegiatan menarik lainnya, selain harus bertaruh nyawa (meski pada akhirnya semua kegiatan pasti punya risiko).

Tapi saya akan coba lihat sisi baiknya. Semua hal positif yang saya dapatkan selama menjadi anggota Pecinta Alam, tetap saja ingin saya turunkan pada anak-cucu saya. Nyatanya alam memang mengajarkan saya banyak hal, dan satu per sekian dari semua itu tidak bisa saya dapatkan di luar organisasi Pecinta Alam.

Jika saya di masa depan kembali membaca tulisan ini, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, pikirkan semua keputusan dengan matang, pikirkan dengan emosi yang sedang stabil. Kedua, jangan lupa diskusikan dengan suami, karena anak adalah tanggung jawab bersama. Ketiga, meski saya anak Pecinta Alam, cobalah untuk bersikap objektif semaksimal mungkin, carilah berbagai sudut pandang sebelum memutuskan.

BACA JUGA Menjadi Pecinta Alam Tanpa Naik Turun Gunung atau tulisan Nursyifa Afati Muftizasari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Desember 2019 oleh

Tags: ekstrakulikulernaik gunungorganisasiPencinta Alam
Nursyifa Afati Muftizasari

Nursyifa Afati Muftizasari

Lahir di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Mahasiswa Universitas Padjadjaran. Ikuti saya di instagram @afa_mufti.

ArtikelTerkait

Konten Naik Gunung Dzawin Nur Memang Lebih Menarik daripada Fiersa Besari, kok Terminal Mojok

Konten Naik Gunung Dzawin Nur Memang Lebih Menarik daripada Fiersa Besari, kok

12 Desember 2022
4 Opsi Pekerjaan biar Dapat Pemasukan sambil Kuliah terminal mojok.co

Menyoal Kuliah: Mau Ambisius Apa Chill Aja Ya?

26 Agustus 2019
Teruntuk Kaum Rebahan, Mari Kita Hilangkan Mental 'Ah Gampang, Bisa Diatur'

Teruntuk Kaum Rebahan, Mari Kita Hilangkan Mental ‘Ah Gampang, Bisa Diatur’

5 Januari 2020
naik gunung

Plis deh, Jangan Bawa-bawa Kebiasaan di Aspal ke Gunung

25 Juni 2019
gunung di bandung mojok.co

Rekomendasi 3 Gunung di Bandung yang Bisa Didaki Pemula

23 Maret 2022
Gantungan Kunci dan Stiker Adalah Oleh-oleh Paling Mbois dari Pendakian Gunung pada Masanya Terminal Mojok

Gantungan Kunci dan Stiker Adalah Oleh-oleh Paling Mbois dari Pendakian Gunung pada Masanya

21 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dibanding sound horeg, voli tarkam jauh lebih masuk akal buat event Agustusan  

Dibanding sound horeg, voli tarkam jauh lebih masuk akal buat event Agustusan  

12 Agustus 2026
5 Kuliner Madura selain Sate yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang Mojok.co

Jangan cuma mengingat stereotip negatifnya, nyatanya orang Madura itu jago banget masak

10 Agustus 2026
Sisi gelap tren gaya hidup minimalis: kami nggak belanja bukan karena aesthetic, tapi memang nggak ada duit

Sisi gelap tren gaya hidup minimalis: kami nggak belanja bukan karena aesthetic, tapi memang nggak ada duit

11 Agustus 2026
Alasan saya suka curhat ke AI, nyaman karena tidak dihakimi dan tidak menambah beban hidup orang lain Mojok.co

Alasan saya suka curhat ke AI, nyaman karena tidak dihakimi dan tidak menambah beban hidup orang lain

11 Agustus 2026
5 penderitaan jadi peneliti lapangan yang sering dikira pekerjaan enak karena jalan-jalan dan dibayar Mojok.co

5 penderitaan jadi peneliti lapangan yang sering dikira pekerjaan enak karena isinya jalan-jalan dan dibayar

11 Agustus 2026
Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu Mojok.co

Kadang orang ikut rewang bukan karena ingin membantu, tapi takut dihujat dan digibahin

12 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.